Asal Mula Kesenian Besutan Jombang

0 765

Asal Mula Kesenian Besutan Jombang

Besutan berasal dari kata besut, merupakan salah satu tokoh dalam pertunjukan Besutan. Sebelumnya disebut Lerok dan kemudian Ludruk. Besut juga berasal dari bahasa jawa yaitu mbesut yang berarti membersihkan yang kotor atau menghaluskan atau mengulas. Adapun yang dibersihkan, dihaluskan, dan diulas adalah isi pertunjukan. Mulai dari bentuk yang sangat sederhana, ditingkatkan agar lebih baik, sehingga maknanya yang tersirat dapat diulas oleh penonton.

Besut juga merupakan akronim dari mbeto maksud (membawa maksud). Maksud yang dibawa adalah isi pertunjukan, yaitu yang terkandung dalam kidungan, busana, dialog, maupun cerita. Tokoh Besutan di jombang tidak mengenal adanya Ludruk Bandan, Ludruk Besep, Ludruk Besutan. Mereka lebih mengenal istilah Lerok, Besutan, Ludruk. Walaupun secara rinci periode Ludruk di atas bentuk pengembanganya sama, yaitu mulai Lerok sampai Besutan hingga menjadi Ludruk.

Masyarakat Jawa Timur pada umumnya adalah masyarakat agraris, hampir seluruh wilayah pelosok Jawa Timur penduduknya berpenghasilan dengan bercocok tanam atau bertani. Daerah Jombang rata-rata masyarakat yang ada di pelosok desa berpenghasilan dari bertani, hasil dari bertani terkadang kurang untuk mencukupi hidup sehari-hari. Dari latar belakang inilah, sekitar tahun 1907 seorang penduduk  yang setiap harinya bekerja sebagai petani dari desa Ceweng, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang yang bernama Pak Santik yang mempunyai wajah lucu (penuh humor), berinisiatif untuk menambah penghasilan dengan mengamen.

Ngamen  yang dilakukanya diiringi musik lisan atau musik mulut, setelah ia berkenalan dengan Pak Amir, asal Desa Plandi, mereka berdua memulai ngamen dengan menggunakan alat musik kendang. Perkembangan selanjutnya ialah dengan diajaknya Pak Pono sebagai kelompok ngamenya untuk menarik masyarakat penonton. Pak Pono mengenakan busana wanita dengan sebutan wedokan (hadirnya travesti pada awal abad ke-20).

Mereka bertiga ngamen dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Mereka mempunyai semboyan yang berbentuk pantun atau parikan (bahasa jawa) sebagai berikut:


Keyong nyemplung neng blumbang
Tinimbang nyolong aluwung mbarang
(keong masuk ke kolam daripada mencuri lebih baik mbarang/ngamen).

Masa ngamen yang dilakukan oleh ketiga seniman alam itu diperkirakan terjadi tahun 1907 sampai dengan tahun 1915. Periode inilah yang disebut periode ngamen. Istilah yang muncul dikalangan masyarakat jombang pada waktu itu ialah lerok. Para pengamen yang muncul wajahnya dirias model coretan agar tampak lucu dan sulit dikenali wajah yang sebenarnya. Dalam perkembangan selanjutnya timbulah istilah lerok ngamen yang berasal dari kata lorek ngamen (wong lorek ngamen). 

Kesenian lerok ngamen mendapat sambutan yang besar dari masyarakatnya, sehingga rombongan ngamen itu sering diundang ke tempat orang orang yang mempunyai hajatan (penganten, sunatan, ngruwat dan lain lain) dengan sebutan nanggap lerok.

Sebelum pementasan dimulai, di dahului dengan serangkaian upacara selamatan, dengan perlengkapan sesaji yang terdiri atas:

  1. Suruh ayu, kinangan lengkap dengan daun sirih berwarna kuning.
  2. Pisang ayu, pisang raja satu tandan.
  3. Kain putih (bahasa jawa lawe).
  4. Uang logam (bahasa jawa dhuwit saren).

Pementasan Lerok ini dilakukan di halaman, dengan cara sebagai berikut:

  1. Dalam keadaan panggung masih sepi, seorang pemain naik ke pentas (arena pementasan) dengan membawa lampu obor (lampu penerangan).
  2. Pembawa lampu obor tadi diikuti pemain kedua, dengan wajah tertutup kain putih pada mulutnya tersisip tembakau (bahasa jawa susur).
  3. Setelah berada di pusat pertunjukan, pemain lerok member hormat keempat penjuru arah (kiblat papat) dengan gerakan searah dengan jarum jam, lalu tembakau yang di mulutnya dibuang dan kain penutup wajah dibuka.

Dari serangkaian upacara ritual sesaji tersebut, masing- masing memiliki simbol (lambang) yang mempunyai makna sebagai berikut:

  1. Keadaan yang masih sepi menggambarkan keadaan dunia atau keadaan kosong, belum terjadi sesuatu peristiwa.
  2. Wajah yang tertutup berarti belum memahami isi dunia.
  3. Mulut tertutup dengan tembakau berarti mulut harus dijaga dengan baik dan dilarang berbicara sebelum sesaji berakhir.
Source Asal Mula Kesenian Besutan Jombang Josstoday.com
Comments
Loading...