Adat Istiadat Jawa : Helaran (Kirab atau Arak-arakan)

0 233

Helaran masuk ke arena pertunjukan. 3 anak paling depan menunggangi jaran kepang, 4 remaja di belakangnya mengiringi dengan umbul-umbul warna-warni yang diikatkan pada sebatang bambu panjang. Di belakangnya lagi, 2 remaja mengusung tandu (jampana) yang diduduki seorang anak yang (digambarkan) akan dikhitan. Tak ketinggalan, payung songsong (payung agung atau payung kebesaran) yang dibawa seorang remaja lain, diposisikan sedemikian rupa di sebelah kiri raja kecil sehari ini – supaya ia terlindungi dari terpaan sinar matahari.

Pada masa lalu, selain berguna sebagai pelindung dari cuaca bagi pemakainya, payung ini juga berfungsi sebagai simbol prestise. Simbol kebanggaan yang menunjukkan status sosial dari kalangan mana pemakainya berasal. Maka jangan heran kalau kemudian ia dijadikan sebagai benda pusaka oleh para bangsawan hingga kalangan kerajaan. Pada bagian ekor helaran (kirab atau arak-arakan), belasan anak-anak dan remaja putri mengakhiri barisan seraya memainkan sebuah angklung di tangan masing-masing.

Dalam pakaian adat Sunda beragam warna, mereka semua tampak riang gembira menunjukkan kebolehannya. Formasi seperti ini bukanlah standar format baku, jika kalian mengiranya demikian. Kecuali kelompok pembawa tandu bambu (jempana) yang 4 orang, jumlah personil iring-iringan bisa berubah kapan saja tergantung situasi dan kondisi. Di kehidupan tradisional masyarakat Sunda, tradisi helaran seperti ini biasanya dilakukan untuk mengiringi upacara khitanan mau pun pada upacara panen padi.

Source simplyindonesia.wordpress.com simplyindonesia.wordpress.com/2015/07/29/helaran-khitanan-saung-angklung-udjo
Comments
Loading...