budayajawa.id

Kakawin Arjunawijaya

0 23

Kakawin Arjunawijaya

Kakawin Arjunawijaya adalah salah satu naskah klasik berbahasa Jawa Kuno yang digubah oleh Mpu Tantular di mana isinya menguraikan peperangan antara Prabhu Arjuna Sahasrabhahu melawan pendeta Parasu Rama, berdasarkan Uttara Kanda, bagian terakhir Ramayana (Sansekerta). Cerita ini sangat populer terbukti dari adanya pelbagai naskah dalam bahasa Bali dan Jawa Kuno. Versinya dalam bahasa Jawa Baru dalam bentuk tembang, diusahakan oleh Raden Ngabehi Sindusastra dari Surakarta, diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1930. Kakawin Arjunawijaya dikenal dengan Lampahan Arjuna Sasrabahu, banyak dipertunjukkan dalam pergelaran wayang, baik wayang kulitmaupun wayang orang.

Sinopsis

Diceritakan tentang Raja Raksasa Mali Malyawan dikalahkan oleh Dewa Wisnu sehingga di melarikan diri dari kerajaannya yang bernama Lengka. Untuk mengisi kekosongan kerajaan maka Waiúrawana, putra Wiúrawa menempati kerajaan itu. Raksasa Sumali yang merupakan keluarga Mali Malyawan sangat tertarik dengan kepandaian dan kesaktian Waiúrawana dan ingin memiliki keturunan yang serupa agar dapat membalas dendam kepada Dewa Wiûóu. Kekasi berhasil memenuhi harapan ayahnya sehingga dari perkawinannya dengan Wiúrawa lahirlah empat orang anak yaitu: Daúamukha (yang berkepala sepuluh), Kumbhakaróa, Wibhìûana dan Úùrpaóakhà. Ketiga anak laki laki Wiúrawa itu melakukan tapa brata yang keras di Gunung Gokaróa.

Daúamukha bertapa dengan memenggal kepalanya satu persatu dan melemparkan ke api korban, sehingga ia mendapat anugrah kesaktian dari Dewa Brahma yaitu ia tidak tertewaskan oleh seorang Dewa maupun Raksasa. Setelah itu ia dipulihkan kembali seperti semula. Setelah mendapat anugrah dari Dewa Brahma, dengan kesaktian yang dimiikinya Daúamukha selalu berbuat jahat dan meresahkan di dunia. Waiúrawana, yang merupakan kakak tirinya merasa prihatin dan menasehati adiknya. Ia mengutus Gomuka untuk membawa surat yang isinya berupa nasihat agar berhenti berbuat kejahatan di dunia. Daúamukha sangat marah atas nasihat itu dan melampiaskan kemarahannya dengan memenggal kepala Gomuka. Lalu ia dikutuk oleh Gomuka, bahwa istananya kelak akan dibakar oleh seorang utusan.

Daúamukha kemudian menyerang Kerajaan Lengka di mana Waiúrawana (Daneúwara) menjadi raja. Perang yang hebat terjadi. Dengan kesaktinnya Daúamukha mengenakan wujud yang tak kelihatan sehingga ia dapat menyerang dan memukul Waiúrawana bertubi-tubi. Waiúrawana tidak dapat melakukan perlawanan. Ia disiksa oleh Daúamukha sampai berlumuran darah. Para Dewa yang melihat tidak berani menolong. Pada saat itulah patih Daúamukha yang bernama Prahasta merasa iba melihat keadaan Waiúrawana, sehingga ia memohon agar jangan membunuh kakak tirinya demi rasa hormatnya terhadap ayahnya Wiúrawa. Kesempatan itu digunakan oleh pengikut Waiúrawana untuk mengamankan dia. Kerajaan Lengka akhirnya dirampas oleh Daúamukha. Daúamukha tidak berhenti sampai disana ia terus menyebarkan kehancuran di mana-mana.

Akhirnya sampailah dia di gunung kailasa, tempat Dewa Siwa dan Dewi Uma bercengrama. Nandi, penjaga gunung itu mengingatkan Daúamukha bahwa para dewapun tidak berani datang ke sana serta mengganggu Dewa Siwa. Daúamukha tidak menghiraukan peringatan itu, malahan ia menghina wajah Nandi úwara, yang mirip dengan seekor kera. Nandi marah sehingga ia mengutuk Daúamukha bahwa kelak para kera akan menghancurkan keratonnya dan membunuh sanak saudaranya. Dalam kemarahannya Daúamukha mengangkat dan mengguncangkan gunung kian kemari. Dewa Siwa lau menekan puncaknya sehingga Daúamukha terjepit. Daúamukha berteriak keras kesakitan sehingga teriakannya mengguncangkan seluruh dunia. Oleh karena itulah ia disebut Rahwana (Ràwaóa) yang berarti teriakan.

Daúamukha (Rahwana) melanjutkan perjalanannya, ia kemudian bertemu dengan seorang pertapa wanita yang cantik bernama Dewì Wedawatì. Dewì Wedawatì sudah bertekad tidak akan menikah jika tidak dengan awatara Wisnu. Rahwana merayu pertapa ini dan menyombongkan diri bahwa ia lebih unggul dari Dewa Wisnu. Ketika Ràwaóa terus merayu agar mau menjadi permaisurinya, Dewì Wedawatì marah lalu memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Setelah menyembah dihadapan api pemujaan ia menceburkan dirinya ke dalam api tersebut. Dewì Wedawatì mengutuk Ràwaóa bahwa kelak dalam penjelmaan berikutnya ia akan menjadi penyebab kematian Ràwaóa ditangan Dewa Wisnu.

Di medan perang Perjalanan Ràwaóa untuk mengusai dunia terus berlanjut. Dia mendatangi Raja Màruta. Raja Màruta yang sedang melaksanakan yajña tidak melakukan perlawanan sehingga ia dianggap tunduk oleh Rahwana. Kemudian Rahwana menyerang kerajaan Ayodhya. Raja Ayodhya yaitu Banaputra mengadakan perlawanann dengan sengit, namun akhirnya ia wafat oleh Rahwana. Sebelum wafat ia mengutuk Ràwaóa bahwa kelak keturunan raja Ayodhya yang merupakan penjelmaan Dewa Wisnu akan membunuh Rahwana.

Diceritakan sekarang seorang raja bernama Arjuna Úahasrabàhu, raja dari kerajaan Mahispati sedang bercengkrama dengan permaisurinya Dewì Citrawatì di Sungai Narmada. Sang raja bermaksud menyenangkan permaisurinya, ia mengubah wujudnya menjadi bertangan seribu, kemudin ia meneentangkan badannya disungai tersebut sehingga sungai menjadi dangkal. Ketika itu di hulu sungai, Rahwana sedang mengadakan pemujaan di hadapan sebuah Lingga.

Tiba-tiba air naik dan menggenangi tempatnya memuja. Setelah diselidiki ia akhirnya tahu penyebabnya yaitu Raja Arjuna Úahasrabàhu. Rahwana marah dan memerangi kerajaan Mahispati. Dengan kecerdikannya Arjuna Sahasrabàhu berhasil membuat Ràwaóa pinsan dan mengikat tubuh Ràwaóa dengan rantai baja dan dimasukkan ke krangkeng besi. Ketika Arjuna Úahasrabahu kembali dari medan perang ia menemukan permaisurinya telah wafat. Hal ini terjadi karena ada seorang utusan yang mengatakan bahwa suaminya telah wafat di medan perang.

Dewì Citrawatì mengakhiri hidupnya untuk menunjukkan kesetiaan pada suami (patibrata). Mendapati permaisurinya sudah wafat Arjuna Úahasrabàhu merasa sedih dan bermaksud bunuh diri. Tiba- tiba muncul perwujudan dewi sungai Narmada, membawa air mujarab sehingga sang permaisuri dapat dihidupkan kembali. Datanglah Rûi Pulastya kakek Rahwana, memohon agar Arjuna Úahasrabàhu membebaskan dan mengampuni cucunya Rahwana. Permohonan sang rûi dikabulkn imbalannya semua prajurit yang telah tewas di medan perang dihidupkan kembali.

Source id.m.wikipedia.org https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kakawin_Arjunawijaya
Comments
Loading...