Asal – Usul Adat Istiadat Suku Tengger Bromo

0 31

Asal – Usul Adat Istiadat Suku Tengger Bromo

Tengger, salah suatu dataran tinggi di Jawa Timur, kerap dikait-kaitkan dengn nama suku setempat yakni suku Tengger. Asal usul suku Tengger Gunung Bromo sendiri bila dikilas balik kembali berawal pada suatu masa pemerintahan dinasti Brawijaya di Majapahit. Alkisah bergembiralah sang ratu berikan anak yang saat lahir tidak menangis seperti lazimnya anak baru lahir. oleh sebab itu keistimewaannya, bayi tersebut diberi nama ” RORO ANTENG “. Sementara itu di sebuah pertapaan, istri seorang Brahmana / Pandhita baru saja melahirkan seorang putra yang fisiknya sangat bugar dengan tangisan yang sangat keras ketika lahir, dan karenanya bayi tersebut diberi nama ” JOKO SEGER “. 

Disaat beranjak dewasa, keduanya pun telah saling jatuh cinta, sementara itu keadaan di kerajaan Majapahit sedang terjadi kemerosotan moral para pejabat kalangan istana yang berbuah kemunduran kerajaan. Beberapa orang kepercayaan istana serta sebagian keluarganya memutuskan pergi kewilayah timur. Dan sebagian besar dari mereka juga hijrah ke kawasan pegunungan Bromo – Semeru, termasuk Roro Anteng serta Joko Seger. Sekian lama mereka memimpin rakyat diwilayah ini, hati mereka masih saja merasa hampa serta sedih dikarenakan belum dikaruniai buah shati satupun. Beranjaklah Joko Seger dan Roro Anteng bersemedi di puncak gunung Bromo, dan akhirnya harapan mereka pun dikabulkan Hyang Kuasa.

Terlihatlah suatu pertanda lidah api yang bersinar terang keluar dari kawah gunung Bromo, yang mana hal ini menjadi pertanda yang mengungkapkan bahwa mereka akan hidup sejahtera, beranak – pinak hingga seluruh keturunannya memenuhi kawasan tersebut. Dalam sanubari hati mereka mengucap syukur kepada Sang Murbeng Pasti serta mengucap kaul akan mengorbankan putra bungsunya ke gunung tempat dimana mereka mereka bersemedi. lalu Roro Anteng mengandung anak pertama yang berjenis kelamin laki-laki diberi nama temenggung Klewung, tak terasa waktu demi waktu berjalan sekian lama. Roro Anteng serta Joko Seger dikaruniai 25 orang anak laki-laki, yang bungsu diberi nama Raden Kusuma.

Setelah mereka dikaruniai sekian banyak anak, tiba saatnya mereka harus korbankan si bungsu. melainkan mereka tidak tega melakukannya terhadap anaknya yang begitu disayangi. Singkat cerita, mereka tidak pernah melaksanakan kaulnya itu, justru bersama kedua puluhlima anak-anaknya dari mereka, Joko Seger serta Roro Anteng mencoba bersembunyi, dengan si bungsu diletakkan di tengah – tengah di antara saudara – saudaranya. tetapi tidak disangka-sangkaa, pada bulan Kasada, gunung tempat Roro Anteng dan Joko Seger bersembunyi mengeluarkan api, yang bahkan menjilat serta menyeret Raden Kusuma putera bungsunya itu ke dalam kawah.

Selesai bencana tersebut, Terdengar suara gaib yang berkata yang muncul dari kegelapan :” Hai saudara-saudaraku yang masih hidup, hiduplah rukun serta abadi, Agar saya Dewa Kusuma menghadap Hyang Kuasa mewakilkan saudara-saudara sekalian untuk memenuhi janji orang tua kita kepada Hyang Kuasa , Camkanlah selalu tiap bulan Kasada, kenanglah dengan mengirim hasil tani kalian. ” Hingga sekarang adat istiadat Upoacara Kasada dilakukan secara turun menurun menjadi upacara yang digelar dengan nama UPACARA KASADA. panggilan suku Tengger sendiri adalah gabungan kata dari nama Roro anTENG dan joko seGER, leluhur suku Tengger Bromo yang bermukim di Kawasan Gunung Bromo-Tengger-Semeru. Seperti sifat masyarakat suku Tengger, Tengger pun bermakna TENGGER ING BUDI LUHUR yang berarti : Tempat Tinggalnya Orang – Orang Yang BERBUDI LUHUR.

Source http://www.wisatagunungbromo.com/ http://www.wisatagunungbromo.com/asal-usul-adat-istiadat-suku-tengger-bromo.html
Comments
Loading...