budayajawa.id

Tradisi Malam Selikuran di Yogyakarta

0 14

Tradisi Malam Selikuran di Yogyakarta

Banyak tradisi menjelang dan juga ketika bulan Ramadan tiba di kota Jogja. Mulai dari nyadran, padusan, hingga apeman yang digelar menjelang bulan Ramadan, menjadi bukti tradisi di Jogja masih cukup kental. Sementara ketika bulan puasa tiba, terdapat tradisi yang juga menjadi salah satu kebudayaan turun temurun. Tradisi tersebut adalah acara Malam Selikuran. Tradisi Malam Selikuran ini akan berisi Macapatan dan juga doa yang ditujukan untuk kesejahteraan bersama serta menjaga dan melanjutkan tradisi yang sudah dilakukan semenjak kepemimpinan Sri Sultan HB VII.

Di tradisi Malam Selikuran ini akan diberikan sesaji yang akan berisi aneka makanan dan juga minuman yang merupakan favorit serta kegemaran dari Sri Sultan Hamengku Buwono VII. Dan semua makanan dan minuman ini selalu hadir di setiap tradisi malam selikuran tersebut. Ditambah lagi dengan seni macapatan yang juga merupakan kegemaran Sri Sultan HB VII.

Tradisi Malam Selikuran dilakukan Sri Sultan HB VII ketika bulan puasa sudah menginjak malam ke 21 sehingga disebut malam selikur. Tradisi malam selikuran tersebut merupakan warisan budaya dan juga religius yang memiliki makna cukup dalam. Tradisi ini menjadi penanda dilakukannya ritual keagamaan pada 10 hari terakhir di bulan Ramadan. Seperti diketahui bersama bahwa masyarakat akan berlomba-lomba guna mencari malam Lailatul Qadar atau biasa disebut malam seribu bulan.

Orang Jawa terutama masyarakat Jogja biasanya melakukan kegiatan malam selikuran ini dengan menggabungkan unsur reliji dan juga tradisi luhur yang hingga saat ini masih dilakukan. Bukan cuma di lingkungan kota Yogyakarta saja, di daerah pedesaan di pinggiran Jogja juga masih menggelar tradisi tersebut.

Tradisi Selikuran sendiri diambil dari bahasa Jawa yang memiliki arti Selikur yaitu 21. Makna dari tradisi Selikuran ini adalah Linuwih Le Tafakur atau dalam bahasa Indonesia yang berarti mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta, Allah SWT. Caranya dengan memperbanyak sedekah, iktikaf di masjid dan juga membaca Al Quran.

Secara sejarah, tradisi ini masuk ke tanah Jawa dengan dibawa oleh Wali Songo yang dalam penyebaran agama mereka menggabungkan unsur budaya. Malam selikuran sendiri biasanya dilakukan oleh Rasulullah Saw dan juga kaum Muslim dengan cara beriktikaf di masjid selama 10 hari terakhir di bulan puasa ini. Malam kemuliaan yang akan membersihkan jiwa dan dosa. Sementara di Jogja, malam selikuran akan ditambahkan dengan macapat dan juga aneka sesaji yang merupakan tradisi turun temurun di lingkungan masyarakat Jogja.

Source Tradisi Malam Selikuran di Yogyakarta Wisata Jogja
Comments
Loading...