budayajawa.id

Upacara Adat Labuhan Merapi

0 2

Upacara Adat Labuhan Merapi

Upacara Adat Labuhan Merapi merupakan tradisi Kraton Yogyakarta yang diselenggarakan pada akhir bulan Rejeb (rajab) tepatnya tanggal 30 Rejeb dalam penanggalan Jawa setiap tahunnya. Upacara ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Jumenengan Ndalem Sri Sultan Hamengku Buwono X. Tradisi serupa juga diselenggarakan kraton Yogyakarta dua tempat yang berbeda yaitu di Pantai Parangkusumo dan Gunung Lawu.

Upacara Adat Labuhan Merapi diselenggarakan di Pos 1 Srimanganti jalur selatan pendakian Gunung Merapi, desa Kinahrejo, kecamatan Cangkringan, kabupaten Sleman, DI Yogyakarta. Lokasi Prosesi Upacara Adat Labuhan Merapi Kraton Yogyakarta diselenggarakan di lereng selatan Gunung Merapi tepatnya di Pos 1 Srimanganti jalur pendakian Gunung Merapi dari sisi selatan atau via Kinahrejo. Untuk menuju Pos 1 Srimanganti dapat ditempuh dari bekas rumah Mbah Maridjan yang berada di desa Kinahrejo.

Sedikit informasi yang didapat, pada mulanya lokasi awal Labuhan Merapi diselenggarakan di Pos 2 Rudal atau sekitar 20-30 menit dari Pos 1. Namun karena terkena terjangan awan panas erupsi Gunung Merapi pada tahun 2010, lokasi penyelenggaraan Labuhan Merapi dipindah ke Pos 1 hingga sekarang.

Prosesi Upacara Adat Labuhan Merapi dimulai dari pendopo di kawasan bekas rumah almarhum Mbah Maridjan yang sekarang dibangun menjadi Museum Rumah Mbah Maridjan. Rute menuju ke tempat ini dari pusat kota Yogyakarta ke arah utara berpatok petunjuk arah menuju Wisata Lava Merapi Kinahrejo. Sekitar pukul 06.00 pagi, para abdi dalem dengan pakaian adat Jawa mulai bersiap di halaman bekas rumah Mbah Maridjan. Doa bersama mewarnai awal iring-iringan rombongan abdi dalem Kraton Yogyakarta menuju lokasi labuhan di Pos 1 Srimanganti.

Iring-iringan rombongan abdi dalem Kraton Yogyakarta sempat terhenti sejenak di tengah perjalanan menuju Pos 1 Srimanganti Gunung Merapi. Iring-iringan tersebut berhenti pada sebuah area yang lapang dan terdapat altar untuk menaruh ubo rampe atau sesaji. Sekitar 5 (lima) menit berselang, rombongan kembali melanjutkan perjalanan tanpa berhenti hingga tiba di Pos 1 Srimanganti.

Prosesi Upacara Adat Labuhan Merapi Kraton Yogyakarta dimulai dengan menunjukkan ubo rampe dan sesaji yang akan dilabuh. Prosesi ini dipimpin oleh juru kunci Gunung Merapi yang ditunjuk oleh Kraton Yogyakarta dimana saat ini diampu oleh Pak/Mas Asih. Seperti yang kita ketahui sebelumnya juru kunci Gunung Merapi sebelumnya adalah almarhum Mbah Maridjan. Benda-benda yang akan dilabuh antara lain selembar semekan gadhung melatisinjang limarsemekan gadhung melatisinjang cangkring, paningset udaraga, seloratus lisah konyoh (sejenis minyak), kelapa satu buah, uang dalam dua amplop, selembar destar doromuluk dan 10 biji seswangen. Selain itu sesaji yang telah dipersiapkan antara lain nasi tumpeng, srundeng dan lauk ingkung ayam yang diberikan kembang setaman.

Kemenyan mulai dibakar dan perlahan-lahan suasana berubah menjadi hening dan khidmad. Juru kunci yang bertugas memimpin upacara merapalkan mantera dan berdoa untuk memohon keselamatan bagi rakyat Kraton Yogyakarta pada khususnya dan rakyat Indonesia pada umumnya. Ditengah-tengah upacara labuhan, dibacakan wasiat Sultan Hamengku Buwono X (HB X) selaku raja kasultanan Yogyakarta kepada penguasa Gunung Merapi. Ritual doa selesai dan para abdi dalem baik pria dan wanita menyiapkan nasi berkat yang akan dibagi-bagikan kepada rakyat atau masyarakat yang hadir dalam prosesi tersebut.

Acara penutup Upacara Adat Labuhan Merapi Kraton Yogyakarta adalah pembagian sedekah dari kraton kepada rakyat (masyarakat) berupa nasi berkat. Prosesi ini cukup dinantikan para penonton atau masyarakat yang hadir dalam upacara adat labuhan tersebut. Bagi sebagian masyarakat yang masih percaya dengan tradisi leluhur, nasi berkat merupakan simbol sedekah kraton atau raja yang memberikan kemakmuran, rezeki, berkah, dan kebahagian untuk rakyatnya. Namun disisi lain bagi yang berpikiran modern, pembagian nasi tersebut dapat mengganjal rasa lapar ketika berjalan kaki menuruni Pos 1 Srimanganti menuju ke area parkir atau kembali ke bekas rumah Mbah Maridjan. Perlahan-lahan kawasan Pos 1 Srimanganti mulai sepi dan seluruh pengunjung termasuk para abdi dalem meninggalkan lokasi.

Source Upacara Adat Labuhan Merapi Teamtouring.net

Leave A Reply

Your email address will not be published.