7 Jejak Keajaiban Kraton Solo

0 136

7 Jejak Keajaiban Kraton Solo

Keunikan apa yang menjadikan Kraton Kasunanan Surakarta ini begitu sakral dan mempunyai nilai sejarah penting yang harus mereka jaga. Berikut catatan sejarah yang menjadi jejak awal mula berdirinya Solo sebagai kota yang berasal dari rawa-rawa dan hutan Sala terus tumbuh berkembang hingga sekarang. Semua cerita bermula dari para soroh bahu yang membangun tembok Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan terus menjaganya hingga kini. Berikut ini merupakan 7 jejak Keajaiban Kraton Solo:

Jejak satu – Cerita tentang Solo dimulai dari era Paku Buwono II pada masa pemerintahannya tahun 1726-1749. Raja yang dinobatkan dalam usianya yang masih belia, yakni di usia 16 tahun tersebut mengalami masa pahit saat terjadi “geger pecinan” pada tahun 1742 di Kartosuro. Pembantaian besar-besaran etnis Tionghoa di Batavia yang disebut sebagai Tragedi Angke yang dilakukan oleh VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) menelan korban puluhan ribu jiwa etnis Tionghoa pada tahun 1740, dan dua tahun berikutnya tragedi tersebut berimbas ke Kraton Kartosuro. Kraton Kartosuro diserang para pemberontak Cina hingga merusakkan hampir sebagian besar bangunannya  rata dengan tanah.

Jejak dua – Melihat kehancuran bangunan Kraton Kartosuro tersebut, akhirnya Paku Buwono II memutuskan mencari tanah baru untuk memindahkan Kraton yang tidak hanya rusak secara fisik, tapi juga telah memberikan luka batin untuk Raja dan para pengikutnya. Akhirnya Raja mengutus beberapa Adipati (pejabat kepala daerah atau bupati) dan tiga orang abdi dalem ahli nujum (orang yang pandai meramalkan sesuatu) untuk mencari tanah yang dinilai baik secara lahiriah maupun batiniah. Ketiga abdi dalem ahli nujum tersebut adalah, Kyai Tumenggung Hanggawangsa, Raden Tumenggung Mangkuyuda dan Raden Tumenggung Puspanegara. Dan dipilihlah tiga daerah alas atau hutan rawa di desa Sala, Kadipolo, dan Sana Sewu. Dengan berbagai pertimbangan baik fisik dan non fisik, akhirnya desa Sala dipilih sebagai lokasi yang akan dibangun istana baru tersebut. Semua daerah hutan tersebut lokasinya dekat dengan sungai atau Bengawan Semanggi yang kini terkenal dengan nama Bengawan Solo, dan lokasinya berada di sebelah timur wilayah Kraton Kartosuro. Daerah Kadipolo terletak diantara Sriwedari dan Stasiun Balapan serta desa Sana Sewu mungkin sekarang dikenal sebagai daerah Kampung Sewu di Semanggi Solo.

Jejak tiga – Kirab perpindahan Kraton Kartosuro menuju istana baru yang diberi nama Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dilaksanakan pada hari Rabu Pahing 17 Suro atau tanggal 17 Februari tahun 1745. Kirab perpindahan Kraton tersebut konon diikuti sekitar 50.000 orang dengan menempuh rute sepanjang kurang lebih 12 Km dengan berjalan kaki dalam waktu 7 jam. Rute perjalanan melewati jalan setapak yang sudah dilebarkan itu kini dikenal dengan nama jalan Dr. Rajiman, jalan tersebut membelah daerah kampung batik Laweyan Solo hingga pasar Klewer, dan sekarang rute tersebut bisa ditempuh dengan menggunakan kendaraan bermotor dalam waktu 30 menit.

Jejak empat – Era perjuangan Kraton Kasunanan Surakarta melawan penjajahan. Yang menarik adalah pada masa Raja Pakubuwono IV (1788-1820), karena kebenciannya dengan penjajah, pada tahun 1790 terjadi peristiwa pengepungan istana yang dikenal dengan nama peristiwa pakepung. Pada waktu itu Pakuwono IV dengan kepercayaan kejawen-nya menyingkirkan para pejabat istana yang tidak sepaham dengan keyakinannya. Dan karena sakit hati atas perlakuan sang Raja, maka para pejabat istana tersebut meminta pihak VOC atau pihak penjajah untuk menghadapi Paku Buwono IV, dan terjadilah peristiwa pengepungan tersebut. Akhirnya pada tanggal 26 November 1790 Paku Buwono kalah dan diasingkan oleh pihak VOC. Sebelum wafat pada tahun 1820, beliau juga dikenal sebagai seorang sastrawan yang sempat mendidik Ranggawarsito dengan ilmu sastra dan kesaktiannya.

Jejak lima – Pada masa Paku Buwono IX (1861-1893), oleh Pujangga Jawa terkenal, Ranggawarsito, jaman itu disebut sebagai jaman edan. Karena pada masa tersebut sebenarnya sang Raja dikenal sebagai pemimpin yang adil dan bijaksana, namun kala itu Paku Buwono dikelilingi para penjilat yang mencari keuntungan untuk diri sendiri, makanya muncul istilah “jaman edan yen ra ngedan ra keduman” (jaman sudah gila, kalau tidak ikut gila tidak kebagian). Setelah masa itu dan menjelang era modernisasi (memasuki abad ke-20), bertahtalah Paku Buwono X (1893-1939), yang pada masa tersebut perdagangan semakin berkembang di wilayah Kraton, dan sang Raja ikut berperan dalam memasuki masa pergerakan menuju Indonesia merdeka.

Jejak enam – Pada tanggal 12 Juni 1945 bertahta Raja Kraton Kasunanan Surakarta yang ke-XII. Pemuda berusia 20 tahun yang bernama Bandoro Raden Mas Surya Guritna itu diangkat menjadi Raja Paku Buwono XII dan mendapat gelar dari masyarakat Sinuwun Amardika. Dan pada tanggal tersebut dijadikan wewaton atau patokan sebagai hari Tingalan Dalem Jumenengan Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat (hari ulang tahun penobatan Raja). Pada masa beliau bertahta, Kraton mengalami kebakaran hebat pada hari Kamis, malam Jum’at wage 13 Januari 1985 pukul 21:00. Pada bulan Desember 1987 bangunan Kraton selesai dibangun kembali, dan pada tanggal 16 Juli 1988 diterbitkan surat keputusan Presiden RI nomer 23 yang berisi pernyataan bahwa Kraton Kasunanan Surakarta menjadi sumber kebudayaan Nasional Indonesia yang harus dilestarikan dan dikembangkan. Paku Buwono XII merupakan Raja dengan masa kepemimpinan paling lama, yaitu antara tahun 1945 – 2004, beliau wafat pada tanggal 11 Juni 2004 persis menjelang hari pelaksanaan Tingalan Dalem Jumenengan.

Jejak tujuh – Setelah mangkatnya Raja Kraton Kasunanan Surakarta Paku Buwono XII, sampailah pada jejak baru momen estafet tampuk kepemimpinan tertinggi di dalam tembok Kraton tersebut. Meskipun diawali dengan perseteruan antara Pangeran Hangabehi dan Pangeran Tedjowulan dalam prosesi untuk menduduki tahta Raja ke-13, akhirnya pada tanggal 10 September 2004 Pangeran Hangabehi dinobatkan menjadi SISKS (Sampeyan Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan) Paku Buwono XIII di dalam tembok Kraton hingga sekarang. Namun kala itu di luar tembok Kraton juga “bertahta” Paku Buwono XIII Tedjowulan. Meskipun demikian, kontroversi dan pertentangan antara putra Paku Buwono XII beserta kubu masing-masing ini belum ada jalan terang yang bisa diterima dan mewakili kepentingan semua pihak dalam lingkungan tembok Kraton yang tetap berdiri kokoh tersebut. Dan puncak dalam jejak sejarah kali ini adalah, sebuah peristiwa bersejarah bersatunya kembali kedua Raja yaitu Paku Buwono XIII Hangabehi dan Paku Buwono XIII Tedjowulan dalam Dwi Tunggal Raja dan Patih pada tanggal 24 Mei 2012. Dan setelah peristiwa tersebut kedua tokoh yang sudah berdamai itu hendak memasuki Kraton yang juga sebagai tempat kediaman sang Raja, beliau ditolak oleh komunitas pemangku adat yang menamakan diri sebagai Dewan Adat, karena mereka belum bisa menerima pasangan Dwi Tunggal tersebut.

Source 7 Jejak Keajaiban Kraton Solo Kratonpedia.com
Comments
Loading...