budayajawa.id

Pepatah Dalam Bahasa Jawa

0 96

Pepatah Dalam Bahasa Jawa

Salah satu bentuk gaya bahasa yang sering digunakan oleh masyarakat Jawa untuk memberi nasihat, teguran atau sindiran yang di tujukan kepada orang lain biasanya dalam bahasa Jawa di sebut dengan Pepatah atau Peribahasa. Adapun isi dari sebuah Pepatah biasanya memuat hal-hal yang bijak.

Gaya penyampaiannya ada yang dilakukan secara lugas, ada yang menggunakan perbandingan, dan ada pula yang menggunakan perumpamaan.Pepatah merupakan turunan generasi ke generasi.

Pepatah ada 3 macam ,di antaranya ialah :

A. Pepatah Jawa – Paribasan

Paribasan adalah pepatah Jawa yang terdiri dari rangkaian kata yang penggunaannya tetap tidak boleh diubah dan tidak boleh dialih bahasakan menjadi bahasa krama. Paribasan  tersebut di sampaikan secara jelas.Contoh dari Paribasan sebagai berikut :

  • Anak polah bapa kepradhah, artinya Tingkah polah anak, orang tua ikut menanggung akibatnya.
  • Becik ketitik ala ketara, artinya Baik ataupun buruk pasti akan ketahuan.
  • Dudu sanak dudu kadang yen mati melu kelangan, artinya meski bukan saudara jika meninggal akan turut merasa kehilangan.

B. Pepatah Jawa – Bebasan

Bebasan merupakan pepatah Jawa yang terdiri dari rangkaian kata yang bersifat tetap dalam penggunannya, tidak bisa diubah ke bahasa krama atau yang lainnya. Kata dala bebasan ini memiliki makna konotatif, maknanya ialah makna pengandaian. Yang di andaikan seperti keadaan, sifat, watak serta perbuatan seseorang.Sebagai contohnya ialah sebagai berikut :

  • Urip iku urup (hidup itu nyala), artinya bahwa hidup harus bisa memberi cahaya kebaikan bagi sesama.
  • Ngenteni endoge si blorok (menunggu telurnya si Blorok/ayam), artinya menunggu sesuatu hal yang belum pasti.
  • Ancik-ancik pucuking eri (berdiri di atas ujung duri), artinya sedang dalam ancaman/bahaya
  • Adhang-adhang tetesing embun (berharap tetesan embun), artinya berharap anugerah Tuhan.

C. Pepatah Jawa – Saloka

Pepatah Jawa yang terdiri dari rangkaian kata yang bersifat tetap dalam penggunannya, tidak bisa diubah ke bahasa krama atau yang lainnya biasanya di sebut dengan Saloka. Kata dala bebasan ini memiliki makna konotatif, mengandung makna pengandaian, akan tetapi bila dalam Saloka ini semua bisa di andaikan.  Contohnya ialah :

  • Kebo nusu gudel (kerbau menyusu pada anaknya), artinya orang tua yang minta diajari oleh orang yang lebih muda.
  • Kakehan gludug kurang udan (terlalu banyak petir kurang/tidak hujan), artinya terlalu banyak bicara namun tak ada bukti.
  • Cecak nguntal cagak (cicak makan tiang), artinya cita-cita yang tidak mungkin bisa diraih karena tidak sesuai dengan kekuatannya.

 

Source Pepatah Dalam Bahasa Jawa kesolo.com

Leave A Reply

Your email address will not be published.