Adat Istiadat Jawa : Gunungan Hajad Grebeg Idul Adha

0 31

Memperingati Idul Adha, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menggelar Hajad Dalem Garebeg Besar Dal 1951 pada Rabu (22/8). Dalam acara garebeg tersebut tujuh buah gunungan dibuat oleh Keraton dan dibagikan kepada masyarakat. Ketujuh gunungan yang terdiri dari gunungan lanang, gunungan wadon, gunungan darat, gunungan gepak dan pawuhan ini keluar dari Keraton sekitar pukul 10.00 WIB. Dengan dikawal empat ekor gajah dan ratusan bregada turut mengawal ketujuh gunungan tersebut. Ketujuh gunungan ini kemudian dibawa ketiga lokasi.

Lima gunungan dibawa ke Masjid Gede Kauman, satu gunungan dibawa ke Puro Pakualaman, dan satu gunungan diberikan ke komplek kantor gubernur atau kepatihan. Hadirnya lima gunungan di Masjid Gede Kauman sudah ditunggu oleh ribuan warga. Melihat gunungan melintasi gerbang masuk ke Masjid Gede Kauman, ribuan warga pun bersiap untuk merayah gunungan yang terbuat dari hasil bumi ini. Manggalayudha Kraton Yogyakarta, Yudhaningrat menyampaikan tradisi garebeg sudah ada sejak Islam masuk ke Pulau Jawa. Garebeg sendiri, lanjut Yudhaningrat adalah bentuk sedekah dari raja kepada rakyatnya.

Tradisi grebeg sejak ada sejak Islam masuk Jawa, khususnya Demak. Dilakukan di Kraton Kota Gede, Kasunanan Surakarta, dan Kraton Yogyakarta. Ngarso Dalem (Sri Sultan Hamengku Buwono X) juga berkurban sapi dan kambing yang disebar di berbagai masjid tutup Yudhaningrat.

Source Merdeka merdeka.com/peristiwa/peringati-idul-adha-keraton-yogyakarta-bagikan-7-gunungan.html
Comments
Loading...