budayajawa.id

Sejarah Mitos Setu Pahing di Purbalingga

0 25

Sejarah Mitos Setu Pahing di Purbalingga

Masyarakat di Kecamatan Kemangkon dan Bukateja mengenal adanya mitos “dina setu pahing“. Sebuah mitos yang menjadi bagian dari sejarah di Purbalingga. Dina Setu Pahing artinya Sabtu Pasaran Pahing. Mitos ini masih dipercaya oleh masyarakat di Purbalingga dan sekitarnya. Masih banyak orang yang meyakini Sabtu pahing begitu sakral. Mitos ini bermula pada abad XVI. Awal ceritanya, Adipati Wirasaba Wargatuma I mengawinkan putrinya, Rara Sukartiyah. Putri yang masih belia itu dinikahkan dengan Bagus Sukara, anak Ki Gede Banyureka. Ki Gede Banyureka adalah Demang Toyareka (sekarang masuk wilayah Kecamatan Kemangkon).

Ternyata, Rara Sukartiyah dan Bagus Sukara tidak mengalami kecocokan. Rara Sukartiyah tidak bersedia memberikan palayanan batin kepada suami. Akhirnya, Bagus Sukra memutuskan untuk kembali kerumah orang tuanya di Toyareka. Ki Gede Banyureka marah atas kepulangan Bagus Sukra. Demang Toyareka itu menuduh Adipati Wirasaba tidak bisa mendidik putrinya sehingga keluarga anaknya tidak harmonis. Suatu ketika, Sultan Pajang R Hadiwijaya meminta upeti seorang gadis untuk dijadikan selir atau penari kesultanan. Sultan Pajang pun meminta upeti kepada Adipati Wargautama I.

Sebagai lambang kesetiaannya, Adipati Wargautama I menyerahkan Rara Sukartiyah kepada Sultan Pajang. Ia mengatakan bahwa puterinya itu masih dalam keadaan perawan. Selesai menghaturkan segera ia beranjak meninggalkan pendopo kesultanan. Namun, tidak lama kemudian, Ki Gede Banyureka bersama Bagus Sukra menghadap Sultan. Kedua orang ini bercerita kalau Rara Sukartiyah yang baru diserahkan ke Sultan adalah istri dari Bagus Sukra. Mendengar cerita itu, Sang Sultan marah. Ia merasa dibohongi. Tanpa pikir panjang, Sultan mengutus prajurit untuk memburu Adipati Wirasaba yang belum lama meninggalkan pendopo.

Setelah Ki Banyureka dan Bagus Sukra pamit, dipanggilah Rara Sukartiyah untuk dimintai keterangan. Dengan tenang Rara menjelaskan dan mengakui bahwa dirinya masih menjadi istri Bagus Sukra, tetapi sejak mulai menikah belum pernah melakukan hubungan suami istri. Setelah mendapat penjelasan dari selir barunya itu, Sultan tersadar bahwa keputusanya mengutus gandek terlalu tergesa-gesa tanpa menyelidiki kebenaran informasi dari Ki Gede Banyureka. Akhirnya diutus lagi prajurit untuk menyusul prajurit pertama guna membatalkan hukuman mati.

Sementara itu, Adipati Wirasaba sudah sampai di Desa Bener. Ia berisitirahat di sebuah rumah balai malang sambil makan hidangan nasi dan lauk daging angsa. Balai malang adalah rumah yang pintu depannya di bawah pongpok. Tiba-tiba datanglah seorang prajurit pajang dengan tombak di tangan siap membunuhnya. Tentu saja sikap prajurit Pajang itu menjadi kejutan bagi Adipati Wirasaba.

Kemudian, terdengar orang berteriak dari kejauhan. Prajurit itu menoleh kearah suara itu, terlihat rekannya melambaikan tangan. Tanpa pikir panjang ditusukan tombak itu kepada Adipati Wirasaba, sehingga korban jatuh terkapar berlumuran darah. Peristiwa ini terjadi bertepatan dengan hari Sabtu Pahing. Setelah sama-sama mengerti bahwa lambaian tangan tadi sebenarnya merupakan isyarat, agar pembunuhan dibatalkan, kedua prajurit yang diutus Sultan Pajang itu sangat menyesal.

Sesaat sebelum menemui ajalnya Adipati Wargatuma I konon sempat memberi pesan, agar orang-orang Banyumas sampai turun-temurun jangan berpergian di Sabtu Pahing, jangan makan daging angsa, jangan menempati rumah balai malang dan jangan menaiki kuda berwarna dawuk bang. Karena menurutnya dapat mendatangkan malapetaka. Adipati juga berpesan agar orang-orang Wirasaba tidak dikawinkan dengan orang Toyareka. Pesan-pesan tersebut dijadikan prasasti pada makam Adipati Wirasaba dan menjadi kepercayaan turun temurun.

Berdasarkan pada Buku Babad dan Sejarah Purbalingga yang ditulis Tri Atmo, jenazah Adipati Wargautama I dimakamkan di Desa Klampok, Kabupaten Banjarnegara dan dikenal dengan sebutan makam Adipati Wirasaba.

Source http://dolanpurbalingga.com http://dolanpurbalingga.com/2017/10/11/sejarah-mitos-setu-pahing-di-purbalingga/
Comments
Loading...