Adat Pernikahan Daerah Pandeglang Banten

0 86

Upacara pernikahan secara tradisional hingga kini masih menjadi bagian dari kehidupan di sebagian masyarakat Indonesia. Pernikahan secara adat beragam sesuai dengan adat suku masing-masing, baik dari pihak perempuan maupun laki. Selain menurut adat, pernikahan di nusantara sebagian bergandengan menurut aturan agama.

Salah satunya adat pernikahan di Pandeglang, Banten. Adat pernikahan masyarakat Pandeglang secara lengkap saat ini sudah tidak dapat ditemui atau sudah punah. Namun beberapa tahapan hingga saat ini masih bisa ditemukan, terutama dengan menyesuaikan dengan pernikahan sesuai agama Islam. Misalnya ngabokor, yaitu kunjungan pihak pengantin laki-laki ke pihak perempuan dengan membawa berbagai bawaan. Hanya saja, beberapa barang bawaan tidak selengkan masa dahulu.

Harga diri lelaki masyarakat Pandeglang begitu tinggi dan mulia, meski perkembangan zaman merubah situasi itu menjadi kekinian dengan tafsir lebih sesuai dengan keadaan masyarakat masa pada zamannya. Tinggi harga diri lelaki, dan kesempurnaan adat pernikahan warisan moyang tahun demi tahun terlihat begitu memudar tahun di era tahun 1970-an hingga sekarang tidak ditemukan lagi prosesi demikian. Berikut ini adat pernikahan wawakil/ ngawakilan dari Banten.

Wawakil/Ngawakilan

Kedua calon pengantin memilih sosok yang dianggap sedia mewakili pihak laki-laki menyampaikan perniatannya meminang pengantin perempuan kepada orang tua mempelai perempuan.

Kesediaan terpilih menjadi juru bicara mempelai lelaki menyampaikan kesan pesan, dan kemudian mendatangi keluarga calon pengantin perempuan untuk merundingkan waktu kedua keluarga merundingkan prosesi ngabokor dilaksanakan.

Ngabokor

Ngabokor adalah proses keluarga mempelai lelaki mengunjungi keluarga mempelai perempuan, sembari membawa pelbagai macam bawaan termasuk bokor (tempat menyimpan sirih yang terbuat dari logam, berwarna emas), sebagai simbol diterimanya perniatan mempelai lelaki. Selain bokor tersebut, ada pula barang yang mesti dibawa lainnya seperti; lauk emas satenong, kejo sahancrungan, lauk bangbangan satenong, bakakak hayam satenong, daging lapis satibsi, sayuran satenong. Pelbagai kue tradisional seperti: pais cau, pasung, jojorong, gegemblong satenong. Bokor diisi sirih, gambir, bako, apu, dan jebug.

Mulangkeun bokor

Perundingan yang dilakukan pada proses ngabokor oleh kedua keluarga, selanjutnya persetujuan atas pernikahan kedua mempelai ditandai dengan pengembalian bokor yang diisi dengan uang sebesar seratus perak. Dan, apabila dari perundingan tidak menemukan restu pernikahan berdasar dari salah satu pihak mempelai, maka kerugian mesti diganti penuh, atas barang bawaan yang telah dibawa terdahulu.

Akad nikah

Terdahulu menurut penelusuran merahputih.com, masyarakat Pandeglang memiliki jeda waktu dari akad nikah menuju resepsi pernikahan. (Tapi itu tidak lagi dilakukan karena masyarakat Pandeglang memliki pandangan lain terhadap prosesi pernikahan). Diewekeun heula karak diramekeun, maksudnya akan nikah dahulu kemudian resepsi.

Diramekeun

Prosesi pernikahan dengan arak-arakan diiringi kesenian tradisional seperti terbang, dan gotongan yang membawa pelbagai hasil bumi. Saat ngarak atau pawai pengantin, sanak saudara dan tetangga ikut bersuka cita. Dan uniknya, jika mempelai lelaki tidak dijemput, kemungkinan besar mempelai lelaki sekeluraga tidak akan datang (menurut beberapa penuturan).

Begitu tiba di kediaman mempelai perempuan, prosesi Buka Pintu dilakukan dengan cara pintu ditutup oleh kain batik atau samping. Bahkan, seluruh dinding rumah ditutupi kain batik (hampir 50 kodi).

Proses Buka Pintu dilakukan seperti budaya di daerah lain yang memiliki tradisi serupa. Ada dialog terlebih dahulu dari wakil masing-masing rombongan. Dengan posiai rombongan lelaki berada di luar pintu rumah, sementara pihak perempuan berada di pintu dalam rumah. Seorang wakil memandu kedua belah pihak. Untuk kemudian bersama-sama bebuka mengucap salam.

Kedua belah pihak saling melontar tanya jawab, sampai ada satu mengalah dan terjawab semua pertanyaan pintu-pun dibuka. Seorang ustad lalu memimpin doa, kemudian pengantin perempuan dipapag atau diantarakan ke tempat duduk pengantin (puade).

Belum selesai sampai d isitu, pengantin perempuan satu minggu setelah resepsi pernikahan tidak boleh keluar. Sajen berupa menyan, kopi hitam, kopi susu, susu putih, susu coklat, teh manis, teh pait, dan air putih dalam kendi disimpan di tempat pangbeasan (sebuah gerabah tempat penyimpanan beras).

Juga seperangkat pakaian wanita seperti celana dalam, rok, bra, baju, dan kerudung disimpan di para (sebuah tempat bergantung tepat di atas perapian untuk memasak). Sebelum diramekun atau resepsi, dua hari sebelumnya kedua kelurga dilarang mandi dan membuang sampah.

Source https://merahputih.com/ https://merahputih.com/post/read/adat-pernikahan-pandeglang-yang-nyaris-punah
Comments
Loading...