budayajawa.id

Ratu Sima Sang Penguasa Kalingga yang Tersohor di Nusantara

0 28

Ratu Sima Sang Penguasa Kalingga yang Tersohor di Nusantara

Kerajaan Kalingga ini telah ada sejak sekitar abad ke-6 Masehi dan tentang keberadaannya bisa diketahui dari sumber-sumber Tiongkok. Karena memang, catatan sejarah formal mengenai keberadaan kerajaan Kalingga ini didapatkan dari dua sumber utama, yaitu dari kronik sejarah Tiongkok, serta catatan sejarah manuskrip lokal, di tambah dengan tradisi lisan setempat yang menyebutkan kisah dari seorang ratu legendaris yang bernama Ratu Shima.

Di masa lalu, kerajaan ini pernah di pimpin oleh Ratu Shima yang dikenal memiliki peraturan: “Barang siapa yang mencuri atau berbuat kriminal akan dipotong tangannya”. Dalam menjalankan roda pemerintahannya, Ratu Shima selalu di kagumi oleh semua orang, baik di dalam negeri atau pun manca negara. Ia adalah sosok yang cerdas dan sangat kharismatik, yang mampu mensejahterakan rakyat dan kerajaannya. Dan dimasa pemerintahannya, kerajaan Kalingga bisa mencapai masa keemasannya

Asal usul Ratu Shima

Shima adalah seorang penguasa di kerajaan Kalingga yang lahir pada sekitar tahun 611 Masehi di wilayah Musi Banyuasin, Sumatera Selatan sekarang. Ia adalah isteri dari raja Kalingga yang bernama Kartikeyasingha (berkuasa tahun 648-674 Masehi). Ketika suaminya Prabu Kartikeyasingha wafat, Shima binti Hyang Syailendra bin Santanu (dari Malaya?) ini lalu naik tahta dengan gelar Sri Maharani Mahissasuramardini Satyaputikeswara.

Ayah dari Prabu Kartikeyasingha adalah raja Kalingga (berkuasa tahun 632-648 M). Sementara itu ibunda Prabu Kartikeyasingha berasal dari kerajaan Malayu Sribuja yang beribukota di Palembang. Raja Malayu Sribuja – yang dikalahkan oleh Sriwijaya tahun 683 Masehi – adalah kakak dari ibunda Prabu Kartikeyasingha. Ratu Shima sendiri adalah putri dari seorang pendeta di wilayah Malayu. Ia adalah istri pangeran Kartikeyasingha (sebelum menjadi raja) yang merupakan keponakan dari raja di kerajaan Malayu Sribuja. Ia kemudian tinggal di daerah yang dikenal sebagai wilayah Adi Hyang (leluhur agung), atau yang sekarang bernama Dieng (di sekitar kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah). Perkawinan Kartikeyasingha dengan Shima lalu melahirkan dua orang anak, yaitu Parwati dan Narayana (Iswara).

Parwati lalu menikah dengan putera mahkota dari kerajaan Galuh yang bernama Sang Jalantara atau Rahyang Mandiminyak (raja ke-2 kerajaan Galuh dengan gelar Prabu Suraghana, tahun berkuasa sekitar 702-209 M) dan berputri Dewi Sannaha. Dewi Sannaha lalu diperistri oleh Bratasenawa atau Prabu Sena/Sanna yang menurunkan anak bernama Sanjaya alias Sang Rakai Mataram (pendiri kerajaan Medang, berkuasa tahun 723-732 M).

Kemudian pada sekitar tahun 703/704 M, Sanjaya menikahi Dewi Sekar Kancana (Teja Kancana Ayupurnawangi) putri dari Rakyan Sundasembawa bin Sri Maharaja Tarusbawa, cucu dari Sri Maharaja Tarusbawa dari kerajaan Sunda. Sehingga Maharaja Harisdarma atau Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya sempat menjadi raja di kerajaan Galuh (ia merebut kembali tahta Galuh ini di tahun 723 Masehi dari tangan Sang Purbasora yang sebelumnya telah merebut tahta Galuh itu dari ayahnya; Sena/Sanna) dan juga di kerajaan Sunda (ia menerima tahta kerajaan ini dari kakek mertuanya, yaitu Sri Maharaja Tarusbawa) pada sekitar tahun 723 Masehi, sehingga ia menjadi Maharaja Sunda dan Galuh sekaligus (tahun berkuasa 723-732 M).

Sebagai tambahan, Sri Maharaja Linggawarman, atau sang penguasa terakhir di kerajaan Tarumanagara (tahun berkuasa 666-669 Masehi) mempunyai dua orang putri. Yang sulung bernama Dewi Manasih. Ia menjadi istri dari Sri Maharaja Tarusbawa yang menerima tahta kerajaan Tarumanagara dari mertuanya itu, lalu mendirikan kerajaan Sunda (669 M). Sementara puteri yang kedua yang bernama Dewi Sobakancana menjadi isteri dari Dapunta Hyang Sri Jayanasa, pendiri kerajaan Sriwijaya pada sekitar tahun 671 Masehi. Ia adalah sosok pangeran keturunan raja-raja kerajaan Malayapura dan Tarumanagara.

Pemerintahan Ratu Shima
Pada tahun 500-an Masehi pulau Sumatera dikuasai oleh dua kerajaan kuat, yaitu kerajaan Pali (di utara) dan kerajaan Malayu Sribuja (di timur, yang beribukota di Palembang). Sedangkan kerajaan Sriwijaya saat itu baru merupakan kerajaan kecil di sekitar Jambi. Sekitar tahun 676 Masehi, kerajaan Pali dan Mahasin (Singapura) ditaklukan oleh Sriwijaya. Lalu di tahun 683 Masehi, kerajaan Sriwijaya telah berhasil menaklukan kerajaan Malayu Sribuja. Ekspansi Sriwijaya terhadap kerajaan Malayu Sribuja yang sebenarnya masih memiliki kekerabatan dengan Kalingga tentu sangat mengganggu hubungannya dengan Kalingga. Maka, Sriwijaya mencoba mencairkan hubungan dengan kerajaan Sunda dan Kalingga.

Langkah diplomatik di lakukan antara kerajaan Sriwijaya dan kerajaan Sunda yang sebenarnya sama-sama sebagai menantu dari Maharaja Linggawarman (raja terakhir Tarumanagara). Jalinan persaudaraan dan persahabatan kemudian dikenal dengan istilah Mitra Pasamayan. Dimana inti dari isi perjanjiannya adalah untuk tidak saling menyerang dan harus saling membantu.

Kerajaan Kalingga pun ditawari persahabatan, namun Kalingga menolak karena sakit hati atas penyerangan Sriwijaya terhadap Malayu, yang merupakan kerabat dekat Kalingga mengingat Ratu Shima dan ibunda Prabu Kartikeyasingha berasal dari wilayah kerajaan Malayu Sribuja yang beribukota di Palembang. Ketegangan antara Sriwijaya dan Kalingga meruncing, sehingga keduanya sudah mempersiapkan pasukan dalam jumlah besar untuk berperang. Namun akhirnya masih dapat dilerai oleh Sri Maharaja Tarusbawa dari kerajaan Sunda. Ia tampil sebagai sahabat dan kerabat, sehingga Dapunta Hyang Sri Jayanasa lalu mengurungkan niatnya untuk menyerang Kalingga, karena Kalingga itu adalah kerabat dari kerajaan Sunda. Keadaan ini berlangsung hingga Sri Jayanasa mangkat pada sekitar tahun 692 Masehi dan digantikan oleh Darmaputra (692-704 M).

Sang Ratu Shima, dalam pemerintahannya membuat kerajaan Kalingga aman karena beraliansi dengan kerajaan Sunda dan Galuh. Terutama karena sikap tegas dan dia sangat dicintai oleh rakyatnya. Sang Ratu juga telah menerapkan hukum yang keras dan tegas untuk memberantas pencurian dan kejahatan, serta untuk mendorong agar rakyatnya senantiasa jujur. Tradisi telah mengisahkan ada seorang raja asing yang meletakkan kantung berisi emas di tengah-tengah persimpangan jalan dekat alun-alun ibu kota kerajaan Kalingga. Raja asing tersebut melakukan hal itu karena ia mendengar kabar tentang kejujuran dari rakyat Kalingga dan berniat menguji kebenaran kabar itu. Tidak seorangpun berani menyentuh kantung yang bukan miliknya itu selama lebih dari tiga tahun, hingga pada suatu hari ada seorang putra Ratu Shima, sang putra mahkota, secara sengaja menyentuh kantung itu dengan kakinya – bukan untuk mencurinya, karena hanya sebatas menyentuh saja. Mulanya Sang Ratu Shima menjatuhkan hukuman mati untuk putranya, akan tetapi para pejabat dan menteri kerajaan memohon agar Sang Ratu mau mengurungkan niatnya itu dan mengampuni sang pangeran. Karena kaki sang pangeran yang menyentuh barang yang bukan miliknya itu, maka Ratu pun menjatuhkan hukuman memotong kaki sang pangeran. Demikianlah ketegasan sang ratu yang tanpa pandang bulu dalam menegakkan hukum negara.

Masa kepemimpinan dari Ratu Shima menjadi masa keemasan bagi kerajaan Kalingga, sehingga membuat raja-raja dari kerajaan lain merasa segan, hormat, kagum sekaligus penasaran. Masa-masa itu adalah zaman keemasan bagi perkembangan kebudayaan apapun. Agama Buddha juga berkembang secara harmonis dengan agama Hindu Siwa, sehingga wilayah di seputaran kerajaan Kalingga juga sering disebut dengan Di Hyang (tempat bersatunya dua kepercayaan; Hindu dan Buddha). Dalam hal bercocok tanam, Ratu Shima juga mengadopsi sistem pertanian dari kerajaan kakak mertuanya. Ia bahkan merancang sistem pengairan yang diberi nama Subak. Kebudayaan baru ini yang kemudian melahirkan istilah Tanibhala, atau masyarakat yang bermata pencaharian dengan cara bertani atau bercocok tanam.

Lebih dari seribu tahun yang lalu kerajaan Kalingga itu pernah bersinar penuh kejayaan. Memiliki seorang Maharani yang bernama Ratu Shima yang terkenal ayu, anggun, dan perwira, yang ketegasannya semerbak wangi di banyak negeri. Pamor Ratu Shima dalam memimpin kerajaannya luar biasa, amat dicintai rakyat jelata, wong cilik sampai lingkaran para elit kekuasaan. Bahkan konon tak ada satu warga anggota kerajaan pun yang berani berhadapan muka dengannya, apalagi menantang. Hal itu disebabkan oleh kharisma dari sang ratu sendiri yang luarbiasa, sehingga siapapun amat segan kepadanya. Tapi situasi ini sebenarnya justru membuat Ratu Shima amat resah dengan kepatuhan rakyatnya, kenapa wong cilik juga para pejabat mahapatih, senopati, adipati dan manteri, hulubalang, jagabaya, jagatirta, dan ulu-ulu, tak ada yang berani menentang sabda pandita ratunya. Sebab, jika ia melakukan kesalahan maka dikhawatirkan tak ada yang bisa mengingatkan atau meluruskan jalannya. Ini adalah suatu hal yang tidak baik bagi kehidupan negara. Tapi begitulah keadaannya, rakyat Kalingga sangat kagum dan percaya kepada ratunya. Mereka selalu menuruti perintah dan ajakan dari sang ratu, karena itulah yang terbaik bagi semuanya.

Source Ratu Sima Sang Penguasa Kalingga yang Tersohor di Nusantara Perjalanan Cinta
Comments
Loading...