budayajawa.id

Makna Ritual Bersih Desa Bagi Masyarakat Jawa

0 4

Makna Ritual Bersih Desa Bagi Masyarakat Jawa

Bersih desa merupakan tradisi turun temurun dalam kebudayaan suatu masyarakat sebagai wujud keharmonisan antara manusia dan alam, karena manusia dan alam merupakan suatu kesatuan. Selain itu, juga sebagai wujud rasa syukur atas karunia Tuhan Yang Maha Esa baik dari hasil panen yang melimpah, kesehatan dan kesejahteraan. Hubungan dua elemen tersebut seakan tidak bisa lepas satu sama lain. Pada jaman modern seperti saat ini, alam seakan menjadi objek untuk meneguhkan dan meneruskan kehidupan manusia. Misalnya, alam yang rusak dan sampah yang berserakan dimana-mana, berakibat pada sering terjadinya bencana alam yang memakan banyak korban jiwa. Disinilah diperlukan pemahaman dan kesadaran manusia tentang alam tempat tinggalnya.

Masyarakat Jawa begitu menghargai alam yang terbukti dengan adanya ritual bersih desa sebagai bentuk atau perwujudan penghormatan manusia terhadap alam. Menurut Frans Magnis Suseno, manusia dengan alam memiliki hubungan yang terbina erat karena kehidupan manusia bermula dari alam. Hal ini dapat dibuktikan dengan mata pencaharian masyarakat yang erat kaitannya dengan alam, katakan saja seperti petani, pekebun, dan peternak mereka hidup dari alam. Para petani mengolah alam untuk menghasilkan bahan makanan.

Waktu dilaksanakannya juga tidak sembarangan ditentukan, melainkan ada hari – hari tertentu dalam penanggalan kalender Jawa yang merupakan hari sakral untuk melaksanakan ritual bersih desa. Ritual bersih desa tidak selalu sama pada masing-masing daerah atau desa, karena memang leluhur yang membawa tradisi tersebut berbeda pada setiap daerah. Sesajen (persembahan) dan peralatan yang dipergunakan untuk melakukan upacara pun berbeda, menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada di daerah masing-masing dan kebutuhan akan hal tersebut yang memang berbeda-beda.

Ritual bersih desa ini dilaksanakan setiap setahun sekali dan terdiri dari beberapa tahapan, yakni biasanya diawali dengan kegiatan kerja bakti membersihkan lingkungan yang dilaksanakan oleh seluruh warga masyarakat, misalnya memperbaiki jalan atau gang-gang, membersihkan selokan, memperbaiki pos ronda agar terlihat rapi dan bersih. Selain itu, para warga juga membersihkan makam-makam keluarga dan juga makam yang dianggap keramat, terutama makam leluhur, sosok atau tokoh yang pernah menjadi panutan warga masyarakat desa tersebut.

Tujuannya tidak lain adalah untuk membersihkan halangan atau kesusahan yang ada (resik sukerta/sesuker) agar kehidupan seluruh warga menjadi tenang dan tentram. Kemudian dilanjutkan dengan persiapan upacara adat yang dilaksanakan sebagai wujud syukur dan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kesejahteraan dan kesehatan yang diberikan kepada warga desa. Para warga meletakkan sesaji di setiap titik pusat desa, tempat-tempat keramat, tempat-tempat yang berkaitan dengan air (sumur, sungai, mata air), batas-batas desa (utara, selatan, barat, timur), setiap perempatan dan pertigaan di wilayah tersebut.

Kegiatan ini biasanya diiringi dengan acara kirab yaitu arak-arakan atau iringan yang menyertai perjalanan upacara adat menuju tempat yang dianggap keramat dan dibawa pula sesaji yang berasal dari hasil panen warga desa yang dipersembahkan kepada leluhur sebagai simbol kesejahteraan yang mereka peroleh selama setahun.

Adapun sesaji yang menjadi bagian dari kegiatan upacara adat ini yang akan dibagi diperebutkan oleh warga desa yang percaya bahwa sesaji tersebut bisa mendatangkan berkah. Pada umumnya sesaji yang dipergunakan antara lain :

  • Nasi Gurih, sebagai persembahan kepada para leluhur
  • Ingkung, sebagai lambang manusia letika masih bayi dan sebagai lambang kepasrahan kepada Tuhan Yang Maha Esa
  • Jajan Pasar, sebagai lambang agar masyarakat mendapat berkah
  • Pisang Raja, sebagai lambang harapan agar mendapat kemuliaan dalam masa kehidupan
  • Nasi Ambengan, sebagai ungkapan syukur atas rejeki yang telah diberikan Tuhan Yang Maha Esa
  • Jenang, berupa jenang merah putih (lambang bapak dan ibu) dan jenang palang (penolak marabahaya)
  • Tumpeng, berupa tumpeng lanang (lambang Yang Maha Agung) dan tumpeng wadon (lambang penghormatan kepada leluhur) yang ukurannya lebih kecil
  • Ketan Kolak Apem, untuk memetri pada dhanyang yang ada di wilayah desa tersebut

Ritual bersih desa ini biasanya ditutup dengan acara pagelaran kesenian, seperti wayang kulit dengan lakon “Makukuhani”, “Sri Mulih”, atau “Sri Boyong” yang mengisahkan legenda Dewi Sri sebagai lambang kemakmuran agar terus bersemayam di desa tersebut.

Source http://silviaottinugraheni.blogspot.co.id http://silviaottinugraheni.blogspot.co.id/2014/06/makna-bersih-desa.html
Comments
Loading...