budayajawa.id

Tradisi Upacara Memitu Indramayu

0 25

Upacara memitu adalah sebuah upacara yang dilaksanakan oleh sepasang suami istri yang sedang menantikan anak pertama di Indramayu dan sekitarnya. Seperti istilahnya yaitu memitu yang berasal dari kata ‘mitu’ yang dalam bahasa Jawa berarti tujuh, upacara ini dilaksanakan tepat ketika usia kehamilan sang istri yang bersangkutan menginjak usia tujuh bulan, dan biasanya dilaksanakan antara tanggal 7, 17, dan 27 dalam hitungan kalender Jawa disesuaikan dengan kesiapan yang bersangkutan.

Persiapan dan perlengkapan untuk melaksanakan upacara memitu ini sendiri adalah pertama-tama disiapkannya bahan-bahan untuk keperluan upacara yakni :

  1. Jarit atau tapi (kain panjang) 7 lembar dan masing-masing lembarnya memiliki warna yang berbeda.
  2. Pendil atau belanga (semacam tembikar yang pada jaman dulu dipakai untuk mengambil air) yang berisi air, berbagai jenis tanaman dan beberapa uang logam
  3. Kembang tujuh rupa
  4. Sesaji yang berisi antara lain : Nasi wuduk, Juwadah pasar, Rujak parud, rujak asem, rujak pisang, rujak selasih, Aneka buah dan umbi, dan tebu wulung.
  5. Kelapa muda yang telah digambar salah satu tokoh wayang (biasanya tokoh Arjuna)

Memitu berasal dari kata pitu (Bahasa Jawa) yang artinya tujuh, dan tujuh itu mengandung arti pula, yakni tujuan yang baik. Tradisi Memitu adalah perayaan tujuh bulan yang dilaksanakan pada usia kehamilan wanita yang berusia tujuh bulan dan pada kehamilan yang pertama kali dalam rangka menyambut kelahiran sang anak. Tradisi memitu yang dilaksanakan di Desa dengan rangkaian sebagai berikut :

  1. Pertama dengan do’a bersama dahulu yang dibacakan surat-surat penting, surat tersebut diantaranya; surat Yusuf, surat Maryam, surat Al-Lukman, Waqi’ah, Muhammad, Al-Mulk, Al-Kahfi, dan diakhiri dengan do’a.
  2. Setelah itu dilanjutkan dengan siraman yang menggunakan air tujuh rupa, pemandian atau siraman dilakukan di cerobong yang dibuat oleh bambu yang sudah di persiapkan pernak-perniknya, dalam tujuh siraman tersebut satu kali siraman wajib bagi si ibu mengganti kain penutup badannya sebanyak tujuh kali pula, hal itu dilaksanakan selama proses siraman berlangsung.
  3. Kemudian setelah siraman, diperkenankan untuk para tamu undangan mencicipi hidangan yang telah disediakan. Hidangan khas tradisi memitu adalah rujak tumbuk dan buah tangan “berkat”, yaitu hidangan berupa nasi yang dibungkus sebagai buah tangan para tamu undangan.
  4. Kemudian proses yang terakhir adalah memecahkan kendi di perempatan jalan dan merubuhkan kerobongan yang dipakai untuk siraman.

Maksud dan tujuan dari dilaksanakannya upacara memitu ini sendiri adalah sebagai bentuk syukur kepada Tuhan yang telah mengaruniai mereka anak, di samping juga untuk memohon agar pada saatnya nanti proses kelahiran berjalan lancar dan diberi keselamatan baik pada si ibu yang melahirkan maupun jabang bayi yang dilahirkan nanti dan yang tak kalah pentingnya si jabang bayi lahir tanpa cacat.

Source Tradisi Memitu Pusakanagara Subang Upacara Memitu di Inderamayu dan Cirebon
Comments
Loading...