budayajawa.id

Perbedaan Mahabarata Jawa Kuno dan Mahabarata India

0 7

Perbedaan Mahabarata Jawa Kuno dan Mahabarata India

Secara singkat, Mahabharata menceritakan kisah konflik para Pandawa lima dengan saudara sepupu mereka sang seratus Korawa, mengenai sengketa hak pemerintahan tanah negara Astina. Puncaknya adalah perang Bharatayuddha di medan Kurusetra dan pertempuran berlangsung selama delapan belas hari.

Di India ditemukan dua versi utama Mahabharata dalam bahasa Sansekerta yang agak berbeda satu sama lain. Kedua versi ini disebut dengan istilah “Versi Utara” dan “Versi Selatan”. Biasanya versi utara dianggap lebih dekat dengan versi yang tertua. Mahabharata merupakan kisah epik yang terbagi menjadi delapan belas kitab atau sering disebut Astadasaparwa.

Rangkaian kitab menceritakan kronologi peristiwa dalam kisah Mahabharata, yakni semenjak kisah para leluhur Pandawa dan Korawa (Yayati, Yadu, Puru, Kuru, Duswanta, Sakuntala, Bharata) sampai kisah diterimanya Pandawa di surga. Berikut ini merupakan nama-nama kitab Mahabarata Adiparwa, Sabhaparwa, Wanaparwa, Wirataparwa, Udyogaparwa, Bhismaparwa, Dronaparwa, Karnaparwa, Salyaparwa, Sauptikaparwa, Striparwa, Santiparwa, Anusasanaparwa, Aswamedhikaparwa, Asramawasikaparwa, Mosalaparwa, Mahaprastanikaparwa, Swargarohanaparwa.

 Mahabarata yang asal mulanya berupa puisi digubah menjadi prosa yang pada karya aslinya terdiri dari 18 parwa, yang dapat ditemui dalam versi Jawa Kuno hanya 9 parwa saja yaitu : Adiparwa, sobhaparwa, Wirataparwa, Bhimaparwa, Astramawasaparwa, Mosalaparwa, Prostanikaparwa dan Swarga Robanaparwa.

Dalam kesusasteraan Jawa kuna hanya mengulas cerita Mahabarata secara singkat, tidak seperti yang tertulis pada Mahabarata versi India. Selain itu terdapat pula beberapa perbedaan cerita antara Mahabarata Jawa kuna dengan mahabarata India. Perbedaan itu antara lain terdapat dalam penggambaran tokoh Drupadi dan Srikandi.

Kisah Drupadi pada Mahabarata India diawali dari sayembara yang diadakan oleh ayahnya, prabu Drupada. Isi sayembara tersebut adalah “siapa bisa mengangkat busur dan memanahkan anak panah pada cakra yang terus berputar, dia yang berhak mempersunting Drupadi”. Pada hari sayembara, banyak para ksatria yang tidak mampu menjawab tantang itu, sampai kemudian Karna berhasil melakukannya. Sayang, drupadi enggan bersuamikan seorang anak kusir.

Maka majulah seorang brahmana yang sanggup menjawab tantangan itu, dia adalah arjuna. Namun karena Arjuna mengikuti sayembara atas nama Pandawa, akhirnya drupadi menjadi istri bagi kelima pandawa (poliandri). Dari kelima suaminya itu drupadi beroleh lima orang putra: Pratiwinda, Sutasoma, Srutakirti, Satanika, Srutakama.

Pada versi Jawa kuna kisah Drupadi diawali dari “Sayembara Gandamana”, patih kerajaan Pancala itu buat tantangan siapa yang bisa mengalahkan dia berhak mempersunting putri rajanya. Yang memenangkan sayembara itu adalah Bima (sebenarnya Gandamana unggul, tetapi ketika ia berhasil melumpuhkan Bima, panegak pandawa itu nangis dan menyebut nama ayahnya: Pandu Dewanata, sehingga gandamana trenyuh teringat pada mantan Rajanya itu dan akhirnya justru mewariskan aji bandung bandawasa).

Tetapi karena Bima ikut sayembara bukan untuk dirinya tetapi untuk Puntadewa, akhirnya ia menjadi istri bagi Puntadewa saja. Dari Puntadewa ini, drupadi mempunya anak raden Pancawala. Perubahan cerita ini karena Poliandri (seorang wanita bersuamikan lebih dari satu suami) itu dilarang dalam hukum Islam.

Sedangkan kisah Srikandi versi Mahabarata India diawali dengan kisah Dewi Amba sakit hati karena cintanya pada raja Salwa dari Saubala akhirnya harus pupus karena Bisma memenangkan Sayembara untuk memperoleh dirinya. Namun ketika ia akhrinya menyerahkan dirinya pada Bisma, putra Santanu itu pun menolaknya, sebab ia ikut sayembara untuk adiknya lain Ibu: Wichitrawirya. Sakit hati kerena merasa dipermalukan, Dewi Amba ini kemudian bertapa dan berdoa pada para dewa agar bisa membalas sakit hatinya itu. Keinginannya terpenuhi sehingga akhirnya Amba bereinkarnasi menjadi Srikandi, putri prabu Drupada.

Suatu saat, Drupada mengambil untaian bunga (yang diletakkan oleh Dewi Amba saat ia meninggalkan Hastinapura karena sakit hati) dan mengalungkannya pada Srikandi. Ajaib, kelamin putrinya itu berubah jadi laki-laki. Menurut Wiracarita Mahabarata, srikandi ini tetap sebagai pria (meskipun penampilannya seorang wanita) dan dia punya seorang Istri. (Ini artinya, menurut Mahabarata, Srikandi itu bukan istri Arjauna).

Saat perang di Kurukshetra, Bisma sadar bahwa Srikandi adalah reinkarnasi Amba, dan karena ia tidak ingin menyerang “seorang wanita”, ia menjatuhkan senjatanya. Tahu bahwa Bisma akan bersikap demikian terhadap Srikandi, Arjuna bersembunyi di belakang Srikandi dan menyerang Bisma sampai akhirnya senopati tua itu terbunuh.

Pada versi Jawa kuna diceritakan Srikandi adalah putri prabu Drupada yang tetap menjadi seorang putri. Dalam lakon “Mbangun Taman Maerokoco”, ia diajari memanah oleh Arjuna dan akhirnya menikah dan beroleh seorang putra. Ini artinya, Srikandi tetap sebagai wanita, beda dengan wiracarita Mahabarata versi India, dimana Srikandi berkelamin laki-laki (walau penampilannya seperti wanita).

Dalam cerita Jawa, Srikandi pernah menjadi seorang satria: Bambang Kandihawa yang menikah berhubungan dengan seorang resi Amintuna (jelmaan Arjuna) dan beroleh keturunan: Nirbita Niwatakawaca (dialah yang pernah memaksa melamar Bathari Supraba tetapi gagal karena bisa dibunuh oleh Begawan Ciptowening, jelmaan Arjuna, alias bapaknya sendiri). Akhir hidup Srikandi sama antara versi Jawa kuna dan India yakni dibunuh oleh Aswatama pasca perang Barathayuda, saat mereka sedang merayakan kelahiran anak Abimanyu dari Utari: Parikesit.

Perbedaan lainnya juga terdapat pada bagian mengenai Hidimbi yang jatuh cinta pada Bima, akan tetapi cintanya ditolak oleh Bima. Ia kemudian menulis surat pada Dewi Kunthi, ibu Bima. Dalam cerita Mahabarata India, Kunthi meminta Yudhistira, anak sulungnya, untuk memberi jawaban pada Hidimbi. Sedangkan pada versi Jawa kuna Hidimbi sendirilah yang memberi jawaban.

 Mengenai perbedaan cerita antara versi Jawa kuno dengan versi India adalah dikarenakan dengan budaya dan adat istiadat setempat. Drupadi bersuamikan 5 orang, mungkin hal yang biasa di India, Tetapi di Indonesia, khususnya di Jawa, hal itu tidak bisa diterima. Begitu pula dengan perbedaan antara Srikandi yang terlahir sebagai laki-laki atau perempuan. Dalam adat Jawa, perempuan digambarkan sebagai  sosok yang lemah lembut, bukan sebagai sosok yang perkasa. Apalagi penampilannya menyerupai laki-laki.

Source Perbedaan Mahabarata Jawa Kuno dan Mahabarata India Belajar Berimaji
Comments
Loading...