budayajawa.id

Mitos Sejarah Waduk Gajah Mungkur

0 3

Asal-Usul Keindahan Waduk Gajah Mungkur

Waduk Gajah Mungkur, yang merupakan salah satu waduk yang sudah banyak dikenal masyarakat, karena merupakan salah satu waduk terbesar di Asia Tenggara. Menurut Priyo, seorang warga sekitar yang berprofesi sebagai nelayan air tawar di waduk tersebut, waduk Gajah Mungkur dibuat untuk menanggulangi banjir yang sering terjadi di daerah Wonogiri dan sekitarnya.

“Waduk ini dulunya dibuat untuk menampung banjir yang sering terjadi di sekitar wilayah Wonogiri ini. Lalu oleh pemerintah desa setempat waduk ini juga difungsikan sebagai irigasi persawahan serta perkebunan milik masyarakat sekitar,” jelasnya. Ia juga menambahkan bahwa waduk yang terletak di 7 KM sisi selatan Wonogiri tersebut berada tepat di bagian pertemuan sungai Keduang.

“Waduk ini berada di tempuran (pertemuan dua hilir sungai) kali Keduang, yang pada tahun 1976 mulai dibangun, pembangunan waduk ini kira-kira memakan waktu 5 tahun,” ujar Priyo. Setiap masyarakat tentu sudah tak asing dengan keindahan panorama alam dan nuansa sejuk di waduk yang mencapai luas 8.800 hektar ini. Di sekitar waduk Gajah Mungkur, anda dapat menikmati beragam pemandangan alam yang menawan.

Para nelayan menggunakan perahu kayu yang sedang mencari ikan, menjadi pemandangan menarik saat mereka menebar jala. Selain itu banyak karamba (seperti kolam yang terbuat dari kayu) juga berada di sekitar waduk tersebut. Pemandangan perbukitan juga nampak hijau membujur dari selatan hingga utara waduk, menambah asri suasana sekitar, salah satunya yaitu bukit Gantole. Wahana permainan air yang berada di sekitar waduk tersebutpun sudah mulai banyak bermunculan.

Priyo mengatakan juga bahwa waduk Gajah Mungkur tersebut digunakan juga sebagai pembangkit tenaga listrik yang meliputi wilayah Sukoharjo, Karanganyar, Klaten hingga Sragen. Terlepas dari keindahan dan segala kemegahan waduk Gajah Mungkur tersebut, ternyata terselip sebuah kisah mitos yang menceritakan asal-usul tempat tersebut.

Menurut Priyo yang juga menjadi sesepuh di desa sekitar, dulunya waduk ini merupakan tempat perebutan kekuasaan. “Dari cerita-cerita para leluhur dulu, asal mula tempat ini karena adanya perebutan kekuasaan antara Gajah Mego dan Gajah Mungkur, Gajah Mego merupakan seorang cucu dari seorang raja yang bernama Gajah Madep. Sedangkan Gajah Mungkur merupakan seorang patih kerajaan,” ungkap Priyo.

Priyo menjelaskan juga bagaimana perebutan kekuasaan itu terjadi.”Dahulu ada sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja bernama Gajah Madep, ia tidak mempunyai seorang anak, tetapi ia mempunyai keponakan yang mempunyai anak bernama Gajah Mego. Ia lalu menyuruh Gajah Mego tersebut untuk menggantikan kekuasaannya, namun karena usia Gajah Mego yang masih sangat Muda, Gajah Mungkur yang saat itu menjadi Patih menolak keputusan Gajah Madep tersebut,” Jelas pria tersebut.

Ia juga menambahkan bahwa, pada akhirnya Gajah Mego dan Gajah Mungkur bertarung dan keduanya menjelma menjadi dua ekor gajah raksasa. Pertarungan kedua Gajah sakti tersebut pada akhirnya dimenangkan oleh Gajah Mungkur.

“Setelah pertarungan hebat tersebut, maka terciptalah sebuah bekas lobang yang sangat besar di tempat ini, lama-lama lobang itupun terisi oleh air dan terciptalah sebuah waduk yang kemudian diberi nama Waduk Gajah Mungkur oleh masyarakat jaman dahulu hingga sekarang,” tambah Priyo.

Priyo juga menunjukkan bahwa di tengah waduk tersebut ada sebuah tempat pemakaman. Menurutnya, tempat pemakaman tersebut merupakan petilasan dari kerajaan-kerajaan yang ada di daerah Wonogiri.

“Makam yang ada di tengah waduk tersebut bisa dilihat saat musim kemarau, karena airnya surut maka makam tersebut akan terlihat. Bentuknyapun saya lihat tidak seperti makam-makam moderen seperti sekarang ini,” pungkas Priyo.

Source Mitos Sejarah Dibalik Asal-Usul Keindahan Waduk Gajah Mungkur Tribun Jogja

Leave A Reply

Your email address will not be published.