budayajawa.id

Kesenian “Kidungan” Banyumas

0 8

Nembang merupakan kata bentukan dari kata dasar tembang. Nembang adalah kata kerja sedangkan tembang adalah kata benda. Secara harafiyah nembang dapat diartikan sebagai melakukan atau melagukan tembang. Adapun tembang merupakan istilah konseptual yang secara khusus akan dijabarkan sebagai berikut.

Lain halnya dengan macapat banyumasan, dimana tembang-tembang macapat yang ada didalam macapat banyumasan menggunakan logat banyumasan, padahal Logat Banyumasan ditengarai sebagai logat bahasa jawa yang tertua. Hal ini ditandai dengan beberapa kata dalam Bahasa kawi/sanksekerta yang merupakan nenek moyang dari bahasa jawa yang masih dipakai dalam logat Banyumasan seperti kata rika (jw = kowé, ind = kamu), juga kata inyong yang berasal dari ingong serta pengucapan vokal a yang utuh tidak seperti å (baca a tipis / miring) yang menjadi pengucapan dialek Banyumasan yang masih berbau sanksekerta. Tembang di Banyumasan sering dikenal dengan nama kidung.

Kidungan merupakan tembang yang dilakukan oleh seorang atau lebih dengan tujuan untuk berdoa untuk memohon keselamatan kepada Tuhan. Biasanya tembang diambil dari serat Kidungan yang konon dibuat oleh para wali pada awal perkembangan Islam di Jawa. Kidungan pernah berkembang di hampir seluruh wilayah kultur Banyumas.

Kidungan : tembang yang dilakukan oleh seorang atau lebih dengan tujuan untuk berdoa untuk memohon keselamatan kepada Tuhan. Biasanya tembang diambil dari serat Kidungan yang konon dibuat oleh para wali pada awal perkembangan Islam di Jawa. Kidungan pernah berkembang di hampir seluruh wilayah kultur Banyumas. Penggalan Kidung :

Ana kidung angidung ing wengi, bebaratan duk amrem winaca, Sang Hyang Guru pangadeke, lumaku Sang Hyang Ayu, alembehan Asmara-ening, ngadeg pangawak teja, kang angidung iku, yen kinarya angawula, myang lulungan gusti geting dadi asih, sato setan sumimpang.

Source Seni Banyumas Kidung

Leave A Reply

Your email address will not be published.