Asal Muasal Nama Desa Prenduan

0 59

Asal Muasal Nama Desa Prenduan

Asal nama Prenduan dipercaya berasal dari Bahasa Madura arenduh, yaitu posisi ketika sapi atau kuda meringkuk. Menurut legenda di desa inilah tempat beristirahatnya kuda yang dinaiki Jokotole dalam perjalanan pulang dari kerajaan Majapahit menuju Kerajaan Songennep (nama asal Kabupaten Sumenep yang seringkali disebut dalam beberapa babad sejarah). Cerita lain menyebutkan bahwa desa ini merupakan tempat beristirahat pasukan berkuda Belanda jika dalam perjalanan dari Pamekasan menuju Sumenep. Lokasi desa memang hampir di tengah-tengah jarak antara kedua kota. Jarak ke Sumenep 30 Km dan jarak ke Pamekasan 24 Km.
Dahulu desa ini adalah tempat yang cukup hijau, ramai dan dekat dengan sumber air, masuk akal jika Jokotole maupun Belanda memilih tempat ini sebagai tempat istirahat. Beberapa peninggalan mata air yang masih ada hingga kini adalah sumber air yang terletak di tepi sungai satu-satunya yang melintasi desa. Penduduk desa menyebutnya “somor jerman”. Entah bagaimana sejarahnya mengapa sebutan jerman yang digunakan. Kemungkinan sumber air itu dieksplorasi pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan dibawah koordinasi ahli dari Jerman. Selain itu ada juga sumber air yang oleh seorang pengusaha Desa dibuat sebagai tempat pencucian mobil.
Sumber ini terletak di batas Desa yaitu di Desa Aengpanas yang disebelahnya juga terdapat sumber air panas dan mengandung belerang. Nama Desa ini “Aeng Panas” juga menunjukkan adanya sumber air panas yang terus menerus mengalir hingga kini. (Aeng Panas = Air Panas dalam bahasa Madura). Pada masa penjajahan Belanda desa ini merupakan pusat perdagangan yang sangat penting bagi kawasan sekitarnya.
Berdasarkan data yang ditulis oleh peneliti Belanda dari Universitas Neijmegen: Hubb de Jonge dalam desertasinya yang dilakukan di desa ini pada tyahun 1970-an dengan judul Madura dalam empat jaman: Pedagang, Perkembangan Ekonomi dan Islam bahwa di desa pada tahun 1920 terdapat enam pedagang yang memiliki modal dagang antara 4000 – 6000 gulden suatu jumlah yang sangat besar pada masa itu.
Transportasi utama perdagangan saat itu adalah dengan perahu layar dari pelabuhan Desa menuju beberapa pulau di Jawa Timur khususnya dan beberapa wilayah lain di Bali, Lombok, Makasar dan Kalimantan. Transportasi penting lain yang menjadi jalur transportasi utama darat menuju Pulau Jawa adalah dibangunnya jalur kereta api oleh Perusahaan Kereta Api Belanda : Madura Stoomtram Maatschappij pada tahun 1854 telah mendorong desa ini maju dengan pesat. Transportasi darat juga bersinggungan dengan transportasi laut yang menghubungkan dengan kota-kota pantai di bagian Utara Jawa Timur mulai dari Banyuwangi, Jember, Bondowoso, Situbondo, Pasuruan dan Sidoarjo. Bahkan ada beberapa di antaranya yang langsung berlayar ke Bali, Sumbawa, Makasar dan Kalimantan.
Source http://banigemma.blogspot.com http://banigemma.blogspot.com/p/sekilas-prenduan.html
Comments
Loading...