budayajawa.id

“Kejawen Dalam Kebudayaan Jawa”

0 12

Kejawen adalah ajaran spiritual asli leluhur tanah Jawa, yang belum terkena pengaruh budaya luar. Artinya sebelum budaya Hindu dan Budha masuk ke tanah Jawa, para leluhur tanah Jawa sudah mempunyai peradaban budaya yang tinggi. Kenapa demikian, karena terbukti adanya beberapa cara pandang spiritual Kejawen yang tidak ada di budaya Hindu. Adapun yang kita warisi sekarang adalah Kejawen yang telah melalui proses Sinkretisme budaya, hal ini menunjukkan betapa tolerannya para leluhur tanah Jawa dalam menyikapi setiap budaya yang masuk ke tanah Jawa.

Sekilas Paham Kejawen
Agama Kejawen sebenarnya adalah nama sebuah kelompok kepercayaan-kepercayaan yang mirip satu sama lain dan bukan sebuah agama terorganisir seperti agama Islam atau agama Kristen. Ciri khas utama agama Kejawen adalah adanya perpaduan antara Animisme, agama Hindu dan Budha. Namun pengaruh agama Islam dan juga Kristen nampak pula. Kepercayaan ini merupakan sebuah kepercayaan Sinkretisme. Seorang ahli Antropologi Amerika Serikat, Clifford Geertz, pernah menulis tentang agama ini dalam bukunya yang ternama The Religion of Java.
Olehnya Kejawen disebut “Agami Jawi”. Kejawen juga merupakan atau menunjuk pada sebuah etika dan sebuah gaya hidup yang di ilhami oleh pemikiran Jawa. Sehingga ketika sebagian mengungkapkan kejawaan mereka dalam praktik beragama Islam, misalnya seperti dalam Mistisme, pada hakekatnya hal itu adalah suatu karakteristik keanekaragaman religius. Meskipun demikian mereka tetap orang Jawa yang membicarakan kehidupan dalam prespektif Mitologi Wayang, atau menafsirkan shalat lima waktu sebagai pertemuan pribadi dengan Tuhan.
Image result for kejawen dalam budaya jawa
Banyak dari mereka menghormati Slametan (hajatan/berdo’a) sebagai mekanisme integrasi sosial yang penting, atau sangat memuliakan kewajiban menziarahi makam orang tuanya dan leluhur mereka. Lebih dari itu dalam pengertian etika, mereka akan menempa diri sama seriusnya dengan orang Jawa yang mana saja untuk menjadi iklas, yakni ketulusan niat. Ini ada kaitannya dengan pemahaman Jawa untuk Sepi Ing Pamrih, yakni tidak diarahkan oleh tujuan-tujuan egoistik, menempatkan kepetingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri. Dalam mengekpresikan budayanya, manusia Jawa amat sangat menghormati pola hubungan yang seimbang, baik dilakukan pada sesama individu, dilakukan pada lingkungan alam dan dilakukan pada Tuhan yang dilambangkan sebagai pusat segala kehidupan di dunia.
Masing-masing pola perilaku yang ditunjukkan adalah pola perilaku yang mengutakan keseimbangan, sehingga apabila terjadi sesuatu, seperti terganggu kelangsungan kehidupan manusia di dunia, dianggap sebagai adanya gangguan keseimbangan. Dalam pada itu manusia harus dengan segera memperbaiki ganguan itu, sehingga keseimbangan kembali akan dapat dirasakan. Terutama hubungan manusia dengan Tuhan, di dalam budaya Jawa diekspresikan di dalam kehidupan seorang individu dengan orang tua. Ini dilakukan karena Tuhan sebagai pusat dari segala kehidupan tidak dapat diraba, tidak dapat dilihat dan hanya dapat dirasakan. Oleh karena penghormatan terhadap Tuhan dilakukan dengan bentuk-bentuk perlambang yang memberikan makna pada munculnya kehidupan manusia di dunia, yaitu orang tua, yang harus dihormati melalui pola Ngawula, Ngabekti dan Ngluhurake tanpa batas waktu.
Kejawen dan Pengaruhnya

Pengaruh kejawen pada masyarakat jawa sangat kental sebab tradisi dan budaya jawa penuh dengan mistik, yang percaya kepada pada para leluhur sehingga sering memberi persembahan berupa sesaji, dan lain-lain. Tradisi ini telah berlangsung sejak dahulu dan telah mengakar bahkan mengikat serta menjadi tabu jika tidak dilakukan menurut kepercayaan orang jawa. Orang jawa pada zaman dahulu tidak berbeda jauh dengan orang nusantara pada umumnya yaitu bersikap permisif terhadap setiap kepercayaan atau agama baru yang masuk ke wilayah nusantara. Hal ini menyebabkan percampuran dua entitas yaitu agama dan tradisi berasimilasi sehingga memunculkan budaya Islam yang sinkretis sebab telah terjadi percampuran antara Islam dan tradisi lokal jawa yang disebut kejawen.

Dalam trilogi Geertz, kejawen lebih mirip kaum abangan yang penuh dengan sinkretisme. Menurut Dr. Sutiyono, sinkretisme berasal dari katasyin (dalam bahasa Arab) dan kretiozein, yang berarti mencampuradukkan unsure-unsur yang saling bertentangan. Sinkretisme juga juga ditafsirkan berasal dari bahasa Inggris, syncretizmyang diterjemahkan campuran, gabungan, paduan, dan kesatuan. Sinkretisme merupakan percampuran dua tradisi atau lebih, dan terjadi lantaran masyarakat mengadopsi suatu kepercayaan baru dan berusaha untuk tidak terjadi benturan dengan gagasan dan praktik budaya lama. Terjadinya percampuran tersebut biasanya melibatkan sejumlah perubahan pada tradisi-tradisi yang diikutsertakan. Dalam hal ini, sinkretisme dipahami sebagai percampuran antara Islam dengan unsur-unsur tradisi lokal.

Image result for kejawen dalam budaya jawa

 

Islam di Jawa bercorak sinkretis yang disebut kejawen tadi, dalam arti terdapat terdapat perpaduan atau lebih budaya, misalnya budaya Hindu, Budha, dan animisme. Sebagaimana dinyatakan Geertz, Agama Jawa ini tampak dari luar adalah Islam, tetapi setelah dilihat secara mendalam kenyataannya adalah agama sinkretis. Sepertinya tidak terjadi apa-apa bahwa sinkretisme itu menciptakan persatuan sebagai tujuan utama, akibatnya dogma-dogma atau ajaran-ajaran harus dikurbankan secara lahiriah, tetapi di dalamnya dogma-dogma atau ajaran-ajaran masih dipergunakan. Dalam Islam sinkretis terlihat, namanya Islam tetapi di dalamnya terdapat ajaran Hindu, Budha, dan animisme.

Mulder (1992) meminjam Concise Oxford Dictionary untuk mendefinisikan sinkretisme, yakni usaha-usaha untuk menghilangkan perbedaan-perbedaan dan menciptakan persatuan antara sekte-sekte. Dalam Islam sinkretis, pernyataan Mulder ini ditunjukan dengan penghilangan Hindu, Buddha, dan animisme secara lahiriah untuk dileburkan menjadi satu bernama Islam. Hal ini tidak menjadi masalah, karena itu hanya sifat lahiriahnya saja. Yang lebih pokok adalah kandungan di dalam Islam sinkretis berupa ajaran Hindu, Buddha, dan animisme masih setia dilakukan secara empiris oleh sebagian masyarakat Jawa. Jika diperhatikan, proses sinkretisasi yang berlangsung antara budaya Jawa dan budaya Islam dapat berjalan dengan mulus karena berada pada tatanan simbolis. Dalam artian, islamisasi Jawa tidak dilakukan pada tataran yang kasar (wadah, kulit luar), tetapi diarahkan pada ketulusan (isi, inti).

Perlu kita ingat kembali bahwa pada awalnya Islam yang berkembang di Indonesia adalah Islam mistik (sufi) yang memiliki salah satu karakter moderat dan akomodatif terhadap kebudayaan dan kepercayaan lokal (setempat). Di tangan para da’i yang berhaluan sufi, kepercayaan itu dibiarkan eksis seperti apa adanya. Salah satu buktinya, para dai dari kalangan sufi yang diperankan walisongo memiliki rasa toleran terhadap kepercayaan orang lain, yaitu melarang umat Islam untuk menyembelih sapi dengan maksud menghormati umat Hindu yang menganggap binatang itu suci (keramat). Sikap toleran dan akomodatif terhadap budaya lokal memang di satu sisi dianggap membawa dampak negatif. Pasalnya, dengan sikap seperti akan mengakibatkan pencampuradukan antara Islam dan budaya lokal, sehingga untuk membedakan mana yang benar-benar ajaran Islam dan mana yang berasal dari tradisi masyarakat. Tetapi di pihak lain juga berdampak positif. Artinya, ajaran yang disinkretiskan tadi telah menjadi jembatan yang memudahkan masyarakat Jawa dalam menerima Islam sebagai agama mereka yang baru. Selain itu, sikap ini juga memudahkan pihak Islam, terutama kalangan pesantren, untuk mengenal dan memahami pemikiran budaya Jawa, sehingga memudahkan mereka dalam mengajarkan dan menyiarkan Islam kepada masyarakat Jawa. Paling tidak, hal ini tercermin dalam beragam kesenian Jawa yang bernafaskan Islam.

Source "Kejawen Dalam Kebudayaan Jawa" "Kejawen Dalam Kebudayaan Jawa" "Kejawen Dalam Kebudayaan Jawa"

Leave A Reply

Your email address will not be published.