Adat Istiadat Jawa : Bubur Sura, Upacara Tahunan

0 195

Bubur Syura adalah sebuah upacara tahunan yang diselenggarakan setiap tanggal 10 Muharam. Upacara ini sama sekali tidak dikaitkan dengan hari Asyura, yakni hari peringatan atas wafatnya Imam Husein (cucu Rasulullah saw) dalam peristiwa di Karbala yang juga diperingati pada tanggal dan bulan yang sama. Upacara tersebut oleh masyarakat justru dikaitkan dengan peristiwa Nabi Nuh as. dan telah berjalan sejak lama. Akan tetapi, dalam pelaksanaannya juga dikaitkan dengan mitos Nyi Pohaci Sanghyang Sri.

Upacara tersebut diyakini masyarakat bisa mendatangkan berkat kesejahteraan dan ketenteraman. Pelaksanaannya mempunyai aturan tertentu dan memerlukan berbagai perlengkapan, antara lain tempat upacara, sesajen, benda-benda keramat, peralatan untuk pembuatan bubur, dan kesenian. Tempat untuk melaksanakan upacara bisa di dalam rumah, di luar rumah, di tanah lapang, atau di tepi sungai, dan sebagainya. Pemilihan tempat pada dasarnya sangat bergantung kepada masyarakat pelaku upacara itu sendiri.

Misalnya di luar rumah salah seorang warga yang dianggap mampu untuk melakukan upacara tersebut. Pemilihan tempat tersebut didasari oleh alasan tertentu, yakni karena peserta upacara memerlukan banyak orang. Selain itu, tungku-tungku yang digunakan untuk proses pembuatan bubur benar-benar memerlukan tempat yang cukup luas dan terbuka. Upacara itu menyertakan kesenian Tarawangsa, dan tidak dapat digantikan dengan kesenian apa pun. Lagu-lagu yang disajikan oleh tarawangsa adalah lagu-lagu khusus.

Source disparbud.jabarprov.go.id disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=886&lang=id
Comments
Loading...