Asal Muasal Wayang

0 34

Asal Muasal Wayang

Perkataan wayang mengandung berbagai pengertian, yakni ‘gambaran tentang suatu tokoh, boneka, atau boneka pertunjukan wayang, berjalan berkali-kali, lalu lalang, tidak tetap, samar-samar, remang-remang’ (Sri Mulyono, 1982). Hazeu (1979) mengatakan bahwa kata wayang berkaitan dengan kata hyang, yang berarti ‘leluhur’. Akar kata hyang adalah yang, maksudnya bergerak berkali-kali, simpang siur, lalu lalang, melayang. Oleh karena itu wayang dapat pula berarti suksma, roh, yang melayang, yang mengitar. Jadi makna dan arti hyang dapat dirinci menjadi dua, yakni (1) suksma, roh, (2) orang telah meninggal (leluhur). Maka dari itu dalam pertunjukan wayang purwa itu menghasilkan bayangan (wayangan), sehingga dinamakan wayang atau shadow play ‘pertunjukkan atau permainan bayangan.

Wayang adalah sebuah kata bahasa Indonesia (Jawa) asli yang berarti “bayang” atau bayang-bayang yang berasal dari akar kata “yang” dengan mendapat awalan “wa” menjadi kata “wayang”.

Kata-kata di dalam bahasa Jawa yang mempunyai akar kata “yang” dengan berbagai variasi vokalnya antara lain adalah: “layang”, “dhoyong”, “puyeng”, yang berarti: selalu bergerak, tidak tetap, samar-samar  dan sayup-sayup. Kata “wayang”, “hamayang” pada waktu dulu berarti: mempertunjukkan “bayangan”. Lambat laun menjadi pertunjukan bayang-bayang. kemudian menjadi seni pentas bayang-bayang atau wayang.

Dalam menentukan asal-muasal wayang sampai sekarang ini masih terjadi kerancuan. Sementara beberapa sarjana mengatakan bahwa wayang berasal dari India, ada pula yang mengatakan berasal dari Indonesia (khususnya dari Jawa), dan pendapat lain mengatakan berasal bahwa wayang merupakan produk Hindu – Jawa. Kerancuan dalam menentukan asal-muasal wayang ini dikarenakan sedikitnya data kongkrit, perbedaan disiplin ilmu yang digunakan untuk mendekati masalah, serta perbedaan tentang maksud dari asal-muasal atau asal-usul.

Penganut paham evolusi kultural berpendapat bahwa asal-muasal wayang dan semua teater boneka di dunia, bisa timbul di mana saja, karena hampir semua bangsa di dunia mempunyai gagasan. Sebaliknya kaum antropologi struktural berpendapat bahwa asal-muasal wayang teaternya berasal dari Jawa karena wayang hidup dan berfungsi dalam masyarakat Jawa saja. Karena dimana bumi tempat berpijak akar-akar itu amat penting artinya bagi kehidupan sesuatu untuk deskripsi budaya. Sesuatu ekspresi kemanusiaan tak dapat dipisahkan dari kultur yang menghidupinya, karena ia mempunyai arti apabila ia berfungsi dalam struktur dari kultur itu (Hamzah Amir, 1991).

Hazeu (1979) berpendapat bahwa asal-muasal wayang berasal dari Jawa asli, bukannya meniru atau mencontoh dari Hindu, dengan argumen:

(1) nama-nama peralatan wayang semua adalah kata asli Jawa

(2) adanya wayang itu sudah semenjak sebelum bangsa Hindu datang ke Jawa

(3) struktur lakon wayang digubah menurut model yang amat tua

(4) cara bercerita ki dalang (tinggi rendah suaranya, bahasanya, dan ekspresi-ekspresinya) juga mengikuti tradisi yang amat tua

(5) desain teknis , gaya susunan lakon-lakon ini juga bersifat khas Jawa.

Melihat hal-hal demikian Hazeu menyimpulkan, bahwa pertunjukkan wayang adalah bentuk teater yang amat tua usianya dan wayang meskipun tumbuh dari upacara-upacara penyembahan nenek moyang, atau wayang mempunyai bagian dari agama lama.

Penelitian mutakhir yang dilakukan oleh Hamzah Amir (1991) ternyata lebih rinci dalam meninjau asal-muasal wayang. Beliau mengemukakan bahwa para sarjana Barat dalam meneliti asal-muasal wayang, dapat digolongkan menjadi dua kelompok. Pertama kelompok Jawa, yang menganggap wayang berasal dari Jawa, dan kelompok ini diwakili oleh Brandes, Hazeu, Rentse, Kate, dan Kruyt. Kedua, kelompok India, yang menganggap wayang berasal dari India, karena India mempunyai teater wayang pada zaman kuno, teater ini menjadi model dari semua teater wayang di Asia, dan teater wayang India datang ke negeri-negeri Asia melalui penghinduan negeri ini di abad-abad permulaan Masehi. Kelompok ini diwakili oleh Pischel, Krom, Poensen, dan Rasser. Brandes juga berpendapat bahwa wayang adalah asli Jawa, seperti juga gamelan, batik, dsb. Wayang sangat erat hubungannya dengan kehidupan sosial, kultural, dalam religius bangsa Jawa. Tokoh seperti Semar, Gareng, Petruk, Bagong berasal dari Jawa, yakni para nenek moyang yang diper-Tuhan-kan. Bangsa India mempunyai bentuk wayang yang sangat berbeda dengan wayang Jawa, dan semua istilah-istilah teknis dalam pertunjukkan wayang adalah istilah-istilah Jawa dan bukan Sanskerta (Hamzah Amir, 1991). Pischel membuktikan bahwa asla-muasal wayang yang dari India itu berasal dari kata rupopajivane (terdapat dalam Mahabharata) dan kata rupparupakam (terdapat dalam Therigatha), keduanya berarti teater bayangan (Hamzah Amir, 1991). Namun pendapat ini lemah, karena kata-kata itu disebut dalam kitab-kitab itu secara sambil lalu saja. Krom, berpendapat bahwa wayang adalah suatu kreasi Hindu-Jawa, suatu sinkretisme. Alasannya:

(1) wayang hanya terdapat di daerah Jawa dan Bali, yaitu dua daerah yang paling kuat banyak mengalami pengaruh kebudayaan Hindu

(2) India lama telah mengenal teater bayang

(3) cerita-cerita wayang menggunakan atau berasal dari wiracarita India

(4) adanya hubungan wayang dan penyembahan arwah nenek moyang (baca Hamzah Amir, 1991; Sri Mulyono, 1982).

Dari uraian tentang teori-teori di atas, berarti belum dapat ditarik kesimpulan bahwa wayang berasal dari India atau asli Jawa. dan yang terpenting dari itu semua, kenyataan bahwa kita sekarang memiliki wayang dalam bentuk yang amat bagus, sempurna sebagai karya seni, apabila dibandingkan dengan bentuk kesenian tradisional yang lain. Keindahan, kesempurnaan kesenian tradisional wayang purwa ini salah satu penyebabnya adalah strategi berkelit dan beradaptasi, kreatif serta inovatif bangsa dalam menerima pengaruh dari budaya bangsa lain.

Source https://catatanwongndeso.wordpress.com https://catatanwongndeso.wordpress.com/2014/02/21/asal-muasal-wayang/
Comments
Loading...