budayajawa.id

Tradisi Cari Jodoh atau Jaringan di Indramayu

0 49

Warga masyarakat Indramayu dan Pantura, jaringan diartikan sebagai tradisi mencari jodoh pada saat terang bulan. Karena, para nelayan tidak melaut dan berkumpul di Pasar Pantura. Karena pada saat terang bulan ikan-ikan berdiam di dasar laut sehingga sulit ditangkap.

Dalam adat jaringan, para lelaki mengenakan kain sarung dan (dulunya) para wanita mengenakan pakaian kain rajutan yang dibuat sendiri. Sarung yang dikenakan para lelaki ini digunakan untuk menjaring dan menggaet wanita yang disuka. Namun, adat jaringan ini pun memiliki banyak versi di berbagai daerah di sepanjang pantura.

Saban Jumat sore usai salat Ashar, tepat di depan Pasar Parean, muda mudi berkumpul. Tak hanya itu janda dan duda juga ikut berbaur di sana untuk mencari pendamping lawan jenis. Jika cocok, mereka bakal pacaran dan kemudian melamar hingga menikah. Biasanya, dari hasil jaringan, pria yang mendapat pasangan wanitanya akan mengajak untuk jajan. Nanti wanita tersebut akan mengajak teman-teman wanitanya untuk ikut makan bersama. Usai makan-makan, wanita tersebut akan diantar oleh lelaki yang didapatnya dari Pasar Jodoh.

Pasar Parean merupakan salah satu pasar tradisional di Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu. Letaknya tepat di samping kantor Kuwu Desa Bulak. Ihwal sebutan nama Pasar Jodoh bermula dari tradisi warga Desa Parean Girang yang berada di seberang pasar. Lantaran tak ada hiburan, saban malam minggu muda-mudi di sana kerap keluar untuk sekadar melihat hiburan.

Sayangnya tradisi jaringan ini mulai punah dimakan perkembangan zaman. Jika dulu Pasar Jodoh kerap diisi muda mudi untuk mencari pasangan, kini pasar tersebut tak ubahnya seperti pasar malam.

Source Jaringan, budaya cari jodoh di Pasar Pantura Menjaring jodoh dengan sarung di Pasar Jodoh ala Indramayu JARINGAN, TRADISI CARI JODOH DI PANTURA
Comments
Loading...