Adat Sunda Ngecagkeun Aisan

0 489

Adat Sunda Ngecagkeun Aisan

Ngecagkeun aisan adalah tahapan dari prosesi siraman. Pada prosesi ini, calon pengantin wanita yang keluar dari kamar secara simbolis yang digendong oleh sang ibu. Menggendong yang dimaksud di sini belum tentu berarti menggendong secara arti harfiah. Biasanya simbolisme ini dilambangkan dengan pengantin wanita dililit atau diais dengan kain putih yang melambangkan kesucian.

Calon pengantin wanita keluar dari kamar dan secara simbolis digendong oleh sang ibu, sementara ayah calon pengantin wanita berjalan di depan sambil membawa lilin menuju tempat sungkeman. Upacara ini dilaksanakan sehari sebelum resepsi pernikahan, sebagai simbol lepasnya tanggung jawab orang tua calon pengantin. Dalam melaksanakan adat ini ada beberapa properti yang digunakan, seperti :

  • Palika atau pelita yang berisi lilin tujuh buah. Hal ini mengandung makna yaitu rukun iman dan jumlah hari dalam seminggu
  • Kain putih, yang mengandung makna niat suci
  • Bunga tujuh rupa, mengandung makna bahwa perilaku kita, selama tujuh hari dalam seminggu harus wangi yang artinya baik.
  • Bunga hanjuang, mengandung makna bahwa kedua calon pengantin akan memasuki alam baru yaitu alam berumah tangga.

Langkah – langkah upacara ini adalah:

  • Orang tua calon pengantin perempuan keluar dari kamar sambil membawa lilin atau palika yang sudah di hidupkan dan berjumlah 7.
  • Kemudian di belakangnya diikuti oleh calon pengantin perempuan sambil dililit (diais) oleh ibunya.
  • Setelah sampai di tengah rumah kemudian kedua orang tua calon pengantin perempuan duduk dikursi yang telah dipersiapkan
  • Untuk menambah khidmatnya suasana biasanya sambil diiring alunan kecapi suling dalam lagu ayun ambing.

 

Source Adat Sunda Ngecagkeun Aisan salangit's blog
Comments
Loading...