Karakteristik Tradisional Omah Adat Jawa

0 968

Karakteristik Tradisional Omah Adat Jawa

Rumah tradisional Jawa, disebut juga dengan omah adat Jawa. Arsitektur rumah Jawa ditandai dengan adanya aturan hierarki yang dominan seperti yang tercermin pada bentuk atap rumah.

Rumah tradisional Jawa memiliki tata letak yang sangat mirip antara satu dengan lainnya, tetapi bentuk atap ditentukan pada status sosial dan ekonomi dari pemilik rumah. Arsitektur kolonial Belanda merupakan salah satu yang mempengaruhi arsitektur omah Jawa. Pada abad ke-20 sudah berkembang arsitektur modern.

Sejarah

Relief di Candi Borobudur yang dibangun pada abad ke-9 juga menunjukkan bahwa rumah Jawa merupakan pola dasar dari rumah Austronesia. Kedatangan orang Eropa pada abad 16 dan 17 memperkenalkan batu dan batu bata dalam konstruksi rumah, yang banyak digunakan oleh orang-orang kaya.

Pada awal abad ke 19, rumah Hindia Belanda dibuat menyerupai rumah Jawa karena bentuk rumah yang mampu melawan panas tropis dan hujan lebat. Bentuk rumah tradisional Jawa juga mulai mempengaruhi perkembangan arsitektur Kolonial Belanda di Indonesia.

Hierarki Atap Rumah

Struktur masyarakat Jawa dan tradisinya, rumah-rumah tradisional Jawa diklasifikasikan menurut bentuk atap mereka dari yang terendah ke tertinggi, yaitu Kampung, Limasan, dan Joglo. Sehingga terlihat bertingkat.

Rumah Kampung

Atap rumah Kampung sebagai rumah dari rakyat biasa. Menurut Strukturnya, atap Kampung adalah atap yang paling sederhana. Atap puncak rumah Kampung bersandar pada empat tiang tengah dan ditunjang oleh dua lapis tiang pengikat.

Rumah Limasan

Atap Limasan digunakan untuk rumah-rumah keluarga Jawa yang memiliki status lebih tinggi. Jenis rumah ini adalah jenis yang paling umum untuk rumah Jawa. Denah dasar empat tiang rumah diperluas dengan menambah sepasang tiang di salah satu ujung atap.

Rumah Joglo

Atap Joglo adalah bentuk atap yang paling khas dan paling rumit. Atap Joglo dikaitkan dengan tempat tinggal bangsawan (Keraton, kediaman resmi, bangunan pemerintah, dan rumah bangsawan Jawa atau nigrat). Dahulu bentuk rumah ini hanya di miliki oleh para bangsawan, tetapi sekarang sudah banyak orang yang bisa memilikinya, sebab dahulu untuk membuat rumah ini membutuhkan bahan yang mahal.

Atap Joglo memiliki beberapa ciri khas yang membedakannya dari 2 jenis atap sebelumnya yaitu :

Atap utama lebih curam, sementara bubungan atap tidak sepanjang rumah Limasan. Dimana empat tiang utama yang mendukung atap di atasnya terdapat susunan khas berupa tiang-tiang berlapis yang diartikan sebagai tumpang sari.

Sedangkan, jika rumah Joglo terjadi kerusakan, proses perbaikan tidak boleh mengubah bentuk semula. Sebab dapat membawa pengaruh yang tidak baik bagi orang yang bertempat tinggal di dalam rumah tersebut.

Source Arsitektur Tradisional Omah Adat Jawa arsi tag
Comments
Loading...