Adat Istiadat Jawa : Tingkeban, Upacara Tradisional

0 219

Tingkeban adalah upacara tradisional khas Sunda yang ditujukan kepada perempuan yang sedang hamil terutama pada usia kandungan 7 bulan. Maksud dari upacara ini adalah mendoakan si ibu dan anak agar selamat pada masa kelahiran. Tingkeban sendiri juga bertujuan agar si ibu hamil tidak boleh bercampur dengan sang lelaki sampai dengan masa kelahiran. Upacara Tingkeban ini banyak dilakukan oleh warga Sunda, baik di Kota Bandung maupun di seluruh wilayah tanah Pasundan.

Tingkeban atau disebut juga mitoni yaitu upacara tradisional selamatan terhadap bayi yang masih dalam kandungan selama tujuh bulan. Tradisi ini berawal ketika pemerintahan Prabu Jayabaya. Pada waktu itu ada seorang wanita bernama Niken Satingkeb bersuami seorang pemuda bernama Sadiya. Keluarga ini telah melahirkan anak sembilan kali, namun satu pun tidak ada yang hidup. Karena itu, keduanya segera menghadap raja Kediri, yaitu Prabu Widayaka (Jayabaya).

Oleh sang raja, keluarga tersebut disarankan agar menjalankan tiga hal, yaitu: Setiap hari rabu dan sabtu, pukul 17.00, diminta mandi menggunakan tengkorak kelapa (bathok), sambil mengucap mantera: “Hong Hyang Hyanging amarta martini sinartan huma, hananingsun hiya hananing jatiwasesa. Wisesaning Hyang iya wisesaningsun. Ingsun pudya sampurna dadi manungsa.” Setelah mandi lalu berganti pakaian yang bersih, cara berpakaian dengan cara menggembol kelapa gading yang dihiasi Sang Hyang Kamajaya dan Kamaratih.

Source miner8.com miner8.com/id/25953
Comments
Loading...