Tradisi Nyadran Desa Purbasari Temanggung

0 84

Tradisi Nyadran

Ribuan pengunjung berkumpul di situs Liyangan, Desa Purbasari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung pada hari Minggu, 25 Oktober 2015 yang lalu. Mereka bukan hanya warga lokal Purbasari, melainkan datang dari desa atau kecamatan lain, dan bahkan dari tetangga kabupaten, wilayah Wonosobo, untuk menghadiri nyadran lepen yang diselenggarakan di desa tersebut.

Nyadran Lepen

Tradisi nyadran, merupakan salah satu bentuk kebudayaan yang saat ini masih sering dilaksanakan oleh sebagian masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sulit memastikan awal tradisi ini dimulai. Beberapa pemuka desa saat ditanya kapan  tradisi ini dimulai, mereka hanya menyebutkan bahwa tradisi ini telah ada sejak jaman dulu. Secara etimologis nyadran berasal dari kata Sradha – nyradha – nyradhan , yang berarti yakin atau percaya, yang melandasi umat Hindu dalam meyakini keberadaan-Nya. Apabila ditarik garis ke belakang, tradisi ini menemukan asal-usulnya, karena cara berdakwah Wali Sanga di Jawa yang sangat mengakomodir ajaran-ajaran Hindu yang diislamkan. Berbagai upacara selamatan (Jawa: slametan) yang berhubungan dengan upacara lingkaran hidup seseorang misalnya, seperti mitung ndina (upacara tujuh hari kematian), matang puluh (upacara 40 hari kematian),  nyatus (upacara 100 hari kematian) dan nyadran adalah tradisi Hindu yang dimanfaatkan oleh Walisanga dalam berdakwah. Tradisi tersebut di banyak tempat di Jawa tetap dilestarikan sampai sekarang.

Makna Dalam Tradisi

Nyadran lepen adalah ungkapan rasa syukur masyarakat Liyangan kepada Tuhan yang telah memberikan limpahan rejeki berupa hasil bumi  dan ketersediaan air yang melimpah, baik untuk pertanian maupun untuk pemenuhan hidup sehari-hari. Dalam bahasa Jawa, lepen berarti sungai yang menjadi alur bagi air untuk mengalir ke segala penjuru dari sumbernya, sehingga nyadran lepen masyarakat Liyangan dilaksanakan di sumber air desa yang ada di kaki G. Sindoro. Rangkaian kegiatan nyadran lepen dimulai dengan pembersihan lokasi sumber air beberapa hari sebelum puncak acara berupa grebeg tumpeng hasil bumi. Pada saat grebeg, masing-masing RT membuat tumpeng hasil bumi lengkap dan dikirab dari Balai Desa Purbosari menuju Situs Liyangan, yang berada persis di samping sumber air.

Sesaat setelah tumpeng sampai di lokasi upacara, Lurah Desa Purbosari mengambil air dari sumber untuk didoakan bersama. Sambil menunggu pengambilan air, tetua desa menjelaskan makna pelaksanaan nyadran lepen. Nyadran lepen dilaksanakan setiap tanggal 11 Sura dalam penanggalan Jawa dengan melangitkan rasa syukur kepada Tuhan melalui penyerahan tumpeng hasil bumi. Dengan nyadran lepen diharapkan masyarakat semakin bersyukur dan mau memelihara sumber air satu-satunya di desa agar tidak berkurang debitnya atau mati, dengan cara menanam pohon sebanyak-banyaknya, memelihara kebersihan sumber air, serta bijak memanfaatkan air.

Doa yang dilangitkan pada pelaksanaan nyadran lepen pun tidak jauh dari tahun baru Sura, arwah leluhur yang telah mendahului, dan kelestarian sumber air Liyangan. Nyadran diakhiri dengan pembagian tumpeng dan air yang telah didoakan kepada para pengunjung yang telah rela berpanas-panas dan berdesak-desakan untuk mendapatkan air yang penuh berkah tersebut.

Source Tradisi Nyadran Tradisi Nyadran
Comments
Loading...