Asal Usul Kirab Kebo Bule Kyai Slamet di Solo

0 18

Asal Usul Kirab Kebo Bule Kyai Slamet di Solo

Tahun Baru Islam 1 Muharram 1440 Hijriah – Ini Asal Usul Kirab Kebo Bule Kyai Slamet di Solo 1 Muharram 1440 Hijriah tahun ini jatuh pada tanggal 11 September 2018. Beragam tradisi dan budaya menyambut pergantian tahun baru Islam dilakukan disejumlah daerah. Pun demikian dengan kota Solo, Jawa Tengah. Di Solo, peringatan malam tahun baru Islam Hijriyah atau malam 1 Sura dalam penanggalan Jawa selalu identik dengan Kirab Kebo (kerbau) Bule Kyai Slamet, milik Keraton Surakarta.

Bagi masyarakat Solo, dan kota-kota di sekitarnya, seperti Karanganyar, Sragen, Boyolali, Klaten, Sukoharjo, dan Wonogiri, Kebo Bule Kyai Slamet bukan lagi sebagai hewan yang asing. Setiap malam 1 Sura menurut pengganggalan Jawa, atau malam tanggal 1 Muharam menurut kalender Islam (Hijriah), sekawanan kebo keramat ini selalu dikirab, menjadi cucuk lampah sejumlah pusaka keraton.

Dalam kirab itu, Kebo Bule Kyai Slamet seakan menjadi sosok sentral. Jika Kebo Bule Kyai Slamet belum keluar kandang untuk memulai kirab dipastikan kirab pusaka keraton belum akan dimulai. Kebo bule menjadi sangat dikeramatkan dan merupakan salah satu pusaka penting Keraton Kasunanan Surakareta. Menurut kitab Babad Solo yang ditulis oleh Raden Mas Said, nenek moyang kebo bule adalah binatang kesayangan (klangenan) Sri Susuhunan Pakubuwono II (PB II).

Disebut bule karena warna kulit kerbau ini berwarna putih agak kemerah-merahan seperti warna kulit orang Eropa atau disebut dengan istilah bule.

Menurut cerita, kebo bule ini adalah hadiah dari Bupati Ponorogo untuk PB II bersamaan dengan pemberian hadiah utama yaitu sebuah pusaka bernama Kyai Slamet. Disertakannya kebo bule itu pada awalnya sebagai pengawal pusaka Kyai Slamet. Oleh karena bertugas sebagai pengawal Kyai Slamet inilah maka kemudian Kebo Bule pun disebut dengan nama Kyai Slamet.

Cerita itu sesuai dengan penuturan Wakil Pengageng Sasana Wilapa Keraton Surakarta, Kanjeng Winarno Kusumo.  Menurut Kanjeng Winarno Kusumo, Kebo Bule Kyai Slamet mempunyai sejarah panjang. “Nama Kyai Slamet tersebut sebetulnya adalah salah satu pusaka berupa tombak milik keraton.” “Pada jaman Pakubuwono ke-10, sekitar tahun 1893-1939, melakukan tradisi membawa pusaka Kyai Slamet keliling tembok Baluwarti pada hari Selasa dan Jumat Kliwon.” Winarno menambahkan bahwa tradisi dari Pakubowono X tersebut terus dilanjutkan oleh kerabat keraton dan sang kebo selalu mengikuti pusaka Kyai Slamet tersebut.

“Nah lama-lama kerbau tersebut diberi nama Kebo Kyai Slamet,” katanya. Menurut Winarno, keberadaan Kebo Kyai Slamet tersebut menjadi koleksi keraton Solo juga mempunyai sejarah. Kebo bule tersebut, menurut Winarno, adalah pemberian dari Bupati Ponorogo setelah mengetahui Pakubuwono II berhasil merebut kembali Keraton Kartasura dari tangan pemberontak Pecinan. Setelah itu, PB II pun akhirnya memilih hijrah ke desa Sala pada 20 Februari 1745.

“Mendengar PB II sudah bertahta kembali dan mendirikan negara Surakarta Hadiningrat, Bupati Ponorogo mengirim kerbau bule sebagai persembahan untuk dipotong. dan kerbau tersebut juga berkembang biak hingga sekarang,” kata Winarno. Sementara itu, dikutip Grid.ID dari Keraton.perpusnas.go.id, menurut sejarawan dari Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), Sudarmono, kemunculan kebo bule Kyai Slamet dalam kirab, adalah perpaduan antara legenda dan sage (cerita rakyat yang mendewakan binatang). Dalam pendekatan periodisasi sejarah, sosok kebo bule ditengarai hadir semasa Paku Buwono (PB) VI pada abad XVII.

PB VI merupakan raja yang dianggap memberontak kekuasaan penjajah Belanda dan sempat dibuang ke Ambon. ”Meski PB VI dibuang ke Ambon, namun semangat pemberontakan dan keberaniannya menghidupi rakyatnya. Dalam peringatan naik takhta, sekaligus pergantian tahun dalam penanggalan Jawa malam 1 Sura, muncul kreativitas menghadirkan sosok kebo bule yang dipercaya sebagai penjelmaan pusaka Kyai Slamet dalam kirab pusaka,” tambah Sudarmono. Keraton Surakarta tidak pernah menyatakan tlethong (kotoran) kerbau bisa mendatangkan berkah.

”Kalau tlethong dianggap menyuburkan sawah karena dapat dibuat pupuk, itu masih diterima akal. Namun kami memahami ini sebagai cara masyarakat menciptakan media untuk membuat permohonan. Mereka sekadar membutuhkan semangat untuk bangkit.” Dan bagi warga yang masih percaya, rela untuk mencari air bekas memandikan kebo bule bahkan kotoran kebo saat malam Satu Suro.

Source http://makassar.tribunnews.com/ http://makassar.tribunnews.com/2018/09/03/tahun-baru-islam-1-muharram-1440-hijriah-ini-asal-usul-kirab-kebo-bule-kyai-slamet-di-solo?page=4
Comments
Loading...