Adat Istiadat Jawa : Ngaseuk, Cocok Tanam Baduy

0 160

Ngaseuk merupakan salah satu tahapan dari proses bercocok tanam masyarakat Baduy yang masih mempertahankan pola pertanian tradisional berladang pada lahan kering atau yang disebut ngahuma. Bentuk kegiatan  ngaseuk ialah melubangi tanah dengan media tongkat kayu yang pada ujungnya telah diruncingkan. Pada umumnya kegiatan ini dilakukan secara bergotong-royong, terutama untuk menggarap lahan huma milik  lembaga adat (jaro tangtu dan jaro dangka).

Diperkirakan yang mengikuti kegiatan ini melibatkan sekitar 100 hingga 500 orang. Ngaseuk kegiatan yang penuh makna religiusitas khas masyarakat agraris, dimana dalam praktiknya banyak dirangkai oleh  ritual  upacara adat. Hal tersebut sehubungan dengan bentuk rasa penghormatan masyarakat Baduy terhadap Dewi Sri yaitu Dewi Kesuburan menurut ajaran Sunda Wiwitan yang ditahbiskan menjelma pada tanaman padi. Benih-benih padi yang akan ditanam terlebih dahulu mendapatkan perlakuan khusus secara adat, antara lain dimasukkan ke dalam perangkat pungpuhunan yang diletakkan di tengah bangunan saer (umbul-umbul terbuat dari janur kuning yang dibentuk seperti saung).

Malam sebelum keesokan harinya dilakukan ngaseuk, pemimpin adat memberikan jampi-jampi pada bibit padi yang di dalam pupuhunan tersebut, sementara sebagian yang lain memainkan alat musik angklung  dengan nada lagu marengo dengan berjalan mengelilingi bangunan saer dan hal serupa dilakukan satu kali lagi pada keesokan harinya. Selesai melakukan prosesi tersebut, benih padi kemudian dibagikan perempuan.

Source kanekes.desa.id kanekes.desa.id/2016/10/29/ngaseuk-penghormatan-budaya-dan-kedaulatan-pangan-masyarakat-baduy
Comments
Loading...