Arak arakan & Mamanukan Subang

0 124

Arak arakan & Mamanukan

Arak-arakan Mamanukan adalah sebuah kesenian yang dikembangkan dari seni tradisi Sisingaan khas Subang. Jika kesenian Sisingaan menggunakan tandu dalam bentuk (hewan) singa yang kemudian ditunggangi penganten sunat, maka Mamanukan menggunakan bentuk hewan burung yang dipadukan dengan hewan lain seperti gajah, naga, dinosurus bahkan hingga Buroq.

Seni Mamanukan sendiri berkembang pesat di daerah Pantura Subang hingga Indramayu, Cirebon dan Karawang. Tak lagi menggunakan kesenian tradisional jaipong atau kendang pencak sebagai musik pengiringnya, arak-arakan Mamanukan ini akan diiringi oleh musik khas Pantura atau Cirebonan. Musik Pantura adalah seni musik yang berasal dari seni Tarling namun dirubah menjadi lebih menghentak.

Sehari atau dua hari sebelum menggelar walimatul khitan, masyarakat di Pantura Subang khususnya di Desa Muara Blanakan biasanya akan menggelar pertunjukan Mamanukan. Anak-anak baik berjenis kelamin pria ataupun wanita sebagai calon penganten sunat akan diarak berkeliling kampung menggunakan arak-arakan Mamanukan.

Selain Mamanukan, warga desa Muara juga sering mendatangkan kuda renggong yang menurut warga setempat disebut Jaran Urip. Saat arak-arakan berlangsung, beberapa ekor kuda akan berjejer dan turut membaur bersama Mamanukan atau Citot.

Arak-arakan juga akan bertambah meriah karena akan ada beberapa orang yang menari-nari mengenakan kebaya dan kain dengan memakai topeng yang bentuknya sedikit miring atau menyon. Anak-anak dan warga setempat menyebutnya Kedok Menyon. Saat arak-arakan berlangsung, Kedok Menyon akan berjoget di bagian belakang dan sengaja sedikit tertinggal dari rombongan agar bisa mencuri perhatian dan menghibur warga.

Selain arak-arakan atau Mamanukan, warga Desa Muara juga biasanya akan menggelar hiburan berupa organ tunggal, tarling, sandiwara dan sesekali wayang kulit saat Hari H prosesi walimatul khitan berlangsung. Menurut pengakuan beberapa warga, mayoritas anak-anak di desa Muara tak mau dikhitan atau disunat jika tak naik arak-arakan atau menurut warga setempat disebut Citot.

Belakangan, arak-arakan Mamanukan menjadi sebuah fenomena unik karena mampu menggeser Sisingaan sebagai budaya asli masyarakat Subang. Di kawasan Pantura Subang, Mamanukan lebih sering tampil karena konon lebih meriah dan lebih disukai oleh anak-anak daripada Sisingaan.

Tak hanya masyarakat di Pantura Subang, belakangan arak-arakan ‘jenis baru’ ini juga mulai digemari dan merambah ke wilayah tengah dan selatan Subang yang memiliki perbedaan dalam kultur budaya dan bahasa. Menurut beberapa kalangan, hal tersebut sangat mungkin terjadi karena arak-arakan jenis baru ini lebih meriah dan sangat digemari anak-anak.
Secara budaya, kesenian jenis baru yang lahir karena adanya percampuran atau asimilasi budaya ini tak lagi memiliki atau mewakili entitas seni masyarakat Subang. Kesenian jenis ini adalah kesenian modern berorientasi komersil yang mengadopsi budaya Sisingaan sebagai budaya asli Subang.

Source https://budaya-indonesia.org https://budaya-indonesia.org/Arak-arakan-Mamanukan/
Comments
Loading...