Sejarah Swapraja Pura Mangkunegaran

0 33

Kedudukan  Praja Mangkunegaran sebagai Daerah Swapraja melalui proses yang panjang. Kondisi itu diawali pada tangal 17 Maret 1757, ketika terjadi Perjanjian Salatiga. Setelah Perjanjian Salatiga disetujui, maka Belanda dan pihak Kasultanan Yogyakarta secara resmi mengakui keberadaan Praja Mangkunegaran yang memiliki pusat pemerintahan di sebelah Selatan Sungai Pepe.

Sejarah Singkat Praja Mangkunegaran

Praja Mangkunagaran (atau Mangkunegaran) dibentuk berdasarkan Perjanjian Salatiga yang ditandatangani pada tahun 1757 sebagai solusi atas perlawanan yang dilakukan Raden Mas Said (atau Pangeran Sambernyawa, kelak menjadi Mangkunagara I) terhadap Sunan Pakubuwana III. Raden Mas Said mendapat wilayah yang mencakup sebagian dari bekas Mataram sisi sebelah timur, berdasarkan Perjanjian Giyanti (1755). Jumlah wilayah ini secara relatif adalah 49% wilayah Kasunanan Surakarta setelah tahun 1830 pada berakhirnya Perang Diponegoro atau Perang Jawa. Wilayah itu kini mencakup bagian utara Kota Surakarta (Kecamatan Banjarsari, Surakarta), seluruh wilayah Kabupaten Karanganyar, seluruh wilayah Kabupaten Wonogiri, dan sebagian dari wilayah Kecamatan Ngawen dan Semin di Kabupaten Gunung Kidul.

Penguasa Mangkunegaran, berdasarkan perjanjian pembentukannya, berhak menyandang gelar Pangeran (secara formal disebut Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya, mirip dengan Fürst di Jerman) tetapi tidak berhak menyandang gelar Sunan atau pun Sultan. Status yang berbeda ini tercermin dalam beberapa tradisi yang masih berlaku hingga sekarang, seperti jumlah penari bedaya yang tujuh, bukan sembilan seperti pada Kasunanan Surakarta. Setelah kemerdekaan Indonesia, Mangkunegara VIII (penguasa pada waktu itu) menyatakan bergabung dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Secara tradisional penguasanya disebut Mangkunagara. Raden Mas Said merupakan Mangkunagara I. Saat ini yang memegang kekuasaan adalah Mangkunagara IX. Penguasa Mangkunegaran berkedudukan di Pura Mangkunegaran, yang terletak di Kota Surakarta.

Para penguasa Mangkune-garan tidak dimakamkan di Astana Imogiri melainkan di Astana Mangadeg dan Astana Girilayu, yang terletak di lereng Gunung Lawu. Perkecualian adalah lokasi makam dari Mangkunegara VI, yang dimakamkan di tempat tersendiri.

Banyak masyarakat salah menyebut pura mangkunegaran dengan nama kraton mangkunegaraan. Sebenarnya mangkunegaran adalah sebuah pura bukan merupakan kraton. Karena, Mangkunegaraan hanyalah tempat tinggal pangeran dan tidak ada singgasana raja disana. Kraton Mangkunegaran didirikan oleh RM. Said pada tahun 1725.

Source Sejarah Swapraja Pura Mangkunegaran SEJARAH SINGKAT MANGKUNEGARAN

Leave A Reply

Your email address will not be published.