budayajawa.id

Upacara Memandikan Jenazah Kematian Raja-Raja Kraton Yogyakarta

0 3

Upacara Memandikan Jenazah Raja-Raja Kraton Yogyakarta

Perawatan jenazah dimulai semenjak seseorang benar-benar meninggal dunia. Kerabat dan orang lain yang kebetulan menyaksikan saat meninggalnya segera mengatur posisi tubuh mayat, (menyilangkan tangan jenazah ke dadah, tangan kanan diletakkan diatas tangan kiri, kelopak mata dirapatkan, dagu ditekan agar mulut terkatup, kedua kaki diluruskan sejajar serta dihadapkan ke arah kiblat. Dibujurkan ke utara (mujur ngalor) menyerong ke barat sedikit (ngulon sithik) ditutup rapat (diluruskan dengan kaki (jarik), serta dipasang sebuah pelita dan tempat pembakaran kemenyan dekat pembaringan hal ini dilakukan agar tidak terlanjur kaku.

Saatnya untuk dimandikan, anak saudara menunggu agar tidak ada ganguan sementara itu kegiatan lainnya mulai dilaksanakan, misalnya menyebar berita duka, penggalian kubur, perlengkapan memandikan jenazah dan lain-lainnya. Mengenai lokasi penggalian tergantung pada saat meninggalnya sedang mengenai lokasi penggalian liang lahat biasanya tidak disebelah atas (utara/ makam yang lebih tua atau leluhur. Bila pantangan in dilanggar akan menimbulkan hal-hal yang kurang baik terutama si roh mati.

Uborampe yang berhubungan dengan upacara misalnya bangsal sri manganti digunakan untuk membaringkan jenazah dan didekatnya dihidupkan alatar, blencong, air kembang seramah, hiding-hidangan yang merupakan kombinasi dari sumber-sumber khasanah flora dan fauna jawa yang berbentuk bahan pajangan dan bahan pangan.

Selama disemayamkan dibunyikan gending mutur yaitu gending-gending yang mengambarakan tangisan hati dan menggunakan gamelan menggang. Bagi golongan bangsawan, tradisi mengenai perawatan jenazah mulai dari meninggal, memandikan, membungkus, menyembahyangkan hingga pemakamannya mempunyai kekhususan tersendiri. Antara jenazah seoarang raja dalam menyemanyakan dengan jenazah putra mahkota, permaisuri, permasuri putera raja, selir-selir dan pelara-pelara. Untuk raja disemanyamkan di bangsal prabasuyata sebelum dimandikan. Perbedaan perawatan dengan selain raja adalah :

Apabila yang meninggal seseoarang permaisuri atau putra mahkota, maka upacara memandikan dari menghias jenazah dilakukan di tratan (serambi) prabasuyata, sesudah selesai jenazah disemayamkan di bangsal seperti halnya seorang raja. Sedangkan untuk para selir ( pelara-pelara) dan putera yang belum kawin, upacara siraman dan mbu sanani dilakukan di bangsal pengapit, lanjutnya jenazah disemayamkan dibangsal manis hingga pada saat pemberakatan pemakamannya. Bagi seseorang yang meninggal sebelum kawin ada syarat tamabahan yang harus dilengkapi yaitu batang pohon pisang dan gagar mayang yang dibuang di peremapatan jalan.

Bila seseorang raja mangkat (surut dalem) karena usia lanjut bukan karena penyakit, jenazah dipangku oleh anak dan cucu laki-laki, bila yang mangkat permaisuri, maka anak dan cucu puterilah yang memangku. Tempat untuk menyirami bisanya ditutupi dengan kain putih sekelilingnya atau kain biasa yang baik, sedang penutup bagian atas digunakan kampuh atau kain panjang. Bila yang meninggal seorang raja maka upacara nitaman dipimpin putera tertua yang hendak menggantiakan kedudukannya. Perlengkapan sirangan ini meliputi :

  1. Air tawar (air sumur bersih) ditempatkan dalam tempayan
  2. Air landha merang untuk keramas (cuci rambut)
  3. Air asam (air tawar dicampur asam lumat) juga untuk keramas.
  4. Air asin (air tawar campur garam)
  5. Air wangi (air tawar dicampur wewangian atau minyak cendana)
  6. Merang (tangkai padi kering yang telah diptong-potng) untuk membersihakn kuku.
  7. Kain putih untuk penutup.

Agar benar-benar bersih tubuh jenazah boleh dimiringkan kekanan atau kekiri. Menjelang selesai siraman, jenazah didudukan untuk disiram tiga kali dari arah kepala.

Source Upacara Memandikan Jenazah pada Upacara Kematian Raja-Raja Kraton Yogyakarta Sosiologi

Leave A Reply

Your email address will not be published.