budayajawa.id

Asal Usul Karanganyar

0 34

Asal Usul Karanganyar

Sejarah Karanganyar tidak bisa lepas dari Nyi Ageng Karang. Makamnya ada di Kelurahan Tegalgede, Kecamatan Karanganyar,” kata Kustawa Esye, Ketua Komunitas Kiai Damar Sesuluh Karanganyar. Esye yang biasa disapa Cak Kus memulai cerita sejarah Karanganyar, berawal dari pertemuan Nyi Ageng Karang dengan Raden Mas Said.

Nyi Ageng Karang adalah istri Pangeran Diponegoro dari Keraton Mataram di Kartasura, Sukoharjo. Sejarah mencatat suami dan istri itu berjuang melawan Belanda. Bahkan Nyi Ageng Karang membentuk laskar perempuan.

Seorang sesepuh masyarakat Karanganyar, Suparjono, mengatakan Nyi Ageng Karang juga dikenal sebagai Raden Ayu Diponegoro atau Raden Ayu Sulbiyah. Dia adalah istri Pangeran Diponegoro. Setelah Pangeran Diponegoro ditangkap Belanda dan diasingkan ke Afrika Selatan maka Nyi Ageng Karang mengasingkan diri di hutan belantara.

“Cikal bakal Karanganyar adalah Nyi Ageng Karang yang bertapa di hutan setelah suaminya ditangkap penjajah Belanda,” katanya.

Saat bertapa, Nyi Ageng Karang mendapat wangsit akan bertemu ksatria yang akan meneruskan cita-cita luhurnya. Ksatria tersebut akan dikawal tiga pengikutnya. Beberapa waktu kemudian, Nyi Ageng Karang bertemu dengan Raden Mas Said di dalam hutan belantara. Raden Mas Said dikawal oleh tiga pengikutnya.

Menurut Cak Kus “Singkat cerita, Nyi Ageng Karang bertemu dengan Raden Mas Said. Raden Mas Said ini cucu Nyi Ageng Karang. Mereka bertemu di padepokan Nyi Ageng Karang.’’

Sebagai tuan rumah, Nyi Ageng Karang menjamu cucunya yang juga dikenal sebagai Pangeran Sambernyawa. Julukan itu diberikan kepada Raden Mas Said karena kelihaian dan kedigdayaan mengalahkan tentara Belanda.

Saat itu, Nyi Ageng Karang menyuguhkan jenang bekatul dan burung tekukur. “Raden Mas Said tidak menyadari bahwa Nyi Ageng Karang sedang mengajarkan filosofi perang melawan tentara Belanda. Ya, lewat suguhan yang disajikan itu.”

Raden Mas Said menyantap jenang bekatul. Dia menyendok jenang dari tengah. Diceritakan bahwa Raden Mas Said kepanasan. “’Nak Mas Said, kalau makan jenang bekatul itu dari tepi lalu perlahan ke tengah.’ Kurang lebih seperti itu yang dikatakan Nyi Ageng Karang. Filosofi itu sama dengan strategi melawan tentara Belanda,” jelas dia.

Nyi Ageng Karang menyarankan Raden Mas Said menyerang tentara Belanda dengan strategi gerilya. Nah, burung tekukur yang juga disuguhkan kepada Raden Mas Said memiliki makna berbeda. Cak Kus menguraikan Nyi Ageng Karang menerima wangsit saat bertapa. Isi wangsit kurang lebih menyatakan barang siapa memakan burung tekukur akan menjadi raja.

Menurut Cak Kus “Raden Mas Said menjadi raja, yakni Raja Mangkunegara I. Raden Mas Said juga menuturkan tempat pertemuan itu akan menjadi keramaian zaman. Dia menamai Karanganyar karena merasa mendapat pencerahan baru.’’

Pria yang juga menjadi Pengurus Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Komisariat Kabupaten Karanganyar itu menceritakan Nyi Ageng Karang meninggal dan dimakamkan di barat masjid di Tegalgede, Karanganyar. Perluasan masjid membuat makam bergeser sekitar 2 kilometer. Lokasi makam Nyi Ageng Karang berada di tengah perkampungan.

Source Asal Usul Karanganyar Solopos Digital Media
Comments
Loading...