Adat Istiadat Jawa : Upacara Membuka Ladang Ciptagelar

0 223

Pada saat akan memulai menanam padi baik di sawah maupun di ladang, sesepuh girang bersama para pembantunya berziarah ke makam nenek moyangnya yang berada di daerah Bogor Selatan dan Banten Selatan. Di hadapan pusara, sesepuh girang memanjatkan doa amit. Pada malam harinya, dilakukan upacara selamatan di rumah sesepuh girang yang dihadiri oleh para tokoh adat dan segenap sesepuh kampung. Menurut mereka, berbagai pelanggaran terhadap padi dan tata cara dalam pemeliharaannya, akan menimbulkan ketidakberhasilan panen (tidak sesuai dengan yang diharapkan).

Oleh karena itu mudah dimengerti apabila setiap siklus pertanian tidak lepas dari berbagai upacara, misalnya: upacara sasarapngabersihanngaseuk, tebar, mipitngadiukeunnganyaranponggokan, dan seren taun. Leuit bagi warga Kasepuhan Ciptagelar tidak hanya berarti gudang tempat penyimpanan padi melainkan berkaitan dengan kepercayaan mereka yakni simbol dari penghormatan mereka pada Dewi Sri (dewi penguasa dan pemelihara padi). Kepercayaan tersebut telah terinternalisasi dalam kehidupan mereka, sehingga berdasarkan kepercayaan mereka apabila padi tidak disimpan di leuit maka mereka bisa kabendon (celaka).

Manifestasi dari kepercayaan tersebut di atas adalah adanya kebiasaan, aturan atau pantangan/tabu yang berkaitan dengan leuit, misalnya : tabu menjual beras dan menggiling padi dengan heuleur (mesin perontok padi). Masyarakat diperbolehkan menjual padi dengan syarat padi yang dijual adalah padi hasil panen tahun.

Source ciletuhpalabuhanratugeopark.org ciletuhpalabuhanratugeopark.org/sambut-panen-ciptagelar-ke-648
Comments
Loading...