budayajawa.id

Upacara Adat Mantu Kucing Pacitan

0 3

Upacara Adat Mantu Kucing Pacitan

Upacara adat sebagai bagian dari kebudayaan tradisional warga desa juga dimiliki oleh warga desa Purworejo Kecamatan Pacitan Kabupaten Pacitan Jawa Timur, yaitu upacara adat keagamaan yang bernama “Mantu Kucing” dimana upacara ini dilaksanakan warga dalam rangka meminta kepada Sang Maha Pencipta supaya diturunkan hujan.

Sejarah Upacara Adat Mantu Kucing

Upacara adat mantu kucing merupakan upacara adat untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar menurunkan hujan di daerah orang-orang yang mengadakan upacara tersebut. Upacara ini dilaksanakan bila tiba musim kemarau yang berkepanjangan dan berdampak negatif terhadap warga masyarakat yang masih agraris.

Upacara adat ini diangkat dari tradisi masyarakat desa Purworejo. Desa Purworejo merupakan salah satu desa di Kota Pacitan yang terletak kurang lebih 3 Km dari pusat kota. Desa ini termasuk dalam Kecamatan Pacitan Kabupaten Pacitan Jawa Timur. Kondisi wilayahnya didominasi persawahan dan bukit serta beberapa aliran sungai sebagai anak sungai Grindulu, sungai terbesar di Kabupaten Pacitan seharusnya menjadikan desa ini tidak kekeringan. Namun pada kenyataannya hampir setiap tahun desa ini mengalami kekeringan pada musim kemarau panjang.

Kondisi ini yang membuahkan sebuah tradisi adat sebagai prosesi untuk meminta hujan kepada Sang Maha Pencipta, yaitu upacara adat Mantu Kucing yang berawal dari kejadian masa silam (tidak disebutkan tahun kejadiannya) dikisahkan seorang warga desa yang memperoleh “wisik” (petunjuk dari Allah) agar turun hujan, maka mereka harus melaksanakan upacara mantu kucing. Waktu itu para sesepuh desa segera mengadakan musyawarah untuk melaksanakan upacara mantu kucing, sebagai bukti kepercayaan dan kepatuhan mereka terhadap Sang Maha Pencipta sesuai wisik yang diperoleh.

Upacara ini menyerupai upacara adat di Yunani purba, yakni sewaktu kemarau panjang rakyatnya mengadakan upacara menyembelih kambing jantan (tragos) agar dewa Zeus berkenan menurunkan hujan di daerah yang dilanda kemarau panjang.

Sekalipun yang dinikahkan hanya hewan kucing, masyarakat Pacitan menyebut dua ekor kucing yang dinikahkan itu dengan istilah pengantin (manten, dalam bahasa Jawa) dan sampai saat ini upacara Mantu Kucing masih rutin dilakukan oleh warga desa Purworejo ketika musim kemarau panjang melanda desa mereka.

Kronologis Upacara Adat Mantu Kucing

Upacara mantu kucing ini ditradisikan di desa Purworejo Kabupaten Pacitan dalam suatu kegiatan untuk meminta hujan kepada Tuhan pencipta langit dan bumi. Upacara ini diadakan bila wilayah tersebut dilanda musim kemarau yang berkepanjangan Mantu kucing tiada ubahnya seperti orang mengadakan upacara pernikahan dua anak manusia. Hanya khusus dalam keperluan ini yang dinikahkan adalah dua ekor kucing dan tidak didudukkan di kursi pelaminan melainkan di dalam tandu, namun demikian pengantin juga dihias walaupun hanya dipakaikan mahkota dari janur kuning. Selain itu kedua mempelai juga tidak mengucapkan ijab qobul sendiri melainkan diwakili oleh masing-masing kepala desa dimana kucing yang dinikahkan berasal.

Kucing betina berasal dari desa Purworejo dan kucing jantan diambil dari desa tetangga yang bersebelahan dengan desa Purworejo yakni desa Arjowinangun, yang terletak tepat di sebelah barat desa Purworejo. Upacara ini secara tradisional diadakan ditepi sebuah aliran sungai tempat kucing betina yang dinikahkan dipelihara, menurut tetua warga desa hal ini dimaksudkan supaya sungai yang berada didekat tempat upacara itu segera dialiri air yang berasal dari air hujan sebagai hasil dari permohonan mereka melalui upacara ini sebagaimana yang mereka percaya.

Source Upacara Adat Mantu Kucing Pacitan Explore 1001Wisata Kota Pacitan

Leave A Reply

Your email address will not be published.