budayajawa.id

Sejarah Tembang Tua “Macapat”

0 8
Sekilas Kisah Macapat

Secara umum diperkirakan bahwa macapat muncul pada akhir masa Majapahit dan dimulainya pengaruh Walisanga, namun hal ini hanya bisa dikatakan untuk situasi di Jawa Tengah. Sebab di Jawa Timur dan Bali macapat telah dikenal sebelum datangnya Islam. Sebagai contoh ada sebuah teks dari Bali atau Jawa Timur yang dikenal dengan judul Kidung Ranggalawe dikatakan telah selesai ditulis pada tahun 1334 Masehi. Namun di sisi lain, tarikh ini disangsikan karena karya ini hanya dikenal versinya yang lebih mutakhir dan semua naskah yang memuat teks ini berasal dari Bali.

Tembang macapat merupakan tembang yang konon berasal dari kata “mocone papat papat” (membacanya empat empat), didalam tembang Macapat tersebut dibagi menjadi beberapa jenis nama tembang yang menyiratkan sandi didalam nama jenis tembang macapat tersebut, berbagai tafsir nama nama jenis tembang macapat ternyata sangat beragam, mungkin hal ini sangat tergantung dari kemampuan daya tafsir dari penafsir arti nama tembang tembang tersebut dan sepertinya terpengaruh dari pergolakan sejarah dari budaya yang berada di tanah jawa.

Prijohoetomo berpendapat bahwa macapat merupakan turunan kakawin dengan tembang gedhe sebagai perantara. Pendapat ini disangkal oleh Poerbatjaraka dan Zoetmulder. Menurut kedua pakar ini macapat sebagai metrum puisi asli Jawa lebih tua usianya daripada kakawin. Maka macapat baru muncul setelah pengaruh India semakin pudar. Macapat sebagai sebutan metrum puisi jawa pertengahan dan jawa baru, yang hingga kini masih digemari masyarakat, ternyata sulit dilacak sejarah penciptaanya. Purbatjaraka menyatakan bahwa macapat lahir bersamaan dengan syair berbahasa jawa tengahan, belum diketahui secara pasti.

Macapat adalah salah satu bentuk nyanyian yang berasal dari tanah Jawa. Diperkirakan muncul pada akhir masa Majapahit dan dimulainya pengaruh walisanga, namun hal ini hanya bisa dikatakan untuk situasi Jawa Tengah. Dari perkembangannya tembang macapatmenyebar sampai di daerah Sunda, Bali dan Madura sebelum datangnya agama yang di sesuaikan dengan kebudayaan local geniusnya. Menurut cara pembacaannya atau di istilah Jawa (Yen sinawang saka kerata basa), maknanya membacanya empat-empat (maca papat-papat) dan memang membacanya tersusun disetiap suku katanya. Muncul pertama kali tembang macapat belum dapat dipastikan kapan munculnya, dikarenakan seperti tradisi rakyat yang turun-temurun juga tidak diketahui nama pengarang atau penciptanya yang itu semua disebut kepemilikan yang berbasis kolektif. Dalam pencarian sejarahnya tembang macapat, tidak ada tulisan yang sinkron dalam mencari titik jawaban mengungkap sejarah munculnya macapat. Dalam sastra Jawa, tembang macapat digunakan sebagai aturan-aturan membuat kitap-kitap sastra ditanah Jawa karena aturan-aturan lebih mudah  dibangding Sastra Jawa Tengahan dan Sastra Jawa Anyar.

Tembang Macapat Lebih Tua Daripada Tembang Gede
Pendapat pertama beranggapan bahwa tembang macapat lebih tua dari pada tembang gede tanpa wretta atau tembang gede kawi miring. Tembang macapat timbul pada zaman Majapahit akhir ketika pengaruh kebudayaan Islam mulai surut (Danusuprapta, 1981:153-154). Dikemukakan pula oleh Purbatjaraka bahwa timbulnya macapat bersamaan dengan kidung, dengan anggapan bahwa tembang tengahan tidak ada. ( Poerbatjaraka, 1952 : 72 )
Source Sejarah Tembang Tua "Macapat" Sejarah Tembang Tua "Macapat"

Leave A Reply

Your email address will not be published.