Adat Sunda Lungkun

0 375

Adat Sunda Lungkun

Lungkun adalah salah satu adat atau tradisi yang dilakukan oleh para pengantin di Sunda. Lungkun di buat oleh kedua calon mempelai. Cara membuat lungkun di mulai dari menggulung daun sirih bertangkai. Bahan yang di gunakan seperti 2 lembar sirih ini di gulung menjadi satu dengan arah berhadapan, kemudian di ikat dengan benang kanteh. Saat menggulung daun tidak boleh di petik dari tangkainya.

Menggulung daun sirih ini berarti mempersatukan kedua hati calon mempelai. Hal yang semacam ini di yakini melambangkan kerukunan antar anggota keluarga. Menggulung sirih atau membuat lungkun ini juga ikut di lakukan oleh orang tua dari masing – masing mempelai, tak jarang pula orang – orang yang hadir di acara resepsi juga ikut menggulung daun sirih.

Setelah daun sirih dibuat lungkun kemudian kedua calon mempelai diminta mengunyah lumat sirih yang diberi bumbu pinang, gambir dan kapur sirih. Rasa pahit getir pada lungkuh ini memiliki makna bahwa setiap mempelai harus siap merasakan hidup pahit sebelum merasakan manisnya kehidupan kelak. Kemudian sisa sirih dan 7 buah tempat sirih yang telah diisi lengkap, ditambah padi, labu dan kelapa lalu dibagikan kepada para hadirin.

Hal ini juga mempunyai arti bahwa bila kelak kedua mempelai mendapat rezeki yang lebih di kemudian hari, pasangan ini harus dapat membagi kebahagiaan dengan sanak saudara dan handai taulan.

Setelah itu calon mempelai dipersiapkan untuk membelah mayang jambe. Dengan hati – hati, calon mempelai pria membelah mayang jambe supaya tidak rusak atau patah. Ini melambangkan bahwa seorang suami harus memperlakukan istrinya dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaan karena perasaan perempuan sangat halus.

Setelah itu, calon mempelai pria membuka bunga mayang berwarna putih kekuningan. Ini melambangkan bahwa kesucian seorang perempuan hanya boleh dibuka oleh suaminya.

Kemudian calon mempelai pria dipersilakan untuk membelah pinang menjadi dua bagian yang sama. Ini menyimbolkan harapan bahwa suami istri harus sejalan seiring setujuan seperti pinang dibelah dua. Seperti pepatah Sunda : “Sareundeuk – saigel, sabobot – sapihanen, sapapait – samamanis, kacai jadi salewi ka darat jadi salebak, silih asih, silih asah, silih asuh”.

Selanjutnya kedua calon mempelai dipersilakan untuk menumbukkan alu ke dalam lumpang. Duduk berhadapan, kedua calon mempelai bekerja sama melakukan tugasnya. Ini merupakan harapan agar keluarga baru ini tidak kekurangan pangan dengan mencari rezeki.

 

Source Adat Sunda Lungkun cara.pro
Comments
Loading...