4 Jenis Upacara Adat Sunda Pada Masa Kehamilan

0 2.980

4 Jenis Upacara Adat Sunda Pada Masa Kehamilan

  • Upacara Adat Masa Kandungan Empat Bulan

Menurut anggapan kaum perempuan masyarakat suku Sunda pada jaman dahulu, pada saat umur kandungan baru menginjak dua atau tiga bulan itu masih belum dianggap mengandung. Hal itu masih dianggap tahap masih masa ngidam (nyiram; bahasa Sunda). Dianggap seorang perempuan sedang mengandung apabila masa kandungan sudah lewat dari tiga bulan. Ketika usia kandungan menginjak tiga bulan dan lima bulan barulah dilaksanakan ritual adat sebagai tanda atau pemberitahuan kepada tetangga terdekat atau pun kerabat bahwa si perempuan itu sudah benar-benar mengandung atau sedang mengandung

Kecenderungan melaksanakan ritual upacara adat pada usia kandungan menginjak empat bulan, hal ini berdasarkan dari keterangan dari Al Quran bahwa bahwa pada saat usia empat bulan Allah SWT, telah meniupkan ruh ke jasad jabang bayi di dalam kandungan.

  • Upacara Adat Masa Kandungan Tujuh Bulan 

Pelaksanaan upacara adat pada masa usia kandungan tujuh bulan di sebut juga dengan istilah upacara adat tingkeban. Kata tingkeban berasal dari bahasa Sunda yang berarti tutup. Makna dari upacara adat tingkeban bahwa seorang ibu yang sedang mengandung agar jangan melakukan pekerjaan yang terlalu berat sehingga dapat membahayakan dirinya dan kandungannya. Selain itu seorang istri pada masa kandungannya sudah tujuh bulan dilarang bercampur (melakukan hubungan badan) dengan suaminya sampai empat puluh hari sesusai masa persalinan. Intinya upacara adat tingkeban dilakukan untuk memohon keselamatan bagi ibu dan jabang bayi yang sedang dikandungnya.

Pelaksanaan upacara adat tingkeban lajimnya diisi dengan acara pembacaan ayat-ayat suci Al Quran seperti Q.S Lukman, Surat Maryam dan Surat Yusuf. Selain itu dipadukan dengan adat budaya Sunda dengan properti yang harus disediakan yaitu :

  1. Rujak Kanistren, yaitu rujak yang dibuat dari tujuh macam atau jenis buah-buahan
  2. Tujuh lembar kain batik.
  3. Belut
  4. Kelapa gading (kuning)
  5. Talawengkar
  6. Bunga tujuh rupa atau macam
  7. Air untuk mandi ibu hamil
  • Upacara Adat Masa Kandungan Sembilan Bulan

Upacara adat selanjutnya ketika masa kandungan ibu hami menginjak sembilan bulan. Pada upacara adat ini dilaksanakan pembacaan atay suci Al Qur’an secara bersama dengan tujuan memohon keselamatan agar proses persalinan berjalan lancar. Pada ritual upacara adat Sembilan bulan ini disajikan atau dibuat bubur lolos yang dibagikan bersama nasi tumpeng sebagai jamuan untuk tamu yang hadir. Maknanya agar proses persalinan berjalan lancar.

  • Upacara Reuneuh Mundingeun

Reuneuh mundingeun artinya usia kehamilan yang melebihi usia normal kehamilan. Disebut mundingeun karena seperti kerbau bunting yang rata-rata sampai usia 12 bulan. Nah, jika ada ibu hamil yang masa kehamilannya sampai 12 bulan maka diadakanlah ritual upacara adat reuneuh mundingeun. Tujuan dilaksanakannya upacara ini agar perempuan yang hamil 12 bulan itu secaepatnya melahirkan

Ada pun pelaksanaan upacara adat reuneuh mundingeun ini sebagai berikut, perempuan yang hamil tua tersebut digantungi oleh kolotok pada lehernya, kemudian dituntun oleh seorang paraji (dukun beranak), menuju ke kandang kerbau. Si ibu hamil tersebut harus menirukan gerak-gerik kerbau dan menirukan suara kerbau kemudian diarak oleh anak-anak sambil membawa cambuk mengelilingi kandang kerbau tersebut sebanyak tujuh putaran. Jika tidak ada kandang kerbau dapat digantikan dengan mengelilingi rumah. Setelah itu kemudian si ibu hamil tersebut di bawa kembali ke dalam rumah untuk dimandikan oleh paraji (dukun beranak).

Itulah 4  jenis upacara adat Sunda pada masa kehamilan yang suka dilaksanakan oleh masyarakat Sunda. Walaupun beberapa jenis upacara tersebut jarang dilaksanakan terutama untuk sisi budayanya karena dianggap tidak praktis dan ekonomis, sehingga hanya dilaksanakan pengajian ayat suci Al Qur’annya saja.

Source 4 Jenis Upacara Adat Sunda Pada Masa Kehamilan Abahgoong.id
Comments
Loading...