budayajawa.id

“Sejarah Perkembangan Agama Hindu Di Jawa”

0 20
Image result for perkembangan agama hindu di jawa timurPerkembangan Agama Hindu Di Jawa Barat

Drs. R. Soekmono dalam bukunya Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia menyatakan di sekitar tahun 400-500 Masehi di Jawa Barat terdapat suatu kerajaan yang bernama Kerajaan Taruma Negara, yang memerintah pada kerajaan itu adalah “Punawarman”. Kerajaan Taruma Negara meninggalkan banyak prasasti, diantaranya prasasti Ciaruteun, Kebon Kopi, Jambu, Pasir Awi, Muara Cianten, dan Tugu. Prasasti-prasasti itu kebanyakan ditulis dengan mempergunakan huruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta yang digubah dalam bentuk syair. Dalam prasasti Ciaruteun terdapat lukisan dua telapak kaki Sang Punawarman yang disamakan dengan tapak kaki dewa Wisnu.

Hal ini menegaskan bahwa Raja Punawarman adalah penganut Hindu yang menonjolkan Wisnu, manifestasi Tuhan Yang Maha Esa dalam fungsi memberikan kemakmuran. Pada Prasasti Kebon Kopi terdapat gambaran tapak kaki gajah dari sang raja yang dikatakan sebagai tapak kaki Airawata (gajah Indra). Keterangan dalam prasasti Tugu mendukung pendapat ini, yang menyatakan bahwa raja Punawarman dalam tahun yang ke-22 pemerintahannya menggali sungai Gomati yang panjangnya 6122 busur (kurang lebih 12 KM) dalam waktu 21 hari, bertempat di samping sungai yang telah ada yaitu sungai Candra Bhaga (kali Bekasi). Pekerjaan ini ditutup dengan menghadirkan berupa 1000 ekor lembu kepada para brahmana. Penemuan arca perunggu yang memakai atribut Wisnu dalam penggalian di Cibuaya, diperkirakan dibuat pada zaman pemerintahan raja Punawarman. Hal ini memperkuat lagi pendapat bahwa raja Punawarman adalah penganut Hindu yang menonjolkan Wisnu dalam pemujaan.

Perkembangan Agama Hindu di Jawa Tengah

Keberadaan pengaruh Agama Hindu di Jawa Tengah dapat diketahui melalui bukti-bukti peninggalan sejarah berupa prasasti. Di Jawa Tengah tepatnya di lereng Gunng Merbabu, sebelah barat Desa Dakawu Kewedanaan Grebeng diketemukan sebuah prasasti yang diberi nama Prasasti Tukmas. Prasasti Tukmas ditulis dengan menggunakan huruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta. Dilihat dari tipe tulisannya Prasasti Tukmas yang ditulis dengan huruf Pallawa berasal dari tahun 650 Masehi. Di dalam Prasasti tersebut terdapat gambar-gambar atribut Dewa Tri Murti seperti Tri Cula yang melambangkan dewa Siwa, Kendi sebagai lambang Dewa Brahma dan Cakra yang melambangkan dewa Wisnu.

Berdasarkan sumber-sumber berita Tionghoa dari zaman pemerintahan raja-raja Tang (tahun 618-696) di Jawa Tengah disebutkan ada sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Kaling atau Holing. Sejak tahun 674 Masehi kerajaannya diperintah oleh seorang raja perempuan bernama “Raja Sima”. Selanjutnya di dalam Prasasti Canggal, yang memakai angka tahun Candra Sengkala yang berbunyi “Sruti Indra Rasa” berarti tahu 654 Caka (th. 732 Masehi) menyebutkan bahwa raja Sanjaya mendirikan sebuah Lingga sebagai simbol untuk memuja Sang Hyang Widhi dalam wujud sebagi Dewa Siwa di sebuah bukit di daerah Kunjarakunja. Disamping itu prasasti Canggal juga memuat kata-kata pujian kehadapan Dewa Brahma, Dewa Wisnu dan Dewa Siwa. Hal ini mengingatkan kita pada konsep Tri Murti.

Perkembangan Agama Hindu di Jawa Timur

Keberadaan kerajaan Kanjuruan dapat dipergunakan sebagai salah satu landasan untuk mengetahui perkembangan Agama Hindu di Jawa Timur. Prasasti Dinoyo merupakan bukti peninggalan sejarah kerajaan kanjuruan. Prasasti ini banyak membicarakan tentang perkembangan Agama Hindu di Jawa Timur. Prasasti Dinoyo ditulis mempergunakan huruf Kawi (Jawa Kuno) dengan bahasa Sansekerta menuliskan angka tahun 760 Masehi. Dikisahkan bahwa dalam abad ke 8 kerajaan yang berpusat di kanjuruan bernama dewa Simha. Beliau memiliki putra bernama Limwa setelah menggantikan ayahnya sebagai raja bernama Gajayana. Raja Gajayana mendirikan sebuah tempat pemujaan untuk memuliakan Maha Rsi Agastya. Arca Maha Rsi Agastya pada mulanya  terbuat dari kayu cendana, kemudian diganti dengan arca batu hitam.

Peresmian arca Maha Rsi Agastya dilaksanakan tahun 760 Masehi. Pelaksanaan upacaranya dipimpin oleh para pendeta ahli weda. Pada saat itu pula Raja Gajayana dikisahkan menghadiahkan tanah, lembu dan bangunan untuk para brahmana dan para tamu. Dinyatakan bahwa salah satu bentuk bangunan itu yang berasal dari zaman kerajaan Kanjuruan adalah “Candi Badut”. Di dalam candi inilah diketemukan sebuah lingga sebagai perwujudan dari dewa Siwa. Di dalam prasasti Dinoyo juga dituliskan tentang perjalanan Maha Rsi Agastya dari India menuju Indonesia untuk menyebarkan dan mengajarkan agama Hindu.

Selanjutnya perkembangan agama Hindu di Jawa Timur dapat diketahui dari berdirinya Dinasti Isyanawangsa yang berkuasa tahun 929-947 Masehi. Dinasti ini diperintah oleh Mpu Sindok, yang mempergunakan gelar “Isyana Tunggawijaya”. Isyana Tunggawijaya berarti raja yang memuliakan pemujaan kehadapan Dewa Siwa. Setelah kekuasaan Isyana Tunggawijaya berakhir berkuasalah raja Airlangga yang memerintah sampai tahun 1049 Masehi. Beliau bergelar “Cri Maharaja Rake Halu Cri Lokecwara Dharmawangca Airlangga Anantawikramottungga Dewa” yang dinobatkan oleh pendeta Siwa dan Budha. Raja Airlangga setelah mengundurkan diri dari tahtanya beliau wafat tahun 1049 Masehi dan dimakamkan di candi Belahan. Airlangga diwujudkan sebagai Dewa Wisnu dengan arca Wisnu duduk di atas garuda. Banyak karya sastra bernafaskan ajaran agama Hindu diterbitkan pada zaman Dharmawangsa, diantaranya kitab Purwadigama yang bersumber pada kitab Menawa Dharmasastra. Sedangkan kitab Negara Kertagama, Arjuna Wiwaha, Sutasoma, dan yang lainnya muncul pada zaman Majapahit. Pada zaman ini juga dibangun berbagai macam candi seperti candi penataran di Blitar. Berdasarkan petunjuk peninggalan sejarah seperti tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa perkembangan Agama Hindu di Jawa Timur sangat subur dan harmonis.

Source "Sejarah Perkembangan Agama Hindu Di Jawa" "Sejarah Perkembangan Agama Hindu Di Jawa"

Leave A Reply

Your email address will not be published.