budayajawa.id

Serat Arjuna Wiwaha

0 6

Cerita Serat Arjuna Wiwaha

Arjuna Wiwaha berarti “Perkawinan Arjuna”. Syair epis ini ditulis oleh Mpu Kanwa yg menurut dugaan, hidup pada zamannya Raja Airlangga, raja di Jawa Timur sekitar th. 1019-1042. Airlangga merupakan seorang raja yang tersohor yang merencanakan peperangan. Untuk mempersiapkan diri secara mental ia mengundurkan diri dari masyarakat dan bertapa. Kemudian hari dia kembali dari pertapaannya dan mengabdikan diri kepada kesejahteraan kerajaannya. Umum berpendapat, bahwa Mpu Kanwa mempersembahkan karyanya kepada raja Airlangga. Untuk menghormati raja itu ia melukiskan kekuasaannya dengan mengambil arjuna sebagai contoh. Hal ihwal Arjuna mencerminkan kehidupan Airlangga.

Sebetulnya Arjuna itu salah satu tokoh dari Maha Bharata. Di situlah di ceritakan, bagaimana Arjuna menjalankan tapa brata di salah satu bukit di pegunungan Himalaya dengan maksud untuk memperoleh kesaktian lalu memerangi para gandarwa.

Dalam kakawin pun kita berjumpa dengan seorang pangeran Arjuna yang menjalankan tapa brata. Tetapi yg menarik perhatian disini ialah tujuannya yang lebih bersifat manusiawi. Tujuan tapa brata Arjuna Wiwaha bukanlah untuk menaklukkan kekuasaan jahat daripada Gandarwa, melainkan memberikan bantuan kepada keluarga yang di cintainya, agar mereka dapat menaklukkan dunia.

Serat Arjuna Wiwaha terdiri atas tiga bagian:

  1.  Tapa brata Arjuna
  2.  Peperangan dengan Gandarwa
  3.  Hadiah yang diperolehnya

Dalam pembukaan diceritakan, bahwa kediaman para Dewa terancam oleh para Gandarwa di bawah pimpinan raja mereka; Niwata Kawaca. Hanya seorang manusia yang memiliki kesaktian dapat mematahkan kekuasaan jahat. Maka dari itu para Dewa memutuskan untuk minta bantuan dari Arjuna yg namanya telah menjadi mashyur karena tapanya yang tabah. Untuk menguji ketabahannya, para Dewa mulai dengan menggodainya, namun sang tapa tidak dapat di gemparkan oleh bidadari-bidadari yang paling cantik dan selalu perawan sekalipun. Kemudian raja para Dewa, yaitu Dewa Indra sendiri akan mengujinya. Ia muncul dalam bentuk seorang Resi yang menghardik Arjuna, bahwa dgn segala tapa brata dia belum mencapai kesempurnaan, karena sebetulnya dia hanya mengejar pembebasan dirinya sendiri.

Arjuna menjawab, bahwa bukanlah keselamatan diri merupakan tujuannya, melainkan keselamatan orang-orang lain: ia ingin membantu keluarganya dalam peperangan terakhir. Dalam pada itu raja Gandarwa berusaha untuk membunuh Arjuna. Ia mengutus seekor celeng buas, Momong Murka, namanya, untuk mengganggu tapa Arjuna. Tetapi ksatria kita berhasil menewaskan celeng itu. Sayangnya di saat Arjuna melepaskan anak panahnya, Batara Siwa pun turut melepaskan anak panahnya terhadap celeng tsb. Kedua anak panah melebur jadi satu dan menewaskan sang celeng. Siapakah yg lebih dulu melepaskan panah maut itu? Siwa atau Arjuna? Terjadilah perselisihan hebat antara kedua tokoh itu. Dan inilah godaan yg ketiga: Arjuna tidak boleh membanggakan diri, sekalipun (atau justru karena) ia memiliki kesktian. Setelah merendahkan diri dan mengakui kekuasaan Siwa -dan dengan demikian kekuasaan dalam dirinya sendiri- maka ia menerima sebatang anak panah ajaib, Pasopati namanya. Dan dengan demikian berakhirlah tapa bratanya. Tujuan telah tercapai, ia mempunyai senjata untuk merebut kemenangan. Dengan cepat ia ingin pulang, karena itulah tujuan yg sebenarnya: membantu sanak saudaranya.

Tetapi perutusan dari khayangan datang menghadap, minta bantuannya dalam peperangan dengan Niwata Kawaca. Arjuna tdk gembira dengan permintaan tersebut, karena itu berarti bahwa tujuannya sendiri tertunda, meskipun pada akhirnya ia setuju. Di buatnya sebuah rencana. Dengan bantuan bidadari Supraba yang sejak lama di pinang oleh sang raja para Gandarwa itu, maka Arjuna berhasil mengetahui rahasia Niwata Kawaca. Kalau pucuk lidahnya terkena, maka ia akan tewas. Tidak lama berselang, terjadilah peperangan, dan setelah mereka bertanding dgn sengitnya, maka akhirnya Arjuna berhasil merebut kemenangan dengan melepaskan anak panahnya terhadap pucuk lidah Niwata Kawaca dan dengan demikian menewaskan lawannya.

Setelah disambut dgn meriah di Khayangan, maka Arjuna mohon diri untuk kembali kepada sanak saudaranya dan membantu mereka juga dalam peperangan. Ia berangkat dgn di bekali wejangan, agar di kemudian hari selalu ingat akan sesamanya. Maka dengan demikian, tamatlah kakawin itu.

Source Cerita Serat Arjuna Wiwaha Arsip Budaya Nusantara

Leave A Reply

Your email address will not be published.