budayajawa.id

Legenda Putri Jawi Pasuruan

0 13

Legenda Putri Jawi Pasuruan

Seorang putri cantik yang bernama Putri Jawi. Putri Jawi diutus ayahnya pergi kepasuruan untuk menemui seseorang yang dijodohkan dengannya. Punggawa kerajaan Kebo swayuwo menyiapkan pasukan untuk mengiring Putri Jawi pergi kepasuruan. Sang putri telah pergi dan kebo Suwayuwo merasakan benih-benih cinta kepada sang putri. Di saat itu Kebo Suwayuwo melamun, didalam lamunannya dia bermesraan dengan sang putri. Akhirnya, dia memutuskan untuk menemui sang putri.

Sesampainya di Pasuruan, dia segera menemui sang putri, di situ dia langsung menyatakan cintanya kepada sang putri, tetapi sang putri menolaknya karena mengemban tahta sang ayah untuk menemui seseorang yang akan menjdi suaminya. Sang Kebo Suwayuwo tidak putus asa, dia mengikuti kemana perginya sang putri. Ditengah perjalanannya, gelang sang putri jatuh, tetapi sang putri tidak mengetahuinya. Kebo Suwayuwo yang menemukannya, dan ditempat jatuhnya gelang itu dia menamakannya desa itu menjadi desa Nggelang. Desa Nggelang sekarang terdapat di kecamatan Pandaan dan nama Nggelang tidak berubah sampai sekarang. Lokasi tepatnya desa Nggelang berada di sebelah kiri jalan arah dari Malang ke Surabaya setelah masjid Cenghoo. Disana anda akan menjumpai patung Sapi menyusui anaknya diseberang jalan menuju Desa Nggelang.

Sang putri berjalan kearah barat dan bersembunyi dibalik sebuah pagar, dengan kesaktiannya Kebo Suwayuwo mengetahuinya dan memusnahkan pagar itu. Kebo Suwayuwo member nama desa itu desa Pager. Desa Pager terletak di penghujung jalan perempatan dari Desa Nggelang. Didesa Pager ada perempatan yang jalan tersebut mengarah ke Trawas, Pandaan (perempatan kasri), Gunung Penanggungan, Desa Nggelang. Jika mengambil arah ke Trawas disitu ada jalan setapak yang langsung mengarah ke Candi Jawi. Dusun Pager desa Sumbergedang merupakan dusun kecil namun ramai saat pagi hari, disana sampai sekarang terdapat pasar Krempyeng. Pasar Krempyeng merupakan sebuah pasar yang buka hanya dipagi hari. Jam 10 siang hari pasar itu sudah tidak ada dan menjadi sepi seperti desa pada umumnya.

Ditengah perjalanan sang putri Jawi dia bertemu dengan pasukan Majapahit dan meminta pertolongan kepada mereka, akhirnya mereka mau menolongnya. Terjadilah pertempuran antara prajurit majapahit dengan prajurit Kebo Suwayuwo. Di tempat pertempurantersebut bercecer banyak darah sehingga Kebo Suwayuwo memberi nama Kali Gete. Kali Gete yang berarti sungai darah. Sebuah sungai yang dinamakan kali Gete pada jaman dahulu ternyata berada di dusun Njasem. Dusun Njasem masih termasuk kawasan desa Ngepek kecamatan Gempol. Tepatnya di ujung desa Njasem, perusahaan ES kasri masih ke barat sekitar 50 meter. Sebelum Griya SAKINAH yang biasa dikenal oleh masyarakat perumahan basofi. Sungai besar yang dimanfaatkan oleh warga untuk mencari pasir. Jika anda kesana setiap hari ada saja warga yang mencari pasir. Di pinggir-pinggir jalan terdapat tumpukan pasir ataupun kerikil.

Dalam pertampuran pergelangan tangan Kebo Suwayuwoterluka, dan darahnya terus menetes, tempat itu dinamakan desa Tretes. Desa Tretes sekarang menjadi sebuah kota yang megah dengan banyak hotel dan villa. Desa Tretes ini berada disebelah Air terjun Kakek Bodo dan jalan menuju gunung Welirang. Sampai sekarang nama Tretes tidak berganti nama.

Kebo Suwayuwo terus mencari sang putri, tetapi tangan Kebo Suwayuwo terasa perih, akhirnya dia menamakn desa itu dengan nama Prigen. Prigen tepatnya berada  di sedikit kebawah dari desa Tretes. Nama Prigen masih tetap sampai sekarang namun sekarang menjadi pusat dari beberapa desa disekitarnya. Desa Prigen terdapat setelah Candi Jawi jadi kita kalau mau ke Prigen langsung saja dari candi Jawi melanjutkan perjalanan ke Prigen, Tretes dan menikmati panorama Air terjun Kakek bodo.

Di tengah perjalanannya sang putri, bertemu dengan Ki Ageng Pandak, Sang putri meminta pertolongan kepada dia, lalu Ki Ageng Pandak mau menolongnya, sang putri disuruh masuk kedalam rumah Ki Ageng Pandak. Akhirnya Kebo Suwayuwo bertemu dengan Ki Ageng Pandak. Di situ terjadi pertempuran antara Ki Ageng Pandak dengan Kebo Suwayuwo. Karena pertempuran itu sampai malam, Ki Ageng Pandak memutuskan untuk istirahat, Kebo Suwayuwo pun setuju. Tetapi itu hanyalah akal-akalan Kebo Suwayuwo saja, tiba-tiba dia menusuk Ki Ageng Pandak dari belakang.

Putri Jawi langsung menemui Ki Ageng Pandak Yang terluka setelah Kebo Suwayuwo pergi. Ki Ageng Pandak sebelum meninggal memberikan wasiat kepada sang putri, untuk mau menikah dengan Kebo Suwayuwo tetapi dengan 1 syarat yaitu mencarikan air yang bening untuk Putri karena Kebo Suwayuwo tidak bisa dikalahkan namun bisa dibohongi. Tempat Ki Ageng Pandak meninggal dinamakan Desa Pandak dan sekarang berubah nama menjadi Pandaan. Kalian sudah tahu kan Pandaan? Pandaan menjadi kota yang lumayan besar dibandingkan tempat lain dalam cerita. Pandaan terdapat The Taman Dayu CBD dan golf. Pandaan menjadi pusat perdagangan daerah sekitar.

Sang Putri Jawi melanjutkan perjalanan namun Kebo Suwayuwo tetap mengikutinya. Kebo Suwayuwo menemui sang putri dan ingin meminta jawaban dari sang putri Jawi. Putri Jawi berkata pada Kebo Suwayuwo mau menikah dengan Kebo Suwayuwo tetapi Kebo Suwayuwo harus mencarikan air yang bening untuknya. Mendengar hal itu Kebo Suwayuwo langsung bergegas membuat sumur. Ketika kebo suwayuwo sedang menggali tanah, prajurit majapajit lansung menguburnya di dalam galian tersebut. Dan putri Jawi memberikan nama desa itu dengan nama desa Suwayuwo. Desa Suwayuwo berada di antara Pandaan dan Sukorejo, jalan raya Surabaya-Malang.

Source Legenda Putri Jawi Pasuruan Gurita Merah
Comments
Loading...