Anoman Obong, Pertunjukan Yang Menggembirakan Semua Orang

0 15

Anoman Obong, Pertunjukan Yang Menggembirakan Semua Orang

Dulce et utile, menyenangkan (kenikmatan) dan berguna (mendidik). Mungkin itulah yang bisa ditangkap dari sebuah pertunjukan yang dipersepsi sebagai ketoprak oleh komunitas Gereja Santo Alfonsus Nandan, Yogyakarta. Sekalipun dipersepsikan sebagai ketoprak, pertunjukan sebagai puncak acara dari Lustrum I Paroki Santo Alfonsus yang jatuh pada tanggal 4 Agustus 2017 ini dengan tegas diberi label Ludruk Ger-geran. Dari sisi istilah dulce mungkin pertunjukan ini memang dapat mencapai sasarannya. Terbukti semua penonton betah duduk berjam-jam mengikuti jalannya cerita. Artinya, penonton menikmatinya. Dari sisi utile mungkin juga pertunjukan ini juga bisa mencapai sasaran mengingat isi ceritanya tentang keburukan Rahwana yang mencuri Dewi Sinta dan perjuangan Anoman dan Rama dalam menegakkan kebenaran.

Hal yang menjadi persoalan mungkin ketidakjelasan identitas pertunjukan itu sendiri. Pasalnya jika pertunjukan ini disebut sebagai ludruk, maka ciri-ciri keludrukan itu sendiri bisa dikatakan tidak ada, kecuali pada aspek guyonannya yang pada sisi tertentu bisa dibaca sebagai guyonan yang umum dari sebuah lawakan yang disisipkan pada sisi-sisi pengadeganan seni pertunjukan. Apa yang disebut sebagai parikan jula-juli dan Tari Remo yang menjadi ciri khas ludruk tidak ditemukan dalam pertunjukan yang dilaksanakan di parkiran Gereja St Alfonsus dengan lakon cerita Anoman Obong ini.

Barangkali ludrukan yang dimaksudkan adalah pertunjukan seni drama tradisional dengan dialog seperti dialog keseharian yang di sana-sini penuh dengan kritik sosial dan guyonan. Hanya saja kostum wayang orang dan lakon dari penggal kisah Ramayana seakan menggiring penonton pada persepsi bahwa seni pertunjukan yang dipentaskan itu adalah wayang orang. Namun ketika orang menyimak iringannya yang bercampur baur dengan musik modern, tanpa keprak, dhodhogan, tembang, tarian khas wayang orang, dan dialog yang biasa, maka orang tidak bisa menangkap bahwa seni pertunjukan yang disaksikannya adalah wayang wong.

Orang pun akan kesulitan jika menangkap pertunjukan yang disajikan itu disebut sebagai ketoprak karena ciri khas ketoprak dalam pertunjukan ini juga tidak ditemukan. Ciri-ciri tersebut misalnya keprak, lakon, tembang, dan unggah-ungguh. Lakon dari perunjukan ini jelas lakon dari Ramayana. Unggah-ungguh dalam pertunjukan ini tampaknya memang diabaikan demi efek akrab dan ger-geran. Pun iringan gamelannya yang kerap kali seperti alpa atau sengaja tidak ditabuh yang justru karenanya menjadi muncul kesan lucu. Mungkin tidak salah juga jika kemudian orang-orang mengatakan bahwa hal itu sebagai “ketoprak bubrah”.

Apa pun itu pertunjukan ini mampu membawa kegembiraan yang memmbuncah pada semua orang yang hadir di tempat itu. Baik itu pemain sendiri, penonton, maupun panitia. Benar-benar sebuah pertunjukan yang menghibur, lepas dari identitas atau jati diri predikat jenis keseniannya itu sendiri yang pada sepanjang adegannya diselingi pembagian door prize, musik, koor, karawitan, dan lain-lain. Pertunjukan untuk umum ini pada sisi lain menciptakan perjumpaan yang akrab pada semua orang tanpa melihat latar belakang sosial, ras, agama dan sebagainya.

Source https://www.tembi.net https://www.tembi.net/2017/08/21/anoman-obong-pertunjukan-yang-menggembirakan-semua-orang/
Comments
Loading...