Sejarah Keraton Kacirebonan

0 71

Keraton Kacirebonan merupakan keraton yang didirikan atas prakarsa Pangeran Muhamad Haerudhin. Dia adalah Putra Mahkota Sultan Kanoman ke-IV yang melakukan perlawanan terhadap pemerintahan kolonial Belanda.

Lokasi Keraton Kacirebonan

Keraton Kacirebonan merupakan salah satu bangunan bersejarah yang dibangun pada masa kolonial Belanda selain Kanoman dan Kasepuhan. Lokasi  Keraton Kacirebonan berada di Jalan Pulasaren, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon. Bangunan Keraton Kacirebonan adalah gaya percampuran Tiongkok, zaman kolonial dan tradisional.

Sejarah Keraton Kacirebonan

Pada masa Kasultanan Kanoman IV yang dipimpin oleh Sultan Khaeruddin Awal, Belanda terang-terangan melibatkan diri dalam urusan pemerintahan, dan menyebarkan budaya-budaya yang dilarang dalam agama, seperti berdansa dan minum-minuman beralkohol.  Qodi Kasultanan Kanoman, Kyai Muqoyyim (pendiri Pesantren Buntet) mengundurkan diri dan memilih keluar dari lingkungan keraton.  Ia membentuk kekuatan dengan mendirikan pondok-pondok di pedalan sebagai sikap perlawanan terhadap Belanda.
 
Setelah Sultan Khaeruddin wafat (1798), putranya yang bernama Pangeran Raja Kanoman (Pangeran Mohammad Khaeruddin II), melihat keadaan keraton yang semakin kacau, dan bangsa Belanda semakin merajalela, campur tangan dalam berbagai segi, baik menyangkut kasultanan maupun masalah-masalah yang berkaitan dengan agama, sehingga beliau memilih pergi meninggalkan keraton dan bergabung dengan gurunya, Kyai Muqoyyim (yang lebih terkenal dengan sebutan Mbah Muqoyyim) di Buntet.  Pangeran Raja Kanoman tidak dinobatkan menjadi Sultan di Keraton Kanoman oleh Belanda karena Pangeran Raja Kanoman dianggap sangat berbahaya dan membangkang.  Belanda memilih menobatkan Pangeran Abusoleh Imanuddin. Semenjak itu rakyat Cirebon memberontak dan terjadi kericuhan-kericuhan, rakyat meminta agar Pangeran Raja Kanoman diangkat menjadi Sultan.
 
 S.H. Rose selalu selaku Residen Cirebon pada waktu itu dengan tegas mengatakan, bahwa orang yang menyebarluaskan desas-desus sehingga rakyat membenci pemerintah Belanda ialah Pangeran Raja Kanoman. untuk mengembalikan keamanan di daerah Cirebon harus dilakukan penangkapan terhadap mereka yang dianggap oleh Belanda sebagai perusuh.
 
Dalam pemberontakan para ulama mendesak dan menginginkan agar  Pangeran Raja Kanoman dipulangkan dari tempat pembuangannya, serta menuntut supaya Pangeran Raja Kanoman diangkat sebagain Sultan Cirebon. Perlawanan tersebut dinamakan Perang Santri yang terjadi pada tahun 1803-1806 M.
 
Akhirnya Belanda mengembalikan Pangeran Raja Kanoman ke Cirebon pada tahun 1808 M. Setibanya di Cirebon, Pangeran tersebut tidak pulang ke keraton, tetapi menetap di Blok Lebu Kampung Sunyaragi, dekat Gua Sunyaragi.
 
Pada tanggal 13 Maret 1808 M, Pangeran Raja Kanoman diangkat menjadi Sultan dengan gelar Sultan Amiril Mukminin Mohammad Chaeruddin II sebagai Sultan Kacireboanan.
 
 
Source Sejarah Keraton Kacirebonan Sejarah Keraton Kacirebonan
Comments
Loading...