budayajawa.id

Pementasan Seni Tayub Grobogan

0 22

Pementasan Seni Tayub Grobogan

Tari Tayub atau acara Tayuban. Merupakan salah satu kesenian Jawa mengandung unsur keindahan dan keserasian gerak. Unsur keindahan diikuti dengan kemampuan penari dalam melakonkan tari yang dibawakan. Tari tayub mirip dengan tari Gambyong yang lebih populer dari Jawa Tengah. Tarian ini biasa digelar pada acara pernikahan, khitan, sedekah bumi serta acara kebesaran misalnya hari kemerdekaan Republik Indonesia. Perayaan kemenangan dalam pemilihan kepala desa, serta acara bersih desa.

Penari tarian tayub ini lebih dikenal dengan sebutan ledek. Anggota yang ikut dalam kesenian ini terdiri dari sinden,  penata gamelan (niyaga) serta penari khususnya wanita (ledek). Penari Tayub mengenakan kostum yang realistis yaitu rambut di sanggul gaya Jawa, kain biasa dan kain selendang sebagai penutup dada (kemben). Penari tersebut masih memakai selendang (sampur) untuk menari. Seiring perkembangan zaman sekarang para ledek menggunakan kostum kebaya yang modern, tidak selalu memekai kemben (dapat disebut juga dengan basahan). Tampil dengan kostum yang kontras sebatas dada dihiasi make up yang medhok-merok dan bau parfum yang menyengat hidung, kemudian berlenggang-lenggok di atas gelaran tikar merupakan ciri khas sripanggung pertunjukan tayub.

Dengan iringan gamelan yang mengalun, sang ledhek mulai mengucapkan matra dalam bentuk tembang. Ada suasana sakral di sana. Di tengah asap dupa yang membubung dengan segenap uba rapenya semacam ayam panggang, keris, onggokan pisang, ketupat, dan beras putih, sang ledhek tak henti-hentinya mengucapkan mantra sambil menyebar beras putih ke segala penjuru sebagai tulak balak: “…ana sengkala saka kulon tinulak bali mangulon. Sing nulak balak Raja Iman Slamet …” (ada musibah dari barat ditolak kembali ke barat. Yang menolak Raja Iman Selamat) ….” Byur! Beras putih disebar ke arah barat. Demikian seterusnya higga tujuh kali sesuai dengan arah yang disebutkan. Setelah sang ledhek selesai mengucapkan mantra dalam bentuk tembang, tamatlah pertunjukan sebagai pertanda bahwa nazar telah dilaksanakan. Mereka yakin, musibah tak mungkin muncul sekaligus sang empunya nazar terhindari dari segala petaka.

Pelaksanaan acara dilaksanakan pada tengah malam antara jam 21.00-03.00 pagi. Dari jam 21.00 sampai jam 24.00 itu waktu diisi dengan klenengan sebagai pra-tontonan sebelum pertunjukan Tayub yang sebenarnya dimulai. Setelah beberapa gending (lagu) pemanasan didendangkan,  saat yang ditunggu-tunggu para lelaki yang duduk di barisan depan (biasanya tamu kehormatan lebih dahulu) datang. Sang penari mengajak pria dengan cara mengalungkan selendang yang disebut dengan sampur kepada pria kemudian diajak untuk menari bersama. Para Tamu pria kemudian menari berpasangan dengan ledhek, seirama dengan iringan gamelan, sesuai dengan gending (lagu jawa) yang dipesan.

Umumnya mereka cuma mendapat bagian jatah satu lagu karena banyak lelaki lain yang menunggu untuk mendapat giliran menjadi pengibing, menari bersama ledek. Lenggak-lenggok tangan dan pinggul ledek mengikuti irama gamelan membius mereka. Lagu yang didendangkan tak melulu gending Jawa seperti Caping Gunung, tapi juga lagu-lagu campur sari dan bahkan lagu dangdut semacam Sinden Panggung. Kendati gendingnya dipungut dari berbagai jenis musik, pengiringnya tetap gamelan.Tari tayub merupakan tarian pergaulan yang disajikan untuk menjalin hubungan sosial masyarakat.

Beberapa tokoh agama islam menganggap tari tayub melanggar etika agama, dikarenakan tarian ini sering dibarengi dengan minum minuman keras. Pada mulanya pelaksanaan Tayuban tidak lebih dari kontes atau pameran keluwesan dan keterampilan menari berpasangan tanpa meninggalkan unggah-ungguh atau sopan santun ketimuran. Karena minum-minuman keras ini sering terjadi persaingaan antara para tamu pria, persaingan ini ditunjukkan dengan cara memberi uang kepada Ledek atau yang lebih dikenal dengan sawer.

Persaingan ini sering menimbulkan perselisihan antara para tamu pria karena mereka tidak dapat mengontrol diri mereka. Bahkan tidak jarang ada para tamu yang melakukan pelecehan seksual kepada si penari dengan menyentuh atau sekedar mencolek anggota tubuh dari si penari. Tayub tak bisa dilepaskan dari kultur masyarakat yang agraris. Ketidakpastian dalam masyarakat agraris menimbulkan kepercayaan sebagai tari kesuburan bernama tayub. Sebagian orang Jawa percaya kesuburan datang sebagai hasil kerja sama antara langit dan bumi, berwujud turunnya hujan. Orang lelaki disimbolkan sebagai langit, dan wanita menjadi buminya. Itu sebabnya tayub selalu ditarikan laki-laki dan perempuan.

Source Pementasan Seni Tayub Grobogan Soeralaya
Comments
Loading...