budayajawa.id

Temanten Kucing, Tradisi Unik Dari Kota Marmer

0 27
Sejarah Selayang Pandang Tradisi Manten Kucing

Tradisi budaya Manten Kucing ini berada di Desa Pelem, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung. Menurut warga sekitar Desa Pelem, bahwasanya tradisi budaya Manten Kucing ini selalu diselenggarakan setiap tahun, dan juga penuh dengan kesakralan.

Uniknya didalam upacara tradisi Manten Kucing ini adalah sepasang kucing jantan dan betina. Awalnya daerah Desa Pelem dan sekitarnya dahulu kala dilanda kemarau panjang, hingga warga kesulitan untuk mendapatkan air. Eyang Sangkrah adalah tokoh yang membabat Desa Pelem, suatu ketika Eyang Sangkrah mandi di sebuah telaga, yaitu Telaga Coban.

Ketika Eyang Sangkrah mandi di Telaga Coban, Beliau membawa seekor kucing di telaga tersebut. Kucing Condro Mowo, sebutan kucing yang dibawa oleh Eyang Sangkrah, setelah di Telaga Coban kucing tersebut dimandikan. Anehnya, sepulang dari mandi di Telaga Coban, di kawasan Desa Pelem turun hujan deras. Warga yang lama menunggu turunnya hujan, tidak bisa menyembunyikan perasaan syukur dan bahagia. Saat itulah, warga menyakini turunnya hujan tersebut ada kaitannya dengan peristiwa Eyang Sangkrah yang memandikan Kucing Condro Mowo. Sehingga menjadi tradisi, yang setiap tahun diselenggarakan oleh warga Desa Pelem, dengan sebutan tradisi budaya “Manten Kucing”.

Ketika Desa Pelem dijabat oleh Demang Sutomejo, tahun 1926, Desa Pelem , Kecamatan Campur darat kembali dilanda kemarau panjang. Saat itu Demang Sutomejo mendapatkan wangsit (petunjuk) untuk mengadakan upacara memandikan kucing di Telaga Coban. Maka, dicarilah dua ekor kucing Condro Mowo. Kemudian, dua ekor kucing itu dimandikan di Telaga Coban. Akhirnya beberapa hari kemudian turunlah hujan mulai mengguyur di Desa Pelem dan sekitarnya.

Prosesi Upacara Adat Manten Kucing

Warga Desa Pelem mempersiapkan uburampe atau persiapan untuk mengadakan upacara Manten Kucing. Setelah persiapan selesai, maka prosesi kemudian adalah mengkirap kucing Condro Mowo yang diwadahi didalam keranji. Adapun kucing yang dimaksud didalam prosesi tersebut adalah berwarna putih dan hitam, yang terdiri dari kucing lanang (jantan) dan kucing wadon (perempuan). Saat pengkirapan tersebut, kucing lanang lan wadon berada di barisan paling depan sendiri, setelah itu diikuti oleh para sesepuh dan tokoh desa. Para sesepuh dan tokoh desa tersebut juga memakai pakaian khas adat Jawa.

Setelah Sampai di Telaga Coban, kucing dimandikan dengan air telaga yang dicampur dengan kembang setaman, lalu kemudian diarak menuju ke lokasi pelaminan. Upacara pernikahan “Manten Kucing” tersebut ditandai dengan pembacaan doa-doa yang dilakukan oleh sesepuh desa setempat dengan waktu kurang lebih 15 menit. Kemudian ditampilkanya pagelaran seni budaya yakni Tiban dan Langen Tayub, yang merupakan kesatuan ritual untuk memohon diturunkannya hujan.

Source Temanten Kucing, Tradisi Unik Dari Kota Marmer Temanten Kucing, Tradisi Unik Dari Kota Marmer
Comments
Loading...