budayajawa.id

Legenda Ki Ageng Pemanahan dan Ki Ageng Giring

0 11

Legenda Ki Ageng Pemanahan dan Ki Ageng Giring

Alkisah di masa pemerintahan Kerajaan Pajang tersebutlah dua orang sahabat karib, Ki Ageng Pemanahan dan Ki Ageng Giring. Ki Ageng Giring terkenal sebagai seorang petani pertapa sekaligus penyadab nira kelapa yang hidup di tengah pegunungan selatan. Sedangkan Ki Ageng Pemanahan merupakan seorang panglima wira tamtama  yang mengabdi kepada Sultan Hadiwijoyo di keraton Pajang.

Dalam satu pertapaannya Ki Ageng Giring mendapatkan wisik mengenai sebuah wahyu. Konon wahyu tersebut bernama ‘wahyu gagak emprit’ yang merupakan wahyu kedhaton bumi Jawa. Wahyu gagak emprit berwujud sebuah degan atau kelapa muda. Pada suatu hari tatkala Ki Ageng Giring sedang memanjat pohon kelapa untuk menyadap nira sebagaimana hari-hari biasanya, terjadi sebuah keanehan. Dari sebuah batang kelapa yang telah berbuah dan banyak diantaranya masih berupa degan, terdengar sebuah suara aneh.

Suara tersebut mengatakan barang siapa meminum air degan dari kelapa yang mengeluarkan suara tersebut dalam sekali tenggak, maka anak turunnya akan menjadi raja-raja besar di tanah Jawa. Suara ajaib tersebut seolah menguatkan bisikan batin yang telah diterima sebelumnya oleh Ki Ageng Giring dalam pertapaannya. Akhirnya Ki Ageng memetik degan yang bersuara tersebut dan dengan hati-hati membawanya turun ke bawah. Dengan hati riang dan penuh rasa syukur dibawanya degan tersebut menuju rumahnya di tepian perbukitan.

Degan tersebut kemudian ditaruhnya di atas babragan di salah satu sudut pawon rumahnya. Pada keesokan harinya, dengan pertimbangan agar sekali teguk air degan dapat habis maka Ki Ageng Giring pergi ke ladang dengan maksud nanti setelah bekerja di ladang dan kehausan maka dia akan segera pulang dan menenggak habis air degannya.

Tanpa diduga sebelumya, tiba-tiba datanglah Ki Ageng Pemanahan mampir ingin menengok sahabat karibnya. Setibanya di depan rumah Ki Ageng Giring, Ki Ageng Pemanahan mendapati rumah sahabatnya kosong tanpa penghuni. Ia kemudian menuju ke dapur dan mendapati sebuah kelapa yang ranum di sebuah di meja dapur sahabatnya. Ia berpikir mungkin sahabatnya sengaja menyediakan degan tersebut bagi siapapun tamu yang datang kehausan setelah menempuh perjalanan jauh. Tanpa berpikir panjang degan tersebut kemudian dibobok nya untuk kemudian ditenggaknya sekali tenggak habis.

Tak begitu lama kemudian datanglah Ki Ageng Giring dari ladang. Ia langsung menuju dapur bermaksud meminum degannya. Ternyata didapati degan sudah dibobok orang dan isinya sudah habis. Ia keluar ke belakang rumah dan didapatinya sang sahabat, Ki Ageng Pemanahan sedang bersantai menikmati semilir angin di bawah waru doyong.

“Adi Pemanahan? kapan tiba di gubugku ini Di?” tanyanya.

“Baru saja Kakang, aku sekedar mampir setelah menengok Alas Mentaok atas perintah Kanjeng Sultan” jawab Ki Ageng Pemanahan.

“Dan Kakang, karena perjalanan jauh yang telah ketempuh tadi aku langsung njujug di pawon dan meminum degan yang ada di babragan milik Kakang, aku mohon maaf sebelumnya Kakang” lanjut Pemanahan.

“Ketiwasan Adi!”, sergah Ki Ageng Giring dengan nada lemas dan kecewa berat.

“Sebenarnya Adi, degan tersebut merupakan wahyu yang telah aku upadi dengan tapa brata yang sulit untuk mendapatkan kemuliaan bagi anak cucuku kelak di kemudian hari” ia menegaskan.

Ia kemudian menceritakan mengenai ‘wahyu gagak emprit’ yang diperolehnya berwujud degan tersebut. Dengan besar hati akhirnya ia berkata, “Adi, barangkali ini semua memang sudah menjadi titah Gusti, sehingga aku harus rela anak cucumulah kelak yang akan menjadi penguasa tanah Jawa ini. Namun Adi, apabila engkau tidak berkeberatan izinkan juga anak cucuku setelah keturunan ke tujuh darimu juga ikut nunut mukti.”

Pemanahan kemudian menjawab, “Aduh Kakang beribu ampun aku minta maaf, karena ketidaktahuanku aku menjadi penghalang kemuliaan anak cucumu, tapi barangkali ini memang sudah ginarising pepesthen, namun demikian aku rela dengan permintaan Kakang agar setelah keturunanku yang ke tujuh nanti anak cucu Kakang ikut mukti wibawa. Dan untuk itu Kakang, apabila kita kelak mempunyai anak kuusulkan agar kita berbesanan sebagai jalan tengah”. Akhirnya kedua sahabat tersebut bersepakat.

Kelak di kemudian hari terbuktilah oleh sejarah, Senopati atau Sutawijaya putra Ki Ageng Pemanahan berhasil menjadi raja Mataram pertama setelah keruntuhan Kerajaan Pajang. Dan setelah tujuh generasi, melalui Pangeran Puger yang kemudian bergelar Susuhunan Paku Buwana I, kekuasaan berganti jalur setelah pusat pemerintahan baru berpindah ke Kartasura.

Source Legenda Ki Ageng Pemanahan dan Ki Ageng Giring Sang Nananging Jagad
Comments
Loading...