Asal Usul Kesenian Tepak Seeng dari Bogor

0 34

Awalnya kesenian ini tumbuh di Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor yang merupakan pusat aliran seni bela diri yang sangat terkenal, Cimande. Pada awalnya, atraksi Parebut Seeng disebut Tepak Seeng dan biasanya ditampilkan dalam salah satu acara yang terdapat dalam rangkaian upacara adat pernikahan. Kesenian ini kemudian menyebar ke berbagai tempat seiring dengan penyebaran aliran pencak silat Cimande ke berbagai wilayah di Kabupaten Bogor, antara lain sampai ke Kampung Sindang Barang, Desa Pasir Eurih, Kecamatan Tamansari. Diperoleh keterangan, bahwa pada sekitar tahun 1925, salah seorang warga Sindangbarang (waktu itu termasuk Kecamatan Ciomas) yang bernama Bapak Ujang Aslah bermukim di Cimande dan ia belajar pencak silat aliran Cimande dari Abah Haji Hasbulloh.

Setelah lima tahun mempelajari Penca Silat Cimande, kemudian ia kembali ke kampungnya dan mengajarkan pencak tersebut kepada salah satu keturunannya, yakni Ukat S. Ia, seperti juga ayahnya, kemudian mengajarkan aliran pencak tersebut ke berbagai kalangan di sekitar daerah Pasir Eurih. Pada tahun 2006, ia pun berusaha untuk menghidupkan kembali seni Parebut Seeng di bawah asuhan Lurah Pasireurih yaitu Bapak Etong Sumawijaya. Sejak tahun 1950-1970-an pencak silat aliran Cimande berikut atraksi Tepak Seeng yang kemudian dinamakan Parebut Seeng, berkembang dan menyebar ke berbagai tempat. Sepeninggalnya Bapak Etong Sumawijaya, kesenian tersebut dilanjutkan oleh salah seorang cucunya yang bernama Maki Sumawijaya hingga saat ini.

salah satunya di Sindang Barang. Pada mulanya KesenianSeni Parebut Seeng ini terkait dengan upacara adat pernikahan yang  dailakukan sebelum upacara akad nikah. pelaksanaannya dilakukan sebelum akad nikah, yakni setelah kedua belah pihak yang akan bebesanan saling memperkenalkan diri. kesenian ini dinamakan Tepak Seeng yang arti harafiahnya berarti menepuk dandang, kemudian berubah nama menjadi Parebut Seeng yang artinya kurang lebih sama yakni merebut dandang.

Dahulu, sebelum tahun 80-an, yakni ketika infrastruktur jalan dan transportasi belum berkembang pesat, keluarga calon pengantin pria untuk sampai ke tempat calon pengantin wanita, mereka berjalan kaki, seberapa pun jauhnya, diantar oleh kerabat dan handai-taulan sambil diiringi oleh tetabuhan kendang penca. Mereka membawa berbagai macam barang dan makanan untuk dipersembahkan kepada calon pengantin wanita, seperti macam- macam bumbu, makanan, alat-alat dapur, pakaian, sirih-pinang, bahkan kambing pun dituntunnya. Kini, setelah hal tersebut berkembang pesat, tradisi tersebut perlahan-lahan hilang.

Source http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/ensiklo-det.php?id=32&lang=id http://www.disparbud.jabarprov.go.id

Leave A Reply

Your email address will not be published.