budayajawa.id

Kisah Perjalanan Hidup Prabu Angling Dharma

0 7

Kisah Perjalanan Hidup Prabu Angling Dharma

Pada saat kecil hingga remaja Angling Dharma sering sekali menolong sesama rekannya. Dia senantiasa meberantas kejahatan walau umur Angling Dharma masih tetap sangatlah muda. Sangat banyak perampok-perampok yang sukses dia kalahkan. Hingga dia sangatlah disegani oleh banyak orang-orang yang sudah dibantunya. Ketika masuk umur remaja, Angling Dharma mulai melatih serta mengasah kemampuannya dalam dunia persilatan serta kemampuan dalam. Dengan dibekali ketrampilan mulai sejak kecil, Angling Dharma sangatlah gampang pelajari beragam jenis jurus yang di ajarkan oleh gurunya, yakni Begawan Maniksutra. Dia juga di ajarkan gurunya untuk berburu yang baik serta tak mengakibatkan kerusakan alam. Cuma berburu kurun waktu 30 menit, Angling Dharma sukses melumpuhkan seekor singa yang besar. Angling Dharma kerap sekali membunuh hewan sesudah dia dapat berburu.

Dalam satu hari, Angling Dharma senantiasa membantai 3 ekor singa. Tahu hal itu, guru memarahi Angling Dharma hingga Angling Dharma tidak ingin berlatih dengan gurunya sendiri. Sepanjang kian lebih 2 th., Begawan Maniksutra sukses kuasai beragam jenis pengetahuan tenaga dalam serta jurus-jurus yang sangatlah hebat. Satu hari Begawan memergoki Angling Dharma tengah berburu serta membawa 2 ekor singa yang diikat tali oleh Angling Dharma. Begawan Maniksutra segera menghambat langkah kaki Angling Dharma yang penuh dengan keringat.

” Dharma! berhenti di situ! ” teriak Begawan Maniksutra.

” Tengah apa anda disini? Menyingkirlah anda dari jalanku, ” kata Angling Dharma.

” Basic anak kurang ajar! bebaskan ke-2 singa itu. Atau anda… “

” Saya apa? Saya tak takut denganmu walaupun saya pernah berguru kepadamu, ” Angling Dharma memotong perbincangan Begawan.

” Memanglah makin besar anda makin kurang ajar. Rasakan i… ” mendadak dipotong Angling Dharma.

” Rasakan apa? Saya tak takut meskipun engkau hebat. ” Angling Dharma tertawa sembari lihat jurus yang dikerjakan oleh Begawan Maniksutra.

” Mana ilmumu wahai guru? ” Angling Dharma ajukan pertanyaan.

” Saksikan seputarmu, ” kata Begawan. Angling Dharma terperanjat lihat tali yang diikatkan ke leher singa mendadak menghilang. Sontak Angling Dharma segera lari menghindar dari kejaran dua ekor singa yang sudah diburunya. Sesudah jauh lari, pada akhirnya Angling Dharma sukses lolos dari kejaran singa. Mendadak Begawan Maniksutra ada di depan Angling Dharma. Angling Dharma segera meminta pada Begawan Maniksutra untuk terima dianya kembali juga sebagai muridnya. Sepanjang Angling Dharma jadi murid Begawan Maniksutra, dia di ajarkan ilmu-ilmu yang dipunyai Begawan Maniksutra supaya dapat melanjutkan pengetahuan untuk beberapa pemuda-pemuda yang berjuang menjaga negeri.

Pada akhirnya Angling Dharma sukses kuasai semua pengetahuan serta jurus-jurus yang di ajarkan oleh Begawan Maniksutra. Lalu dengan tekat serta keberanian Angling Dharma, dia mau bangun suatu negeri baru lantaran tahu histori negeri kakeknya yang dahulu kerap berselisih dengan kerajaan lain. Angling Dharma mau menciptrakan suatu negeri yang damai serta makmur untuk rakyatnya.

Sesudah Angling Dharma masuk saat dewasa, Angling Dharma punya niat membawa ibunya geser ke negeri yang sudah dibangunnya sendiri. Negeri itu dinamakan Malawapati. Disana, Angling Dharma memimpin negerinya sendiri serta mengatur negerinya sendiri dengan berikan gelar Prabu Angling Dharma atau Prabu Ajidharma oleh dianya. Sesudah kerajaan Yawastina tahu kemakmuran yang berlangsung pada kerajaan Malawapati, Jaya Amijaya juga sebagai raja Yawastina memberi seperempat kekuasaannya pada Angling Dharma untuk punya maksud memakmurkan rakyat barunya.

Meskipun dia juga sebagai raja, dia terus tidak ingin meninggalkan kesukaannya untuk berburu. Angling Dharma suka sekali berburu saat malam hari lantaran saat malam hari hewan-hewan sangatlah gampang untuk diburu. Ketika dia berburu, ia temukan seseorang gadis yang bersembunyi dari kejaran harimau. Lantas lalu dia membawa gadis itu menuju ke tempat yang aman dari jangkauan harimau. Sepanjang perjalanan mereka sama-sama berteman serta sama-sama bercerita kegemaran mereka. Gadis itu nyatanya bernama Setyawati yang ayahnya adalah seseorang pertapa sakti bernama Resi Maniksutra. Angling Dharma lalu mengantarkannya pulang ke rumah. lantaran Angling Dharma terasa jatuh cinta pada Setyawati dalam pandangan pertaa, Angling Dharma punya niat untuk jadikan Setyawati juga sebagai pendamping hidupnya.

Serta pada akhirnya Angling Dharma juga melamar Setyawati juga sebagai istrinya. Tetapi ada sedikit masalah waktu bakal memperoleh Setyawati. Kakak Setyawati yang bernama Batikmadrim sudah bersumpah bahwa barangsiapa yang mau menikah dengan adiknya mesti bisa menaklukkannya. Tahu sumpah itu, Angling Dharma membulatkan tekad untuk melawan Batikmadrim untuk memperoleh Setyawati. Jadi terjadi kompetisi pada kakak Setyawati dengan Angling Dharma yang dimenangkan oleh Angling Dharma. Kemudian, Setyawati jadi permaisuri Angling Dharma serta sedang Batikmadrim diangkat juga sebagai patih di Kerajaan Malawapati.

Di lain hari, Angling Dharma memergoki istri Nagaraja yang bernama Nagagini tengah berselingkuh dengan seekor ular tampar (Nagaraja adalah seseorang guru yang tinggal di kerajaan Yawastina). Hal semacam itu di ketahui Angling Dharma waktu Angling Dharma tengah berburu saat malam hari. Angling Dharma juga membunuh ular jantan itu untuk kebaikan. Sedang Nagagini pulang dalam situasi terluka. Nagagini lalu membuat suatu laporan palsu pada suaminya agar membalas dendam pada Angling Dharma yang sudah membunuh rekannya. Nagaraja juga menyusup ke istana Malawapati. Tetapi waktu menyusup ke istana, Nagaraja melihat Angling Dharma tengah mengulas perselingkuhan Nagagini pada Setyawati. Nagaraja juga sadar bahwa istrinya yang salah. Nagaraja juga nampak serta mohon maaf pada Angling Dharma lantaran dia nyaris saja membunuh Angling Dharma.

Ketika itu juga Nagaraja mengaku bahwa dianya bakal wafat lantaran dia sudah masuk saat moksa (Moksa yaitu saat di mana arwah seorang bakal pergi dari raganya serta bereinkarnasi menuju ke manusia yang bakal dilahirkan). Lalu Nagaraja mewariskan pengetahuan kesaktiannya berbentuk Aji Gineng pada Angling Dharma. Pengetahuan itu mesti dijaga dengan baik serta penuh rahasia. Sesudah mewariskan pengetahuan itu, Nagaraja juga wafat. Jenazah Nagaraja lalu dibawa ke rumah istrinya oleh Angling Dharma serta Angling Dharma menuturkan pada Nagagini apa yang sesungguhnya berlangsung saat sebelum suaminya wafat.

Sejak Angling Dharma mewarisi pengetahuan baru dari Nagaraja, dia bisa tahu bhs binatang. Pernah ia tertawa melihat pembicaraan sepasang cicak. Hal semacam itu bikin Setyawati tersinggung lantaran dianya tak pernah di perhatikan oleh suaminya sejak dia memlihara banyak hewan dari hasil perburuannya. Angling Dharma menampik berterus jelas lantaran terlanjur berjanji bakal merahasiakan Aji Gineng. Hal semacam itu bikin Setyawati jadi tambah geram. Setyawati juga pilih bunuh diri dalam api lantaran terasa dianya tak dihargai lagi oleh Angling Dharma. Angling Dharma berjanji tambah baik temani Setyawati mati, dari pada mesti mengungkapkan rahasia ilmunya. Saat upacara pembakaran diri di gelar, Angling Dharma pernah mendengar pembicaraan sepasang kambing. Dari pembicaraan itu Angling Dharma sadar bila keputusannya temani Setyawati mati yaitu ketentuan yg tidak pas serta dapat merugikan rakyat banyak.

Sesudah kematian istrinya yang tragis, Angling Dharma melakukan hukuman buang untuk sekian waktu juga sebagai penebus dosa. Hukuman itu meruupakan keinginan dari rakyatnya sendiri. Lantaran Angling Dharma sudah memungkiri janji setia sehidup semati dengan istrinya sendiri. Meskipun Angling Dharma dihukum, dia terus tak lengser dari kursi rajanya. Lalu Angling Dharma menitipkan istananya pada Batikmadrim sepanjang dia melakukan hukuman.

Dalam perjalanan, Angling Dharma bersua tiga orang putri yang bernama Widata, Widati, serta Widaningsih. Ketiganya jatuh cinta pada Angling Dharma serta menahannya tidak untuk pergi meninggalkan mereka. Sepanjang mereka sama-sama mengetahui, Angling Dharma meminta tolong pada tiga putri itu untuk memberi suatu rumah untuk dia. Pada akhirnya ketiga orang putri itu memberi rumah untuk Angling Dharma. Tetapi sejak tinggal berbarengan dengan tiga orang putri, Angling Dharma terasa ada yang ganjil waktu putri-putri kerap keluar saat malam hari. Lalu Angling Dharma menyamar juga sebagai sosok burung gagak untuk menyelidiki aktivitas rahasia ketiga putri itu. Nyatanya tiap-tiap malam mereka senantiasa berpesta makan daging manusia. Pada akhirnya keraguan Angling Dharma telah dapat dibuktikan. Tiga orang putri tadi adalah penyihir yang sukai memangsa manusia juga sebagai makanannya.

Waktu Angling Dharma ketahuan tengah mengintip aktivitas mereka yang tengah makan daging manusia, Angling Dharma juga berselisih dengan mereka. Tetapi kemampuan Angling Dharma masih tetap bisa ditaklukkan oleh 3 orang penyihir. Pada akhirnya ketiga putri tadi mengutuk Angling Dharma jadi seekor belibis putih. Belibis putih itu terbang hingga ke lokasi Kerajaan Bojanagara. Disana, ia dipelihara seseorang pemuda desa bernama Jaka Geduk. Jaka Gduk terperanjat waktu dia tahu belibis putih dapat berbucara kepadanya.

Ketika itu, Darmawangsa yang juga sebagai raja Bojanagara tengah bingung hadapi pengadilan yang dimana kasusnya adalah seseorang wanita bernama Bermani memiliki dua orang suami yang berwujud sama serta bernama sama, yakni Bermana. Lalu pemuda desa tadi datang sembari membawa belibis putih untuk menolong raja dalam mengadili Bermani. Atas panduan belibis putih, Jaka Geduk sukses membongkar Bermana palsu kembali pada bentuk aslinya, yakni Jin Wiratsangka. Atas kesuksesannya itu, Jaka Geduk diangkat juga sebagai hakim negara, sedang belibis putih disuruh juga sebagai peliharaan putri raja Bojanagara yang bernama Ambarwati.

Source Kisah Perjalanan Hidup Prabu Angling Dharma Dunia Pusaka Gallery Keris

Leave A Reply

Your email address will not be published.